Dewa Kesandung Lambang Album ‘’Laskar Cinta'’

19 April 2005

‘’Atas ketidaktahuan ini, pihak Trans TV mohon maaf kepada pemirsa dan masyarakat, khususnya ulama dan umat Islam,'’ kata Direktur Trans TV, Ishadi SK.

Laskar Cinta


Pernyataan itu dikemukakan Ishadi terkait dengan konser ekslusif grup musik papan atas, Dewa, di Trans TV, Ahad (10/4) malam. Dalam konser itu, para personel Dewa –Dhani (kibor, vokal), Once (vokal), Tyo (dram), Andra (gitar), dan Yuke (bas)– bernyanyi di atas karpet yang berlambang album terbaru mereka yang berjudul ‘’Laskar Cinta'’.

Bukan soal tulisan ‘Laskar Cinta’-nya yang membuat sejumlah pemirsa merasa perlu menelepon Trans TV malam itu juga. Seorang pemirsa yang kebetulan menyaksikan acara itu, Ustadz Wahfiuddin, mengatakan lambang berbentuk seperti bintang yang tertempel di karpet itulah yang membuat mereka bertanya-tanya.

‘’Itu merupakan kaligrafi yang bertuliskan ‘Allah’ yang dilukiskan dalam bentuk bintang,'’ kata Wahfiuddin, Senin (11/4). Kata dia, orang yang mengenal huruf Arab dan sedikit paham seni kaligrafi akan langsung mengetahui logo di lantai panggung yang diinjak-injak itu bertuliskan ‘Allah’.

Wahfiuddin langsung menelepon Trans TV dan menjelaskan apa yang sedang terjadi. Trans TV mau menanggapi. Angle kamera diubah sehingga tak tampak lagi logo tersebut. Saat jeda iklan, panggung segera ditutupi karpet lain.

Ishadi, atas nama Trans TV, menyesalkan kejadian tersebut dan langsung meminta maaf kepada Ustadz Wahfiudin. Ia juga menyatakan penyesalannya kepada seluruh pemirsa dan masyarakat umum atas kelalaian itu.

Trans TV pun merespons protes tersebut dengan mengundang Wahfiuddin untuk dipertemukan dengan pentolan Dewa, Ahmad Dhani dan Direktur Trans TV, Ishadi. Saat itulah Wahfiuddin menunjukkan buku The Cultural Atlas of Islam karya Prof Dr Ismail Raji Al-Faruqi, pendiri The International Institute of Islamic Thought, sebuah organisasi intelektual Muslim di Amerika.

Dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mizan ini, di halaman 84 terdapat foto kaligrafi ‘’Allah'’ yang dijadikan logo album Dewa. Melihat itu Ishadi terhenyak, dan berkata, ‘’Ya, sama.'’

Tapi Dhani coba mengelak dengan berkata, ‘’Oh, nggak sama. Ada bedanya.'’ Wahfiuddin segera meminta logo album Laskar Cinta seraya mengatakan akan membuktikannya. Dhani tetap berkeras, logo itu tidak sama karena sudah dimodifikasi.

Wahfiuddin mengakui, Dhani telah sedikit memodifikasinya dengan mengisi bagian tengah dari huruf terakhir (’ha). Tapi bagi orang yang mengenal huruf Arab, ia merasa yakin modifikasi itu tidak mengubah bentuk dan maknanya secara signifikan.

Mengenai hal ini, Dhani tidak bisa dihubungi karena sedang melakukan tur album Laskar Cinta di Balikpapan, Kalimantan Timur. ‘’Dhani sedang berada di dalam pesawat ke Balikpapan,'’ kata Manajer Dewa, Dian, Senin malam.

Dian menjelaskan masalah penampilan Dewa di acara Ekslusif Trans TV itu sudah selesai. Dari ceritanya, Dhani sudah bertemu Ustadz Wahfiuddin dan Direktur Trans TV. Dhani juga menerima saran dan kritik yang disampaikan itu dan kini dianggap sudah selesai.

Jauh sebelum ini, lambang yang digunakan album Laskar Cinta sempat dipertanyakan wartawan, karena dianggap mengandung unsur kaligrafi. Saat peluncuran album itu di Avenue, Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Senin (22 November 2004), Dhani mengatakan tipografinya saja yang seperti huruf Arab, tapi itu kaligrafi Indonesia yang artinya ‘’Laskar Cinta'’.

Didin Sirajuddin AR dari Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) Jakarta mengaku sudah mendengar adanya kaver album Dewa yang berwarna merah dan hitam dengan terpampang sebuah gambar kaligrafi. Didin tidak mempermasalahkan penggunaan lambang ‘’Allah'’ itu untuk album kaset demi keagungan Ilahi.

