Imam Al Ghozali & Abdul Qodir Al Jaelani

13 April 2005

Abu Hamid Al Ghozali

Imam Al Ghozali

Dilahirkan di Thusi pada tahun 450 H. Beliau adalah seorang alim yang banyak menghabiskan masa hidupnya untuk menuntut ilmu dan mendakwahkan islam, tetapi sangat disayangkan dalam perjalanannya dalam menuntut ilmu beliau banyak terpengaruh ilmu-ilmu filsafat dan ilmu-ilmu kalam. Beliau pernah bercerita tentang dirinya bahwa “bekal pengetahuan saya tentang hadits sangat sedikit”. Ibnu Taimiyah dalam hal ini berkomentar Abu Hamid (Al Ghozali) kurang begitu pengalaman dengan atsar-atsar Rasulullah dan orang-orang salaf (para sahabat) sebagaimana orang-orang yang menguasai dalam masalah tersebut, yaitu orang-orang yang dapat membedakan sohih dan dhoifnya sebuah hadits. Oleh karena itu beliau banyak menyebutkan dalam kitab-kitabnya hadits-hadits yang lemah bahkan hadits yang dusta. Seandainya beliau mengetahui tentang ilmu hadits niscaya beliau tidak akan menyebutkannya.


Salah satu dari karya terbesar Al Ghozali adalah kitab Ihya Ulumiddin yang terkenal di kalangan masyarakat umum dan golongan teterntu. Ada sebagian kelompok mengambilnya kemudian mencela isinya secara mutlak dan sebagian yang lain mengambilnya kemudian memuji secara berlebihan. Kedua kelompok ini kurang adil dalam memberikan penilaian. Adapun sikap yang harus diambil adalah sikap Inshof (pertengahan) adalah menyebutkan kebaikan-kebaikannya disertai dengan menyebutkan kesalahannya.

Syaikhul Islam berkomentar tentang kitab Al Ihya’ ini :

“adapun apa yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ ada beberapa isinya yang menyesatkan seperti pada masalah-masalah sombong, ujub, riya’ dan dengki kebanyakan isi dari kitab Ihya’ tersebut menukil dari Harits Al Muhasibi dalam kitab Al Ri’ayah. Dari ucapan-ucapan ini ada yang bisa diterima atau sebaliknya ditolak serta ada juga yang di dalamnya pertentangan-pertentangan”

Di kitab Al Ihya’ sendiri ada faedah-faedah yang banyak tetapi tidak sedikit materi-materi yang tercela dan merusak berupa ucapan-ucapan filsafat yang berkenaan dengan tauhid, kenabian, bahkan urusan akhirat. Telah dinukilkan dari biografi beliau bahwa di akhir hayatnya beliau mendalami hadits dan belajar bersama orang yang menguasai ilmu hadits serta mendalami kitab sohih Bukhori Muslim. Seandainya beliau masih hidup tentunya sejak saat itu lebih mengutamkan ilmu hadits. Berkata Shidiq Hasan K. “dikisahkan oleh Ali Al Qori bahwa ketika Al Ghozali meninggal kitab bukhori sedang berada di atas dadanya”.

Demikian biografi singkat Imam Al Ghozali yang banyak membawa pemahaman filsafat walaupun di akhir hayatnya kembali ke pahaman sahabat (salaf), tetapi sayang buku filsafatnya sudah terlanjur tersebar di seluruh dunia dan tidak ada yang mampu mencegahnya.

Abdul Qadir Al-Jailani

Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.

Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari’atnya dan ini sangat diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Allah melarang makhluknya berdo’a kepada selainNya. Allah berfirman, yang artinya:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin:18)

Kelahirannya
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy.

Pendidikannya
Pada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya. Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Pemahamannya
Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau. Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan lainnya.

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Allah) di arah atas, berada di atas ‘ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. “Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Allah berada di atas ‘ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah di atas ‘Arsy.

Dakwahnya
Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.

Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka diadakan perluasan.

Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al Mughni.

Wafatnya
Beliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

taken from www.al-madina.s5.com.

60 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://fendra.blogsome.com/2005/04/13/imam-al-ghozali-abdul-qodir-al-jaelani/trackback/

  1. Al-Ghozali tidak hanya pintar dalam ilmu filsafat, Beliau juga ahli dalam matematik, musik, dan berbagai disiplin ilmu. seperti ulama-ulama zaman keemasan islam dahulu, Ibnu sina, ibnu rusdy, Al-gorarimta, Al-ghozali pun berusaha menyeimbangkan Dunia dan Akhirat. sekarang sangat susah mencari Ulama-ulama sekaliber mereka. adapun ada kesalahan pemahaman dari kitab Ihya’ ‘ulumuddin merupakan kurang pahamnya mereka akan Filosofi yang dikemukakan Al-Gozali. sebagai tambahan, Kitab2 dari Al-Ghozali dan ulama2 Islam lainnya sekarang merupakan Kitab2 Rujukan Berbagai disiplin ilmu di berbagai UNIversitas Amerika, Australia, Jerman, dan UN terkenal lainya.

