‘’Atas ketidaktahuan ini, pihak Trans TV mohon maaf kepada pemirsa dan masyarakat, khususnya ulama dan umat Islam,'’ kata Direktur Trans TV, Ishadi SK.

Laskar Cinta


Pernyataan itu dikemukakan Ishadi terkait dengan konser ekslusif grup musik papan atas, Dewa, di Trans TV, Ahad (10/4) malam. Dalam konser itu, para personel Dewa –Dhani (kibor, vokal), Once (vokal), Tyo (dram), Andra (gitar), dan Yuke (bas)– bernyanyi di atas karpet yang berlambang album terbaru mereka yang berjudul ‘’Laskar Cinta'’.

Bukan soal tulisan ‘Laskar Cinta’-nya yang membuat sejumlah pemirsa merasa perlu menelepon Trans TV malam itu juga. Seorang pemirsa yang kebetulan menyaksikan acara itu, Ustadz Wahfiuddin, mengatakan lambang berbentuk seperti bintang yang tertempel di karpet itulah yang membuat mereka bertanya-tanya.

‘’Itu merupakan kaligrafi yang bertuliskan ‘Allah’ yang dilukiskan dalam bentuk bintang,'’ kata Wahfiuddin, Senin (11/4). Kata dia, orang yang mengenal huruf Arab dan sedikit paham seni kaligrafi akan langsung mengetahui logo di lantai panggung yang diinjak-injak itu bertuliskan ‘Allah’.

Wahfiuddin langsung menelepon Trans TV dan menjelaskan apa yang sedang terjadi. Trans TV mau menanggapi. Angle kamera diubah sehingga tak tampak lagi logo tersebut. Saat jeda iklan, panggung segera ditutupi karpet lain.

Ishadi, atas nama Trans TV, menyesalkan kejadian tersebut dan langsung meminta maaf kepada Ustadz Wahfiudin. Ia juga menyatakan penyesalannya kepada seluruh pemirsa dan masyarakat umum atas kelalaian itu.

Trans TV pun merespons protes tersebut dengan mengundang Wahfiuddin untuk dipertemukan dengan pentolan Dewa, Ahmad Dhani dan Direktur Trans TV, Ishadi. Saat itulah Wahfiuddin menunjukkan buku The Cultural Atlas of Islam karya Prof Dr Ismail Raji Al-Faruqi, pendiri The International Institute of Islamic Thought, sebuah organisasi intelektual Muslim di Amerika.

Dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mizan ini, di halaman 84 terdapat foto kaligrafi ‘’Allah'’ yang dijadikan logo album Dewa. Melihat itu Ishadi terhenyak, dan berkata, ‘’Ya, sama.'’

Tapi Dhani coba mengelak dengan berkata, ‘’Oh, nggak sama. Ada bedanya.'’ Wahfiuddin segera meminta logo album Laskar Cinta seraya mengatakan akan membuktikannya. Dhani tetap berkeras, logo itu tidak sama karena sudah dimodifikasi.

Wahfiuddin mengakui, Dhani telah sedikit memodifikasinya dengan mengisi bagian tengah dari huruf terakhir (’ha). Tapi bagi orang yang mengenal huruf Arab, ia merasa yakin modifikasi itu tidak mengubah bentuk dan maknanya secara signifikan.

Mengenai hal ini, Dhani tidak bisa dihubungi karena sedang melakukan tur album Laskar Cinta di Balikpapan, Kalimantan Timur. ‘’Dhani sedang berada di dalam pesawat ke Balikpapan,'’ kata Manajer Dewa, Dian, Senin malam.

Dian menjelaskan masalah penampilan Dewa di acara Ekslusif Trans TV itu sudah selesai. Dari ceritanya, Dhani sudah bertemu Ustadz Wahfiuddin dan Direktur Trans TV. Dhani juga menerima saran dan kritik yang disampaikan itu dan kini dianggap sudah selesai.

Jauh sebelum ini, lambang yang digunakan album Laskar Cinta sempat dipertanyakan wartawan, karena dianggap mengandung unsur kaligrafi. Saat peluncuran album itu di Avenue, Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Senin (22 November 2004), Dhani mengatakan tipografinya saja yang seperti huruf Arab, tapi itu kaligrafi Indonesia yang artinya ‘’Laskar Cinta'’.

Didin Sirajuddin AR dari Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) Jakarta mengaku sudah mendengar adanya kaver album Dewa yang berwarna merah dan hitam dengan terpampang sebuah gambar kaligrafi. Didin tidak mempermasalahkan penggunaan lambang ‘’Allah'’ itu untuk album kaset demi keagungan Ilahi.

Berbeda ceritanya, kata dia, kalau lambang itu diinjak-injak dalam sebuah konser musik. ‘’Lambang kaligrafi album Laskar Cinta itu simbolik yang merupakan kumpulan kaligrafi Arab, yakni Lafdhul Jalalah (Allah),'’ jelas Didin.

Memang, jelasnya, lambang itu tidak sepenuhnya mirip. Ia menjelaskan ha’ yang semestinya bolong tidak dilubangi, tetapi dia membaca tulisan kufi (kubisme) tadi dengan Allah. Gaya khas kufi adalah kesan kaku dan kotak-kotak. Di sana juga membolehkan untuk mendesain cermin sehingga tulisan seperti dibalik-balik.

Bagi Dewa ini bukan pertama kalinya tersandung masalah dengan album yang mereka luncurkan. Ketika keluar album Arjuna Mencari Cinta, penulis novel Yudhistira AM Massardi komplain atas penamaan judul album itu. Pasalnya, judul itu sama dengan novel yang dibuatnya pada tahun 1970-an berjudul Arjuna Mencari Cinta. Judul album Dewa itu kemudian diubah menjadi Arjuna saja.

Kaset dewa lainnya seperti Bintang Lima juga sempat menyulut aksi pembakaran di Bandung beberapa tahun lalu. Pembakaran terkait dengan lirik-lirik Dewa yang banyak mengambil ucapan pujangga dunia seperti Kahlil Gibran dan Jalaludin Rumi

taken from : Republika