Berbeda ceritanya, kata dia, kalau lambang itu diinjak-injak dalam sebuah konser musik. ‘’Lambang kaligrafi album Laskar Cinta itu simbolik yang merupakan kumpulan kaligrafi Arab, yakni Lafdhul Jalalah (Allah),'’ jelas Didin.

Memang, jelasnya, lambang itu tidak sepenuhnya mirip. Ia menjelaskan ha’ yang semestinya bolong tidak dilubangi, tetapi dia membaca tulisan kufi (kubisme) tadi dengan Allah. Gaya khas kufi adalah kesan kaku dan kotak-kotak. Di sana juga membolehkan untuk mendesain cermin sehingga tulisan seperti dibalik-balik.

Bagi Dewa ini bukan pertama kalinya tersandung masalah dengan album yang mereka luncurkan. Ketika keluar album Arjuna Mencari Cinta, penulis novel Yudhistira AM Massardi komplain atas penamaan judul album itu. Pasalnya, judul itu sama dengan novel yang dibuatnya pada tahun 1970-an berjudul Arjuna Mencari Cinta. Judul album Dewa itu kemudian diubah menjadi Arjuna saja.

Kaset dewa lainnya seperti Bintang Lima juga sempat menyulut aksi pembakaran di Bandung beberapa tahun lalu. Pembakaran terkait dengan lirik-lirik Dewa yang banyak mengambil ucapan pujangga dunia seperti Kahlil Gibran dan Jalaludin Rumi

taken from : Republika

57 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://fendra.blogsome.com/2005/04/19/dewa-kesandung-lambang-album-laskar-cinta/trackback/

  1. wekkss….i’m number one….1

    Comment by wekss... — 19 April 2005 @ 21:56

  2. susah jadi orang indonesia :) … hehehehe

    Comment by loper — 21 April 2005 @ 13:25

  3. loper : Itulah bangsa Indonesia, masalah kecil di besar2kan. Sedikit sedikit somasi … :x

    Comment by Indra Wahyudi — 22 April 2005 @ 03:03

  4. Ya saya yakin sepenuhnya tidak mungkin Dewa bermaksud menghina Allah. Jangan curiga dulu lah. Lagipula kan bukan pendapat ustad saja yang benar. Saya juga punya interpretasi sendiri. Jangan mau menang sendiri lah.

    Comment by elia — 22 April 2005 @ 14:22

  5. elia : Memang, saya sangat setuju dengan pendapat anda. Bukannya saya membela Dewa karena nge-fans, tapi karena kajian yang saya dapatkan bahwa Lambang yang dipakai dalam album Laskar Cinta benar sih Kaligrafi Allah, tetapi apakah tidak boleh kita menggunakannya. Sedangkan Allah itu sendiri milik semua umat manusia, bukan milik suatu kelompok yang dalam hal ini adalah kelompok yg mensomasi Dewa.

    Saya juga seorang muslim, jadi apalah keuntungan yg didapat dengan perbuatan seperti itu. Berpikiran yang positif sajalah, toh Dewa juga sudah minta maaf atas kejadian di studio Trans TV.

    Kalau masalah ini masih saja diteruskan, bukan gak mungkin akan terjadi konflik yang berkelanjutan. Ahmad Dhani (wakil Dewa) juga punya pendukung dari kyai, yaitu Gus Dur.

    Mungkin gue berencana untuk membuat gerakan Pendukung Moril Dewa melalui media blog.

    Teruskan berkarya Dewa … karena dengan karyamu itulah Indonesia bisa dibanggakan. Untuk musisi atau seniman yang lainnya, semoga tidak terlalu khawatir akan terjadi masalah seperti ini pada kalian. Teruskan kreasimu ….

    Comment by Indra Wahyudi — 22 April 2005 @ 17:16

  6. I saw Dewa performance in Sydney. I think they are really a good band. I bought their CD and listened to their song. It amazing and very good for listening. When I asked my Indonesian friends about the meaning of some of their song, I realized that the lyrics of their song are generally very poetic and religius. I have no religion, but the meaning of their songs can touch my heart and humanitarian feeling. I think they have to be appreciated and supported. In my opinion, Indonesian people should not kill their creativity. Otherwise, your musician will not be appreciated and underestimated by other countries. I love music… I love the poetic Dewa.