    Btw, thank’s atas artikelnya. :D

    Comment by cypiber — 14 May 2005 @ 13:37

  2. Al-Ghozali tidak hanya pintar dalam ilmu filsafat tapi juga ilmu fiqh dll.bahkan dia juga memahami tentang tasawuf.jika ada sebagian yang mengatakan bahwa karanganya menyesatkan ini bisa disinyalir bahwa yang membaca kurang begitu memahami,atau juga karena beda keyakinan ibarat ilmu yang dikemukakan einstein jika tidak ada orang yang bisa mengikuti jalan pikiran orang yang jenius seseorang pasti menganggap bahwa pikiran orang yang jenius tadi gila/sesat.tapi perlu diketahui bahwasanya Imam Abu Hamid Al-Ghozali adalah ulama yang ditunjuk oleh Allah,dan dia juga manusia yang punya banyak kekurangan.Dan barang siapa yang mencela ulama….anda sekalian lebih tahu.Terkadang suatu bahasa yang ilmiah itu juga sulit tuk dipahami!Walaupun tidak baik juga menilainya terlalu berlebihan apalagi kalau melebihi Baginda Rasull.Dan saya rasa juga karya Imam Ghozali tersebut berdasarkan hadist2 pilihan dan berpedoman juga pada mahzab Asy-Syafi’i,jadi kemungkinan kurangnya pemahaman,Perlu diingat juga bahwa setiap manusia itu dikaruniai pendapat,dimana setiap pendapat belum tentu sama,dan kebenaran suatu pendapat ditentukan oleh alasanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya,lebih baik kita jangan mengoreksi orang saja ahhhhh!kita itu udah banyak kekurangan dan dosa lho tapi gak pernah merasa,tapi kalau mengoreksi orang dan menyalahkanya pinterrrrrrr bangetttt padahal gak ada yang ngajarin yaa!herannnn!maaf kalau salah atau kurang dalam berpendapat,maaf juga kalau terkesan menggurui.btw artikelnya lebih diperbanyak lagi donk!karya2 Ulama2 besar kan banyak!

    Comment by cloud — 25 May 2005 @ 19:48

  3. memang begitu cara kita berhubungan dengan Tuhan, harus mencari wasilah/metodologi/channel/frekwensi ,sbgmn yg diminta oleh Tuhan didalam firmannya surat almaidah 35 dan surat an nur 35. You must find it !!!

    Comment by dedy putrayadi sh — 5 June 2005 @ 11:18

  4. it’s good, I like it.

    Comment by agus irsyad — 10 July 2005 @ 06:44

  5. Hati-hati ketika mengatakan “SESAT”, “KELIRU” dsb.
    ada yang terkadang kita lupa, bahwa apa yang menurut kita salah ternyata “benar” dihadapan Allah, dan satu hal yang sangat penting untuk diingat, bahwa kita “tahu” soal agama dan per-ibadahan-nya hanya berdasarkan “katanya”, “kata orang”, “kata ustadz”, “kata Ulama”, “kata Imam ANU”, sedangkan kebenaran yang hakiki ada dalam genggaman YANG MAHA ABADI, ALLAH SWT - maaf
    Adalah bijak ketika kita bicara perihal agama, hendaknya memisahkan antara PERATURAN TUHAN dan ILMU TUHAN, karena ternyata kita terkadang boleh melalui jalan “verboden” kalau polisi mengijinkan, bahkan Allah sendiri tidak pernah blak-blakan menguraikan maksud-Nya melalui firman-firman-Nya didalam Al Qur’an - sekali lagi maaf
    “SEMBUNYILAH DI TEMPAT YANG TERANG,SAUDARAKU”
    Ihdinasyirothol musytaqim

    Comment by Ki Sudrun — 15 September 2005 @ 13:21

  6. he’s my teacher imajiner

    Comment by adi hamid fauzi — 15 September 2005 @ 19:32

  7. Setelah kita mengenal sosok beliau dan mencintainya adalah baik kalau kita mengatahui dimana ribat terakhir Tuan Syaikh tempat kita menjadi “nol” dihadapan Tuhan untuk dihantarkan ke gerbang pertemuan denga Yang Maha Haq Allah, semoga ahlul bait dapat menemukan dan meraihnya seblum semua berakhir

    Comment by jihad sihabsah — 29 January 2006 @ 13:15

  8. Kenapa ya Kita sekarang hanya menggunakan kepala saja, kadang lupa menggunakan hati dan di balik hati tersebut, karena setiap pendapat benar-salah itu bisa dirasakan. tapi seorang nabi, seorang rasulpun pembawa kesejukan Rassullah Muhammad SAW, walaupun beliau di sakiti fisik dan hatinya, waktu dahwah beliau apa yang beliau lakukan, saya kira teman-teman sudah pernah mendengar kisah beliau.

    Salam.

    Comment by Arruhnov — 13 April 2006 @ 11:13

  9. Hendaklah kita arief dalam memahami suatu, gunakan hati dan nalar. Beliau sudah kerkarya untuk kemaslahatan ummat. Nah, Sekarang apa yang kita berikan pada ummat ini. Jangan hanya cela dan kritik saja. Kalau mampu berbuatlah yang lebih baik dari Beliau. Wallahu Yahdi ila sabilil-haq.

    Comment by Amin Hasaning — 19 April 2006 @ 10:45

  10. aku pecinta keduanya

    Comment by abib — 24 April 2006 @ 09:19

  11. aku pecinta keduanya

    Comment by abib — 24 April 2006 @ 09:20

  12. kalo saya baca biografi Imam AL Ghozali diatas, itu sepertinya copasan (copy pastean) dari artikelnya orang orang salafy.

    orang2 salafy begitu membenci Imam ALghozali, sang hujjatul Islam, hingga rela berdusta membuat fitnah2 terhadap para Ulama yang tidak sepaham dengan mereka.

    Comment by Hanafi — 19 August 2006 @ 11:14

  13. Allah telah meninggikan derajat Imam ghozali. walupun di caci, di maki namanya akan tetap terpelihara. memang aku akui hadist dalam ihya ulumudin ada yang dhoif, namun bukan berarti beliau kurang ahli dalam hal hadist. bukankah hadist dhoif bisa di gunakan dalam syarat-syarat tertentu? misalnya hadist tentang fadhilah beramal?
    saudaraku, hati-hati! jangan sampai kita terjebak untuk membeci ulama, karena ulama-lah yang menyimpan cahaya nubuah dalam dadanya, penerus risalah kenabian. jika tidak ada ulama munawir tentu dunia ini akan di liputi dengan kegelapan…

    saya pernah mendengar hadist yg kurang-lebihnya:
    Rasulullah saw bersabda:”Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yg lebih tua, tidak menyayangi yg muda dan tidak memuliakan ulama”
    (jika ada kesalahan mohon di maklumi. saya bukan ahli ilmu…)
    dan jika atas sebab perbuatan dosa kita, kemudian orang-orang mengikuti kita, tentu dosa-dosanyapun menjadi tanggung jawab kita.

    semoga Allah mengampuni hambaNya yang serba salah ini……

    Comment by abdul qodir (alias) — 11 December 2006 @ 14:21

  14. kita memang tidak boleh mencintai siapapun melebihi Allah dan Rasul-Nya.
    tapi, jangan sampai kita terjebak untuk membenci ulama. jika banyak orang yang terlalu mengagungkan salah satu ulama, maka tugas kitalah untuk memberi pengarahan dengan hikmah, dengan menunjukkan kebencian pada ulama, saya rasa dampak buruknya akan jauh lebih besar…..

    Comment by abdul qodir (alias) — 11 December 2006 @ 14:31

  15. memang, kita tidak boleh mencintai sesuatu melebihi Allah dan Rasul-Nya, namun jangan sampai kita terjebak untuk membeci ulama. mengenai banyak orang yang terlalu mengagungkan salah satu ulama, maka tugas kita untuk memberi pengarahan pada mereka dengan hikmah, dengan menunjukkan kebencian pada ulama tentu saja efek buruknya akan jauh lebih besar…….
    terlalu mengagungkan ulama adalah salah satu indikasi betapa tinggi kesholehan ulama tersebut.
    sehingga kita harus hati-hati agar tidak terpedaya nafsu dan setan yang menginginkan perpecahan umat ini…..

    Comment by abdul qodir (alias) — 11 December 2006 @ 14:44

  16. Menghormati dan mencintai seorang ulama adalah sebuah keharusan bahkan kewajiban tapi memang rasa cinta kita kepada seorang ulama tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasulnya. saya rasa ketika seseorang sudah mencintai seorang ulama seperti syekh Abd. Qadir Jaelani,orang tersebut sudah mengetahui bahwa kecintaannya kepada Allah dan Rasulnya adalah lebih besar karena ilmu ini adalah dasar dari agama islam yang sudah tentu kebanyakan orang sudah mengetahuinya apalagi orang yang sudah mempelajari tentang riwayat para ulama yang ga banyak orang tertarik untuk mempelajarinya.