    Comment by Li Fu Min — 22 April 2005 @ 21:13

  7. to dewa band.saya minta kepada dewa untuk menyelesaikan secara musyawarah mufakat, jangan sampai di ajaukan ke pengadilan. nanti runyam masalahnya.saya minta kepada pihak front pembela islam, untuk membuka jalan damai dalam kasus tersebut. kalo grup dewa sudah minta maaf, tolong dimaafkan, karena orang yang memberi maaf lebih mulia dari pada meminta maaf.kalo masalah lambang allah di jadikan cover dalam logo music dewa, g masalah, justru kita bangga sebagai umat muslim, kalo lambang Allah itu universal.kan nabi muhammad sendiri nabi terakhir yang di utus oleh Allah SWT untuk membawa kita perjanjian terakhir(Al Qur’an)untuk semua umat di dunia.saya minta maslah ini diselesaikan dengan kepala dingin, dan tanpa mendahulukan ego masing2.aku tetap setuju logo yang ada di cover dewa tetap dipertahankan.soalnya kreatif.ingat selesaikan masalah ini dengan musyawarah mufakat.damailah Indonesiaku. allink gibran

    Comment by allink gibran — 23 April 2005 @ 03:30

  8. masalah kecil2 pun mau diperbesarkan!

    Comment by MisFunKy — 23 April 2005 @ 06:36

  9. Ass Wr Wb,
    Saya dapat email melalui mailinglist yang dikirimkan oleh ustadz wahfiudin yang isinya Dhani Dewa & Israel menginjak-injak Allah. Terus terang saya tidak mengerti pesan yang tersirat dalam tulisan tersebut.
    Dalam kalimat pertama dituliskan oleh bapak ustadz bahwa bukan maksud beliau untuk melakukan tindakan provokatif.
    Karena ada tulisan tersebut, maka saya tertarik untuk terus membaca email sampai selesai.

    Makin kebawah, saya makin tidak mengerti maksud dari email bapak ustadz..? mohon untuk diperjelas dengan mengirimkan kembali email dengan cerita yang baik dan benar.

    Karena menurut saya, dengan email seperti ini, saya sebagai orang awam akan beranggapan ini memang provokatif, tidak bisa dipungkiri lagi.

    Yang menjadi pertanyaan kedua saya, Dengan hadirnya bapak Ustadz wahfiudin ke Trans TV langsung , mungkin bapak lebih mengerti kejadian yang sebenarnya. Dan cerita tersebut tidak perlu disebarluaskan lagi.

    Saya takut, Bapak sebagai Ustadz yang dipercaya oleh umat untuk menyiarkan agama Islam malah dianggap kebablasan dengan tindakan provokatif yang akibatnya memecah belah, mengadu domba umat islam. Bagaimana bila itu sampai terjadi ? saya tidak bisa membayangkan….

    Dalam email tersebut, saya hanya membaca alur cerita pada saat kejadian, tetapi tidak sedikitpun terbersit ajaran yang sesungguhnya tentang Kaligrafi tersebut sebagai wacana yang dapat menjadi pertimbangan saya. Yang saya dapat dalam email tersebut hanya Dewa menginjak-injak ALLAH.

    Apakah itu benar terjadi? Apakah sudah di teliti kebenaran cerita dan alur kejadiannya?

    Saya hanya orang netral yang memiliki opini tentang hal ini. Dan menyayangkan DEWA bila memang benar mereka menginjak-injak Allah.

    Tapi sesungguhnya menurut saya adalah tugas Bapak Ustadz Wahfiudin untuk lebih bijaksana dalam menanggapi hal ini.
    Saya yakin, anak muda berkarya seperti Ahmad Dhani dan personil DEWA lainnya dapat menerima ajaran Bapak tentang Kaligrafi tersebut termasuk orang awam seperti saya dan mungkin ada 1 juta atau lebih orang awam lainnya yang belum tahu tentang kaligrafi yang digunakan oleh DEWA sebagai cover/logo.

    Sungguh berdosa saya dan mungkin 1 juta atau lebih umat Islam yang sudah berprasangka buruk terhadap umat Islam yang lainnya ( Ahmad Dhani dan personil DEWA lainnya) padahal yang sesungguhnya mungkin tidak begitu.

    Tuhan, maafkan saya bila hal ini sampai terjadi.

    Wassalam

    Comment by zara — 23 April 2005 @ 17:05

  10. Amin,Tuhan mendengarkan do’a orang yang di dzolimi.
    Hidup Ahmad Dhani, terus berkarya DEWA.
    go internasional. Susah hidup di Indonesia.

    God Bless You All….