    Comment by Gus Az — 28 December 2006 @ 19:01

  17. dalam hidup ini, kita tak tahu mana-mana yang benar, hanya keyakinanlah yang bisa menganggap diri kita benar, tapi tahukah kita bahwa yang kita anggap benar,benar buat yang lain? Kebenaran yang hakiki hanya pada Allah Azza Wa Jalla..dan itu kita harus tahu. Wallahulmafiq Illa Aqwamith thoriq..

    Comment by fahrul — 7 February 2007 @ 22:16

  18. jika kamu

    Comment by arkin — 10 February 2007 @ 20:32

  19. salh kah orang yang …

    Comment by arkin — 10 February 2007 @ 20:33

  20. doh doh nyalahin orang salafy! Imam Al Ghazali pada kitabnya Ihya Ulumuddin memang ada yang baik dan aja juga yang buruk dikarenakan haditsnya mungkar atau palsu. Tapi orang orang salafy ga ada yang menghina beliau, andaikata ada dia itu baru belajar islam dengan manhaj salaf. Semoga alloh mengampuni dosa beliau (imam ghazali).

    Karena dalam ilmu hadits ada 2 kaidah yaitu sanad dan matan suatu hadits. Sanad adalah runtutan perawi yang merawikan hadits itu, sedangkan matan adalah isi dari hadits itu. Nah di buku ihya terdapat hadits2 yang sanadnya lemah bahkan ada yang palsu. Tetapi bukan berarti menghina imam ghazali. Para ahli hadits mengkritik buku itu karena mereka sayang kepada umat ini dan imam ghazali tentunya. Karena islam ditegakkan dengan ilmu. Ilmu hadits merupakan ilmu yang penting sekali dan sangat susah di pelajari. Tidak boleh kita berhujah dengan hadits yang sanadnya lemah atau palsu karena itu sama saja berbohong atas nama nabi muhammad.

    Tolong liat masalah ini dari segi ilmiah, ketika hal itu salah maka koreksilah dengan ilmu juga tentunya :)

    Islam tegak dengan ilmu secara ilmiah

    Comment by otoy — 12 February 2007 @ 23:24

  21. ada dalam kitab ihya sebuah cerita tentang sibuta, sibuta ini ketika berjalan menabrak sebuah guci yang ditaruh dipojok rumah yang memang disitu tempat nya berada, namun dengan kebodohannya sibuta berkata kenapa guci ini ditaruh ditengah jalan.

    Comment by arkin — 14 February 2007 @ 18:26

  22. imam ghozali dalam kitabnya mengatakan dirinya bagaikan setetes embun ditengah lautan. kitab ihya adalah pelajaran tentang hati dimana penyakit hati ini bagaikan semut hitam yang merangkak dibatu hitam pada malam yang gelap gulita. dan mungkin si penulis membaca tentang itu dan menemukan segala penyakit yang diutarakan oleh imam ghozali ada dalam dirinya, kemudian mengingkarinya karena takut akan hitamnya hatinya, dan mengatakan ajaran ini sesat dan perlu ditarik kembali. sungguh tidak masuk akal bung

    Comment by arkin — 14 February 2007 @ 18:38

  23. Salawat dan salam kita curahkan kepada Nabi besar Muhammad S.A.W. juga para syahabat. Kepada para ulama-ulama yang memperjuangkan agama dengan mempertaruhkan hidupnya. Subhanallah. kharismanya dan ilmu yang diajarkannya membuat kita senantiasa membimbing hidup kita selalu dekat Allah S.W.T.

    Comment by Azzurre — 17 February 2007 @ 10:08

  24. Siapakah kita?
    Kita lahir di dunia ini tanpa status yang jelas, nama yg kita miliki saat ini adalah nama pemberian orang tua kita, lalu siapakah kita?!! Kita bukan siapa2! Kita tidak punya kejelasan status. Hingga didatangkan seorang Rasul yg mulia, dan menjadikan kita sebagai Ummat Rasul, yg mengajarkan kita ilmu, dandari padanya diturunkan ke para sahabat, para auliya dan ulama. Itulah sebabnya kita memerlukan wasilah dan bertawassul untuk menuju kepadaNya.

    Comment by umattirasul — 25 April 2007 @ 12:01

  25. allohumma solli wa sallim ala muhammadin wa ala jamingil auliyai kususon syeh abdul qodir jaelani

    Comment by roji' — 26 April 2007 @ 11:37

  26. hidup adalah pejuangan menuju apa ya…..

    Comment by Khalik — 14 May 2007 @ 00:37

  27. Saya ingin dicatat sebagai muridnya

    Comment by Ruchiyat — 16 June 2007 @ 16:51

  28. tolong ya mas kalau belum paham suatu kitab itu tanya pada para kyai awas lo jangan kyai kyaian nanti tambah keblinger tolong dicek lagi artikelnya karena saya yakin ilmu anda itu belum ada sepucuk kukunya kedua ulama tersebut jadi jangan sok tahu tapi tolong maafkan perkataanku ini

    Comment by pren — 10 July 2007 @ 00:28

  29. coba mas hati-hati menulis tulisan mas ini terkait dengan sebutan “sesat” serta mendeskreditkan Imam Al Ghozali.

    Allah Maha Besar serta Mengetahui kebenaran…

    Comment by andy wahyudi — 10 August 2007 @ 09:46

  30. Apakah mengagungkan ulama syirik ??

    Comment by Umar Alatas — 11 August 2007 @ 10:04

  31. tolong, jgn belajar setengah-setengah…
    Anda selalu mengatakan manusia harus mencintai ALLAH SWT dan RasulNya SAW melebihi segala-galanya. Tapi anda tak pernah mengetahui ” SIAPA ALLAH SWT DAN SIAPA MUHAMMAD SAW!! ” .

    Comment by Nur hasyim — 21 August 2007 @ 19:49

  32. TAI….SEMUA….DARI PADA BERDEBAT MENDINGAN TA’LIM YANG BENER!!!!BELAJAR YG BENER!!!TAI WAHABI!!!TAI SYIAH!!!TAI PAHAM2 YG NYELENEH!!!TAI KRN SDH NGABISIN UMUR GW!!!!

    Comment by damn i was learning to be good moslem — 4 September 2007 @ 16:01

  33. mantaplah,………dgn adanya pemahaman&
    pelajaran seperti itu kita dapat mengetahui lebih dalam lagi ttg islam

    Comment by gats — 15 September 2007 @ 16:20

  34. “Indra Wahyudi
    Hanya manusia biasa yang tak ‘kan selalu putih, pun tak ingin tercipta hitam lagi. Biarlah hidup berjalan lagi apa adanya”

    Begog, sok tahu… setan modern ente,, yg mau mem BRAIN WASHING… ajaran diluar sunnah,,

    Indra Wahyudi, jgn terlalu mendewakan akal dan indera,,, mendingan lo ngaji lagi deh,, masih telur kok mo berkokok..

    Comment by Alfakir minal 'ilmi wal 'amal ila romati robihi — 24 September 2007 @ 06:52

  35. al ghazali n abdul qadir my hero

    Comment by ghaza — 28 September 2007 @ 14:00

  36. masalh ini aja sesama muslim pada bertengkar sadar man

    Comment by ghaza — 28 September 2007 @ 14:02

  37. Umat islam jangan terpengaruh jebakan hasutan orang KAFIR…jangan terpecah belah.banyak sekali orang minta pendapat ulama untuk mengoreksi pendapat ulama lain.Dia tidak memahami secara betul pendapat para Ulama.Tolong kalau menyebarkan berita harus benar-benar penulis mengerti kebenaran informasinya…di CEK DULU.supaya kebohongan tidak menyebar dan membuat ragu umat islam.

    Comment by Shugy Kandela — 28 October 2007 @ 15:53

  38. Perpecahan umat islam dan para Ulama lebih banyak karena hasutan dari orang-orang yang BODOH TAPI SOK PINTAR.Parahnya umat islam banyak terpengaruh kebohongan atau kesalahan informasi dan kesalahan pemahaman.

    Comment by Shugy Kandela — 28 October 2007 @ 16:02

  39. bung hati2 katanya,,,, jangan menyangkut paut kan kata2
    emank siapa yang bilang syekh abdul qodir jaelani lebih tinggi derajatnya dari Rosululloh,,,,,
    rata2 orang2 kaya antum tugh pandai banget bermain kata2…
    eh orang2 kaya kalian ini yang nantinya akan masuk neraka …sadar darisekarang..
    kalian2 tuh so’ tau ..
    rata2 orang kaya kalian tuh kenal agama dari kuliah dengan gelar propesor ato DRS yang ilmu agamanya terbatas dan memakai logika dn pikiran,,,kalo anda emank punya pikiran siapa yg lebih pintar antara prof kaya kalian sama ulama2 yg di pesantren(salafi)yg setiap harinya menuntut ilmu agama

    pikir DE …………..
    astaghfirulloh
    orang kaya anda tuh l lebih pantas mati di banding orang yg emank udah kafir