    Comment by prero — 23 April 2005 @ 17:13

  11. Sebenarnya Kalau saja Dhani mau minta maaf kepada seluruh umat islam umumnya, dan bersedia mengganti ulang cover kaset baru, itu akan sedikit meredam masalah. Jangan angkuh, akui salah walaupun itu pahit.
    seperti iwan fals yang mengubah cover kasetnya WALAUPUN ‘HANYA DIPROTES OLEH SEBAGIAN KECIL UMAT BUDHA YANG MINORITAS DI NEGERI KITA INI ”
    Bagaimana dengan Lafadz Allah???
    Gw sebagai penggemar Dewa menjadi kecewaaaa berat.
    Gw hanya khawatir bencana yang terjadi pada kita sekarang ini adalah murka Allah kepada kita semua. Dewa sanggup nanggung ??

    Comment by Chika — 23 April 2005 @ 17:19

  12. Aduh Dhani….kenapa harus neko-neko sih, bikin album biasa aja, pake nggunain kaligrafi. Setahu gue lafaz Allah itu nggak boleh di bawa ke kamar mandi, kalo band dewa lagi pake baju cover, terus ke kamar mandi dosa lagi kan? Yang biasa aja deh Dhan, artistik tapi ngga harus nyakitin umat beragama.
    :(

    Comment by G-ry — 23 April 2005 @ 17:28

  13. seandainya ada seorang pake kalung dengan lafadz Allah, dia lupa melepas dan masuk ke kamar mandi. Apakah itu berdosa dan bisa dituntut?
    Saya setuju sekali dengan Ahmad Dhani. Bahkan dengan jiwa besar dia sudah menyampaikan maaf kepada seluruh umat islam (kutipan dr pernyataan Ahmad Dhani dan seluruh personil DEWA di beberapa infotemen yang saya lihat)atas “ketidak sengajaan” mereka menginjak-injak Logo DEWA (kaligrafi kufi yang bertuliskan Allah)) yang di tempatkan di lantai panggung ( saya yakin setting panggung dilakukan oleh pihak TV bukan Dhani/dewa ) dan pihak TV pun sudah meminta maaf secara terbuka.

    Bagaimana mungkin bisa di permasalahkan lagi? bila permintaan maaf sdh diucapkan dan (kebetulan saya menonton langsung acara tersebut) saya melihat sendiri mereka melakukan tindakan koreksi yang cukup cepat dengan menutup lantai yang bertuliskan kaligrafi Allah tersebut. Yang berarti mereka tanggap!!

    Saya yakin DEWA-Ahmad Dhani tidak menginjak-injak Allah!!

    Logo DEWA tetaplah seperti itu, karena justru kami bangga, DEWA mencintai Allahnya.

    Allah adalah suatu Zat yang saya agungkan dan janganlah terjebak pada pembesaran makna kaligrafi Allah. Allah tidak memerlukan pembelaan siapapun karena Dia Maha Pembela, Dia Maha Adil, Dia Maha Tahu…..

    Comment by miftah — 23 April 2005 @ 19:37

  14. Gue baca tulisan Dhani ini di Republika. Baca juga deh…Kayaknya cukup jelas ya. Tapi koq FPI dan beberapa orang yg lain masih tidak puas dan ingin memperlebar masalah. Waahh gawat tuh!!