    Comment by ahmad wesil — 21 November 2007 @ 21:09

  40. Ya Alloh Ya Rosulalloh dengan berkah nya Syekh Abdul Qodir JAelani semoga orang2 seperti ini cepat diberi hidayah

    Comment by ahmad wesil — 21 November 2007 @ 21:17

  41. ni biodata saya
    nama : ahmad wesil
    alamat : jl lurah rt 03/03 cimahi jabar
    no hp : 085720044761

    apabila anda tersinggung dengan pendapat saya hubungi saya

    saya bukannya so’ tapi orang2 seperti anda tuh so’ religi bngt bari teu puguh kitu,,,,

    Comment by ahmad wesil — 21 November 2007 @ 21:20

  42. PKS juga wahabi yagh???

    Comment by ahmad wesil — 21 November 2007 @ 22:21

  43. bagi saya yang mengatakan al-ghozali itu sesat,itu nggak tau tentang hakikat ketuhanan,seperti ibnu taimiyah yang mengatakan “allah ada di atas langit” mereka itu ahli kulit,ahli tata bahasa ,tapi nggak faham dengan hakikat al-quran,yang memang nggak cukup di artikan dengan tata bahasa arab,contoh nya..lailahaillallah,,itu klaudalam bhs arb artinya “tidak ada tuhan kecuali allah”yaitu faedah istsna’,,,padahal yang benar itu “tidak ada tuhan selain allah”,dan banyak kok yang katanya ahli hadits,,itu shoheh ternyata nggak sesuai dengan al-quran,contoh nya isa akan turun lagi,,nggak ada keterangan dalam quran itu isa akan turun,,dan muhammad penutup para nabi,
    nabi itu tugas nya ,,klau isa turun itu menbawa tugas lama atau baru???dan isa itu khusus untuk kaum bani israel,bukan luar bani israil…makannya saya nggak percaya dengan ahli kuliti,saya lebih percaya dengan hadits2 yang ada di ihya ulumuddin,karna meshoheh kannya dengan daya ruhani,bukan berdasarkan sanad,,saya penganut tassawwuf,tasawwuf punya cara sendiri untuk menguji itu hadits shoheh apa nggak..ok

    Comment by halili — 24 November 2007 @ 22:59

  44. jangan merasa diri paling benar kawan…hati2 iblis senang dengan perpecahan…mari kita interopeksi diri dengan tenang,,coba kita belajar menerima perbedaan dengan iklas…mudah2an ALLAH merahmati dan meridhoi kita semua…amin

    Comment by ai — 26 November 2007 @ 01:35

  45. Iya nih, kayaknya artikel ini gak fair, sepertinya menyanjung tp sebenarnya malah menjatuhkan. Sepertinya ilmu sejarah, tp sebenarnya malah menghasut. malah bikin perpecahan aja. Hati2 dong kalau pilih artikel. jgn sampe membuat orang lain tersinggung.

    Comment by sibeng — 30 November 2007 @ 02:32

  46. Trktuk bgi org yg mlaknat Al-Ghozali

    Comment by Moch Herizal Junior — 27 December 2007 @ 21:05

  47. kok bisa ya

    Comment by Much — 19 February 2008 @ 12:55

  48. GOOD

    Comment by cherli — 23 February 2008 @ 12:19

  49. kalo memang kalian pikir ni artikel salah/menyimpang ya gx usah d bacalah, Allah lebih benci kalo liat umatnya saling mencela oke man!!!

    Comment by cherli — 23 February 2008 @ 12:35

  50. lo aja kali.., gw ngga

    Comment by bulluck — 14 April 2008 @ 20:21

  51. Tolong anda semua kalo mau tahu tentang islam hfalin alqur’an serta artinya dan hafalkan semua hadis denhan maknanya jadi karena semua tulisan mengenai islam berusmber daru Al qur’an dan Hadist dan kalo mau mempelajari buku karangan seseorang dibaca saja kalao tidak sesuai dengan alqur’an dan hadist maka jangan diikiuti ikuti saja alqur’an dan hadist hidup akan lebih mudah dari pada berdebat menghabiskan sisa umur

    Comment by mas'ud ihsani — 1 May 2008 @ 12:51

  52. sekarang mah gini aja jangan saling mencela kita ga boleh menyalahkan kyai, logikanya kyai tuch pasti agamanya lebih pinter dari kita , kecuali ulama2 yang lulusan Drs, mereka belajar agamnya lwat skolahan bukan dr pesantren, otomatis ilmu yang mereka peroleh tidak sebanyak para kyai, kita tau sekarang banyak islam sesat uyang bersal dr universitas2….

    Comment by ahmad wesil — 4 May 2008 @ 15:07

  53. perbanyak istigfar…
    dan jangan kalian berpecah belah…
    kita satu dibawah kalimah lailahaillallah , muhammadurrosulullah.

    Comment by Alex.H — 22 May 2008 @ 02:52

  54. Di akhir zaman ini, ummat islam terpecah menjadi 73 golongan dan masing-masing merasa paling benar.” Seperti buih di lautan terombang ambing tiupan angin bertebaran (isu-isu yang bersifat kedajjalan, propaganda, laksana angin barat yang berhembus kencang). Biarlah pendapat berbeda-beda selama masih bersifat khilafiyyah, asal jangan meributkan tentang prinsip akidah, hukum, dan ketuhanan dengan penafsiran tanpa ilmu. Janganlah menafsirkan Al Qur’an dan Hadits dengan nafsu. Seperti kejadian di madura yang beberapa waktu lalu ada pendatang yang melakukan sholat tanpa bersedekap lalu dianggap sesat dan dihakimi massa. Karena masyarakat terbelenggu oleh ajaran masing-masing gurunya yang si murid harus taklid dan menganggap ajaran guru tak boleh dikritisi, takut untuk bertanya, sehingga ilmu dari guru tidak bisa turun 100% kepada si murid. Ini doktrin kebanyakan pesantren-pesantren di tanah air kita yang mana si guru adalah sumber ilmu yang tak mungkin salah. Dan kebanyakan di pesantren-pesantren tradisional, para murid tak berani bertanya karena takut dianggap tidak loyal terhadap ajaran guru, atau dianggap ‘nranyak’ (tidak etis). Sehingga banyak terjadi salah paham antara yang wajib dan yang sunnah. Yang sunnah seolah banyak terkesan menjadi wajib. Yang tidak melakukan lalu dianggap sesat dan menyimpang.

    Kekurang-pahaman mengenai prinsip dasar keislaman inilah yang banyak dimanfaatkan oleh pihak tertentu dan juga berakibat semakin maraknya ajaran sesat, terutama di kalangan civitas akademika yang notabene lebih berpikiran logis tetapi rapuh prinsip sehingga mudah di mind-set dengan doktrin-doktrin baru yang mengemukakan keilmiahan dan kelogisan yang pada hakikatnya adalah rekayasa penafsiran yang tidak jernih dan terkontaminasi nafsu human-feel keiblisan.

    Faktor-faktor perpecahan pun dikarenakan pemahaman-pemahaman sempit si pencari ilmu. Bila sudah belajar pada kyai ANU, tidak mau ilmu dari kyai INI yang lain faham atau madzhab sehingga pikirannya pun menjadi picik dan tidak objective. Akal ini adalah karunia Allah untuk kita menimbang ilmu, informasi dari berbagai sudut yang kita conform-kan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Kalau hanya mengambil dari satu sudut saja, tentu sangat subjective sifatnya dan egois. Dalam menafsirkan suatu hadits pun tidak boleh dengan picik. Misalnya, “Peliharalah jenggotmu”. Arti kata pelihara itu apa sih? Kalau kita pelihara sapi apa hanya kita biarkan sapi itu tumbuh sendiri, ngeluyur ke sana kemari cari makan sendiri, kita biarkan saja? Pelihara itu, RAWAT, RAPIKAN, yang amburadul dipotong, biar cakep, ganteng, gagah. Kalau jenggotnya cuma lima helai ya jangan dipanjangkan lah, malah tidak bagus. Lalu hadits tentang kain sebatas mata kaki, lalu orang-orang pada memotong celananya cungklang-cungklang (jauhdi atas mata kaki), tetapi tetap memakai kaus kaki hingga ke ujung jempol. Percuma kan? Sudah tidak pantas, percuma pula. Padahal maksud dari hadits itu adalah ketika itu Baginda Rasul melihat ada ummatnya yang kayaraya, pergi ke masjid, kainnya diangkat oleh para pembantunya karena terlalu panjang sehingga menimbulkan kesan pamer dan kebanggaan duniawi, kesombongan yang timbul. Oleh karena itu, turun hadits demikian dengan maksud supaya kita itu sepantasnya saja, jangan berlebihan, kain jangan menyentuh tanah (bagi laki-laki) supaya tidak kotor, kena najis, apalagi di gurun pasir.

    Memang kemampuan analisis seseorang itu akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang orang tersebut. Tapi, Allah sudah karuniakan kita akal dan hati, nurani dan ruh illahi. Tidak cukupkah? Singkirkanlah emosi kebencian, merasa diri paling benar, ngerti kulit tak paham inti dan esensi, apalagi hakikat. Arif lah dan bijak lah memandang. Jangan mengkultuskan satu tokoh saja, lalu menganggap tidak betul paham yang lain. Hanafi, Syafi’I, Hambali, Maliki pun mereka bersahabat, kenapa yang di bawah pada perang dingin? Padahal tak mengenal siapa itu Hanafi, Syafi’i, Hambali dan Maliki. Jangan bersikap bodoh.