    OASE BERNAMA LASKAR CINTA
    Ahmad Dhani
    Pimpinan Band Dewa

    Penulis merasa kaget dan terhenyak saat membaca segmen Horison harian Republika, edisi 17 April 2005, khususnya pada tulisan berjudul besar Laskar Cinta Sensasi Keblabasan Dewa. Tulisan tersebut berupaya mengupas pentas Band Dewa yang ditayangkan secara langsung melalui Trans TV, Ahad (10/4). Sebagai pihak yang terkait, dalam kapasitas pimpinan Band Dewa, penulis menganggap tulisan tersebut bersifat sepihak. Penulis tidak pernah dimintai konfirmasi tentang hal tersebut, meskipun ada pernyataan dari pihak manajemen Dewa.
    Terdorong oleh faktor itulah, penulis membuat tulisan jawaban dalam kerangka memberi informasi dan pemahaman yang sebanding sehingga para pembaca, dan masyarakat Indonesia pada umumnya dapat mencernanya secara proporsional dan fair.
    Dengan segenap kerendah-hatian, penulis ingin menyampaikan bahwa peristiwa tersebut, demi Allah, benar-benar murni sebuah musibah tanpa kesengajaan, terutama akibat ketidaktahuan team setting panggung Trans TV. Sebagai pribadi yang berupaya terus menerus untuk tawadlu’ dan tunduk kepada Allah SWT, penulis dan anggota Band Dewa pada umumnya, tidak mungkin memiliki niat melakukan tindakan penghinaan kepada Allah yang Maha Agung, sebuah tindakan yang keji dan kotor. Meskipun barangkali penulis bukan seorang Muslim yang telah sempurna dalam menjalankan semua syariat, penulis berupaya untuk tetap takzim.
    Penulis memahami sepenuhnya akibat terlukanya hati saudara-saudara seiman, terutama jika penulis sampai hati melecehkan atau berbuat tidak terhormat. Dalam hal ini, penulis sangat berharap adanya masukan-masukan dari saudara-saudara seiman. Sekeras apapun masukan tersebut, asal tetap dilakukan dalam koridor persaudaraan seiman, yakni dipenuhi nasihat serta pertimbangan kebijaksanaan yang luhur, akan penulis terima dengan lapang dada. Tetapi penulis merasa tidak habis pikir jika kemudian muncul hujatan-hujatan yang serba menyudutkan, memfitnah, dan memprovokasi.
    Berkali-kali dunia ekspresi seni di Tanah Air diguncang oleh hal yang serupa, yakni ketika seni dibuldozer dengan penafsiran atas keyakinan-keyakinan tertentu. Para penafsir berlaku seolah-olah Musa menghujat Firaun, meskipun ia belum tentu seperti Musa, dan yang dihujat juga belum tentu seperti Firaun. Tanpa harus menghakimi siapa yang benar dan siapa salah, cara-cara semacam itu tidak pernah menghasilkan solusi yang positif bagi kedua belah pihak. Bukankan Rasulullah sendiri menganjurkan agar dakwah dilakukan dengan cara-cara yang baik dan bijak.
    Lirik lagu Dewa
    Di sisi lain, penulis juga sangat berharap para kritisi, yang juga saudara-saudara seiman, mau sedikit meluangkan waktu membaca sebagian lirik-lirik lagu dalam album Laskar Cinta, dengan penuh ketelitian dan sedikit perenungan. Lirik-lirik tersebut memuat dengan kental luapan cinta kepada Sang Khalik, juga usaha penulis untuk melakukan ‘’sedekah'’ bagi-Nya. Bukankah sedekah yang tulus dan tersembunyi lebih bermakna, meski perlu waktu untuk mengetahuinya dengan jelas.
    Mungkin di telinga sebagian pendengar lagu-lagu Dewa, cinta yang temaktub adalah sangat rendah maknanya, sangat duniawi, tapi bagi mereka yang cermat tentu akan menemukan ‘’cinta'’ kepada-Nya. Ini dapat disimak dari lirik lagu Pangeran Cinta antara lain ‘’siapa yang masih tinggal dan eksis di saat semua ciptaan musnah'’, bukankah Dia Allah yang Hayyun Qayyum (QS. 55:27). Apresiasi akan sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Bukhari, juga telah mendorong penulis untuk menulis lirik lagu Satu. Demikian juga lagu Hadapilah dengan Senyuman adalah inspirasi dari sabda junjungan kita Muhammad SAW tentang mulianya sedekah dengan senyuman serta diilhami firman Allah tentang dosa putus asa (QS 12:87).
    Kekaguman kepada Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyah, membawa penulis kepada perenungan tentang pengabdian kepada Allah tanpa pamrih, menginspirasi penulis mencipta lagu yang saat ini tengah populer dibawakan Chryse. Memang harus saya akui ada lirik-lirik komersil yang sengaja saya selipkan dalam beberapa lagu.
    Contra effect laskar
    Dalam keadaan semacam itu, perilaku menginjak-injak kemuliaan Allah yang sangat penulis yakini sebagai pembimbing hidup satu-satunya, adalah suatu hal yang kontradiktif dengan keimanan penulis sendiri. Demi Allah Yang Maha Tahu, peristiwa di Trans TV itu murni akibat ketidak-mengertian kawan-kawan akan makna sesungguhnya simbol tersebut, bahkan para personel Dewa pun tidak. Semuanya saya simpan dalam-dalam di lubuk hati saya.
    Adapun pemakaian simbol mulia, di samping karena memenuhi syarat estetika, adalah dalam rangka ingin memenuhi harapan besar akan tersebarnya kasih sayang Allah ke segenap hati umat manusia. Penulis meyakini akan firman Allah bahwa ‘’Dia adalah Tuhan alam semesta'’(QS. 1:2); ‘’Tidak hanya Tuhan kaum Muslimin semata, tetapi Tuhan semua manusia'’ (QS. 114:1). Lambang bintang delapan melambangkan delapan penjuru angin sebagai simbol ke mana saja kita berpaling di sana ada wajah-Nya (QS. 2:115).
    Semua pemahaman di atas adalah murni penafsiran penulis dalam memahami ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah. Penulis tidak bermaksud menggurui, hanya merasa perlu menjelaskan semuanya karena penulis tidak menginginkan musibah ini berkembang menjadi luka membusuk yang tidak saja merugikan penulis sebagai Muslim namun juga mencoreng wajah kita sendiri, dan menanamkan kebencian terhadap sesama. Apapun kekurangan pada diri penulis, penulis adalah saudara seiman, dan menyembunyikan aib sesama kaum beriman itu suatu perbuatan mulia. Adapun judul album Laskar Cinta sama sekali bukan sebuah satire untuk Laskar Jihad yang sangat terkenal, namun murni idiom saya dan beberapa sahabat yang perduli dan tergugah tatkala sering mendengar, melihat, dan membaca betapa kata ‘’laskar'’ sering diartikan secara sepihak dengan konotasi negatif, oleh sebagian kalangan. Jihad sendiri terlalu sering diberi makna sempit sebagai perang, dan dikaitkan dengan tindakan-tindakan anarkhis oleh mereka yang tidak memahami maknanya yang hakiki.
    Maka penulis dan beberapa sahabat mencoba menawarkan sebuah oase kesejukan dengan menggabungkan kata ‘’cinta'’ dan ‘’laskar'’, tentunya juga bukan cinta dalam artian sempit seperti yang selama ini populer. Penulis berharap dengan demikian ada contra-effect yang ditimbulkan (tentu dalam jangka panjang) hinga tidak selamanya kata ‘’laskar'’ harus bersanding dengan kata ‘’jihad'’ dalam artian sempit.
    Penulis sungguh sangat menyesalkan tulisan yang mebenturkan penulis dengan saudara-saudara sesama Muslim, juga terhadap Laskar Jihad yang secara pribadi penulis tidak pernah menaruh kebencian kepada mereka sedikit pun. Apalagi secara jujur harus penulis akui bahwa saudara-saudara yang tergabung dalam Laskar Jihad telah banyak berbuat untuk umat ini dibandingkan sumbangsih penulis pribadi.
    Penulis juga bertekad untuk selalu mencoba berdiri di atas dan untuk semua golongan. Namun sebagai individu Muslim, penulis berkeinginan untuk bebas mengutarakan cita-cita mulia tersebut tanpa harus mengorbankan saudara-saudara yang sangat penulis sayangi. Terlepas dari itu semua penulis secara pribadi menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun atau pihak manapun yang merasa tersinggung akan ucapan atau tindakan penulis selama ini. Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih atas tegur sapa, juga kritik membangun yang ditujukan kepada penulis dan Dewa. Insya Allah, penulis akan berusaha berbuat lebih baik lagi bagi agama, bangsa, dan negara tercinta.
    Khusus kepada Bapak D Sirajuddin AR, penulis sampaikan syukran atas husnuddzon-nya. Allah merahmati kita semua dan sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha pengasih. Penulis akan nukil beberapa bait puisi Rumi untuk kita renungkan:
    Ketahuilah, bahwa segala yang kasatmata adalah fana,
    Tapi dunia makna tak akan pernah sirna.
    Sampai kapankah engkau akan terpikat oleh bentuk bejana?
    Tinggalkanlah ia:
    Pergi, airlah yang harus engkau cari!
    Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan.
    Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang.
    @@@@@@