    Comment by Yasir Isnan-Purworejo — 1 June 2008 @ 11:17

  55. kita tidak boleh semena-mena mengatakan itu sesat, itu keliru sebab semuanya punya dasar tersendiri, wasilah itu boleh, sebab didalam wasilah itu kita tidak meminta sesuatu apapun pada orang yang kita wasilahi..
    selain itu wasilah juga bertujuan mendoakan orang tersebut. di dalam al qur’an banyak di jelaskan bahwa bila kita mendoakan orang lain, maka malaikat berucap “amin dan semoga doa itu kembali padamu”
    jadi yangt perlu saya tekan kan jangan sekali-sekali berkata sesat, kita lihat dulu dari mana kita memandang, coba pandang dari beberapa sudut pandang.
    terima kasih. artikel anda menarik!!

    Comment by mihawk — 28 July 2008 @ 12:32

  56. didalam artikel ini, anda mengajak untuk bijak di dalam menilai suatu ajaran (”Adapun sikap yang harus diambil adalah sikap Inshof (pertengahan) adalah menyebutkan kebaikan-kebaikannya disertai dengan menyebutkan kesalahannya.”-alinea 2) tapi di alinea yang lain anda justru tidak obyektif didalam menilai ajaran Iman Iman Al Ghozali (”Di kitab Al Ihya’ sendiri ada faedah-faedah yang banyak tetapi tidak sedikit materi-materi yang tercela dan merusak berupa ucapan-ucapan filsafat yang berkenaan dengan tauhid, kenabian, bahkan urusan akhirat.”alinea 4) tapi anda tidak menyebutkan kebaikan dari Imam Al Ghozali (ajaran Iman Al-Ghozali yang benar menurut anda) jadi dimana letak sikap inshof anda. Dari tulisan ini menunjukkan munafiknya anda dan sesungguhnya orang yang munafik adalah orang yang sesat

    Comment by abi — 31 July 2008 @ 09:25

  57. didalam artikel ini, anda mengajak untuk bijak di dalam menilai suatu ajaran (”Adapun sikap yang harus diambil adalah sikap Inshof (pertengahan) adalah menyebutkan kebaikan-kebaikannya disertai dengan menyebutkan kesalahannya.”-alinea 2) tapi di alinea yang lain anda justru tidak obyektif didalam menilai ajaran Iman Iman Al Ghozali (”Di kitab Al Ihya’ sendiri ada faedah-faedah yang banyak tetapi tidak sedikit materi-materi yang tercela dan merusak berupa ucapan-ucapan filsafat yang berkenaan dengan tauhid, kenabian, bahkan urusan akhirat.”alinea 4) tapi anda tidak menyebutkan kebaikan dari Imam Al Ghozali (ajaran Iman Al-Ghozali yang benar menurut anda) jadi dimana letak sikap inshof anda. Dari tulisan ini menunjukkan munafiknya anda dan sesungguhnya orang yang munafik adalah orang yang sesat

    Comment by abi — 31 July 2008 @ 09:28

  58. saya seneng membaca tulisan dari sahabat2 sekalian, rame dan seru…krn pada dasarnya saya tidak terlalu mengerti sejarah islam. tapi saya lihat kok ujung2nya jadi perdebatan, bukan suatu diskusi yg menarik. lah ujung2nya lagi saya jadi inget review tentang motor(produk yamaha honda suzuki) di blog orang laen..di mana ujung2nya pun juga perdebatan, malah tantantangan adu motor…(lebih parah), sisi laen mendukung motornya yg cc-nya gede lebih kenceng lebih canggih…, yag laenya ndak mo kalah juga dengan teknologi motor yg lebih canggih lagi….
    kalo saya lihat orang2 kita ,kalo sedang diskusi ujung2nya debat kusir, bahkan adu jotos ato lempar kursi heheheh…lucu juga…, moga2 hal yg positif lebih banyak di publish oleh para sahabat sekalian…

    Comment by mageti — 1 August 2008 @ 11:05

  59. orang yang menyesatkan dan mengharamkan wasilah lebih baik maiti dari pada hidup banyakin dosa.karna lo dah ngerusak aqidah.gua yang pertama kalo gua perang sama kaum lo.sudah ga da jalan damai perdebatan lebih baik berantem. gua kalo masalah ini ga bisa di halang2ngin.macem lo2 pade darah lo dah halal d

    Comment by expo — 6 September 2008 @ 14:04

  60. Kurang ajar emang nih yg bikin biografi…..dasar wahabi

    Comment by sontoloyo — 28 September 2008 @ 06:56

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.