    Comment by DianR — 24 April 2005 @ 02:07

  15. kalo machiavelli masih hidup mungkin ia akan bangga dengan muridnya yang mengamalkan ilmunya mentah-mentah, yaitu si rizib –ngaku habayb– karena ia telah menjadikan kebenaran adalah dirinya dan dirinya adalah kebenaran. salah satu statemen ttg masalah kover album laskar cinta dewa adalah bahwa lambang yang digunakan adalah lafad Allah. Padahal kalo dilihat dari simbol tarekat asli dengan yang sudah dipakai sama album laskar cinta Dewa lain..Dewa menghilangkan huruf Ha sehingga hanya tersisa huruf Alif Lam Lam yang secara substansi tidak menyebut ataupun menunjuk kalimat Allah. Lalu dari mana si riziq dapat ide bahwa itu lafadhul jalalah (ucapan Allah). Kalo pemakaian simbol yang sudah dimodifikasi jadi masalah kan harusnya simbol itu kehilangan maknanya dan Dewa sendiri kan tidak menggunakan simbol itu sebagai bentuk penghinaan? Dugaan gue, si riziq ini ngaku dirinya sebagai Tuhan sehingga dia merasa bahwa dia yang paling pas dan paling benar untuk menafsirkan dari pikiran kreatif Dhani mengenai simbol itu. Dan, yang paling “benar” dari si riziq ini adalah ketika ia mengklaim sebagai bodiguard Tuhan yang berhak untuk membela kepentingan Tuhan di bumi ini..Hehehe ini kan sebuah alasan yang merendahkan keMaha Esaan dan keMaha Perkasaan Tuhan SWT.

    Maju terus Dhan..biar gue gak suka sama lo yang angkuh, arogan, sok jendral, diktator dan suka njiplak lagu-lagu/aransemen beatles, queen, led zeppelin, dan lirik-lirik rumi, gibran tapi gue lebih gak suka sama orang yang paling merasa paling benar sendiri…”pendapat gue mungkin benar tapi ada salahnya, pendapat lo mungkin salah tapi ada benarnya” (voltaire)

    gue gak suka sama elo tapi gue akan membela hak-hak kamu!!!

    Comment by Jinggoloba — 24 April 2005 @ 03:50

  16. Saya tidak begitu suka lagu Dewa, tapi dengan membaca tulisan Ahmad Dhani sendiri dan komentar dr Zara, Miftah dan Jinggoloba, saya merasa koq orang sudah melakukan klarifikasi dan dengan rendah hati meminta maaf masih disalahkan (walaupun si peminta maaf sebenarnya belum tentu salah). Saya dukung Dewa untuk terus berkarya dan menggunakan logo modifikasi kaligrafi kufi yang sesungguhnya adalah milik publik (pembuatnya adlah sudah bersifat anonim). MAJU TERUS DEWA DAN PARA SENIMAN LAINNYA!!

    Untuk rekan-rekan yang antipati dan “marah” silahkan baca tulisan Ahmad Dhani tsb. Bagaimana kalau kita berfikir positif saja dan memiliki semangat memaafkan. Bukankah Alloh itu Maha Pemaaf, Maha Pengasih dan Penyayang….

    Comment by hazairin — 24 April 2005 @ 04:05

  17. Apa kita bisa biarkan grup kecil semacam FPI dan habib rizieq mengatasnamakan umat islam mengancam orang lain yang tidak setuju dengan pendapatnya?
    Apa mau kita umat islam di’pimpin’ dan diatas namakan oleh habieb rizieq cs?
    Kelompok semacam FPI itu menurut aku merugikan umat islam sediri karena agenda mereka sempit sekali dan tidak mengindonesia. Mereka sibuk dengan slogan, berpolemik dan seolah lupa bahwa ajaran agama itu bukan hanya simbolisme semata tapi diresapi di hati individu-individunya. Coba aja lihat mereka mengubrak-abrik cafe di waktu ramadhan. Bukankah lebih penting mengajak umat islam untuk tidak mendekati cafe2 itu memang hakekat puasa itu menjauhi tempat2 begituan.
    Sekarang malah minta dewa bertobat, minta maaf dan cover kaset LC diubah. Siapa FPI yang bisa memonopoli penggunaan kalimat allah? Sombong banget orang2 ini. Jelas yang cari sensasi bukan dewa (ahmad dhani) tapi FPI dan Pak Rizieq. Album dewa udah beredar 6 bulan dan baru sekarang dipermasalhkan.

    Comment by jaml — 25 April 2005 @ 11:50

  18. dhani- dhani …
    elo udah keseringan jiplak sana sisni…dulu jalaludin rumi sekarang ginian..khan nggak pantes kalao elu nyinggung unmat islam…gw sendiri bukan islam tapi gw paling sebel kalo ada orang pake salib nayniyi-nyaniyi lagu yang nggak hubungan sama tuhan,.,..kayak madonmna gw sebel bener…elu seharusnya minta maaf…tunjukkan itikad baik dong …tarik tuh album..elu menyebar keresahan doang kerjanya…

    Comment by john pati — 26 April 2005 @ 19:34

  19. udah dan..tarik azza tuh album…
    bikin resah azza

    Comment by Fadi — 26 April 2005 @ 19:35

  20. gw ngga ikutan..tapi gw takut gara 2 elu dhan indonesia yang aman dan tertib ….bakal ngawur lagi elu cuma pemecah belah bangsa

    Comment by robert simalungu — 26 April 2005 @ 19:36

  21. Yang nggak ngerti maslah. Sebaiknya baca penjelasan singkat ini. Gue setuju bgt dengan isinya. Sebenarnya kalimat Allah pada sampul Dewa itu bukan Tulisan “Allah” lagi tapi “Alla” dan huruf Ha-nya hilang, itu bukan huruf Ha. Selain itu jika di cermati lagi bagian bawah dari logo tersebut jika dibaca bukan huruf Allah lagi karena alifnya berada di bawah atau kalo kita baca itu ada disebelah kiri. Sedangkan huruf Arab dibaca dari kanan ke kiri (from neverdoubt)

    Comment by adi — 26 April 2005 @ 20:20

  22. Personally, I don’t like Dewa, not at all…
    Tapi utk kasus ini I wanna say: Keep going on, Dewa!

    Agama, bukan milik org2 semacam Habaib2 dan Said2 jenggotan yang mengaku pewaris nabi itu (entah dari pihak mana, mengingat Muhammad bukan bapak dari seorang putra, sementara Arab dan Islam itu patrilineal!). Agama itu universal dan merupakan urusan Tuhan dgn mahluk-Nya.
    Kenapa Muhammad tdk ditampilkan wajahnya, karena mengkhawatirkan kultus simbolik semacam fanatikus sempit seperti itu Habib. Orang2 yg merasa hanya mereka yg berhak mencintai Tuhan.
    Mereka mengaku ulama, dan merasa memegang kunci surga dan neraka. Berhak melaknat siapa saja. Tapi mereka lupa, bahkan Muhammad saja ditegur Allah saat melaknat Abu Sufyan Cs karena sakitnya kalah dan melihat kematian Hamzah ibn Muthalib yang mengenaskan. Allah mengatakan bahwa tidak ada hak bagi beliau, Muhammad, apakah Allah akan menunjuki hati org yang dilaknatnya, akan mengampuninya ataukah tidak.

    Apa maunya ‘agamawan-agamawan ekslusif’ ini?!! Mereka menjadi orang yang membuat Islam hanya berkisar pada simbol semata, bukan pada inti ajarannya. Mereka termasuk orang yang mengobok-obok umat.
    Jadi: teruskan Dhani, walau aku tidak suka padamu karena kau egoistic dan “too sufiism”, juga plagiator, but keep goin; on.
    Dan buat habib dan ulama2 kecele,,, why dont you all f@ck away to heaven early ?
    Telaah dulu arti ulama. Karena aku, pemilik blog ini, dan siapa saja yang memiliki ilmu, itu adalah ulama juga. Ingat sumbernya: ‘Ilm.

    Comment by alex — 27 April 2005 @ 04:04

  23. wah, wah…
    itu si john pati, Fadi dan robert kayaknya beasal dari satu orang deh. Simpatisan FPI kali. Nyamar jadi org kristen. Huhuhu…
    Biasa, taktik dukung-mendukung di internet kan begini. Bikin banyak alias trus posting yg isinya satu nada, saat bersamaan.
    Bagi gua, sih maju terus ama dewa!
    MUi aja dukung dewa kok. Tapi mungkin yg perlu diubah itu gambar di bagian tengah, bukan Logonya seperti saran MUI.
    Baca :
    http://www.kompas.com/gayahidup/news/0504/27/110933.htm

    Comment by jamal — 27 April 2005 @ 13:58

  24. jamal : Memang benar usulan anda. Ingin memberi masukan atau komentar cantumkan Nama ato paling enggak alamat email yg valid. Bagaimana ???

    Comment by Indra Wahyudi — 27 April 2005 @ 19:07

  25. duhh kapan bisa maju indonesia..seni selalu bertentangan dengan apapun yang namanya agama…huh !!!
    ayat ayat yang sama yang selalu digunakan untuk menentang seni…..!!!
    inget kasusnya iwan fals, atiek cb, dik doank, pingine apa sih indonesia ini….
    sedikit sedikit Tuhan, sedikit sedikiit agama, ….
    kalo mau Tuhan……pelajari diri sendiri dulu baru ……temui Tuhan…..
    TERKUTUKLAH ORANG ORANG YANG MENGATASNAMAKAN TUHAN UNTUK MENINDAS ORANG LAIN…

    Comment by astral — 28 April 2005 @ 08:27

  26. menang jadi arang, kalah jadi abu….

    Comment by silaen — 28 April 2005 @ 19:00

  27. Dhani..this is the best album you’ve ever made. the lyrics dan the cover is amazing, superb..!!! FPI ngotot nyuruh lo narik kaligrafi Allah karena mereka terlalu dibutakan oleh syariat yang mereka jadikan sebagai harga mati.itulah yang membuat mereka merasa gue yang paling bener, kalo gak sesuai ama keyakinan gue maka lo semua salah…!!!yah emang sih lo juga salah gak ngasih tau ke org2 sejak awal kalo itu lambang Allah jadinya karena gak tau mereka(kru trans tivi) malah buat tuh logo sebagai karpet yang akhirnya malah keinjek2 ama personel band lo, tapi biar giamana juga lo kan udah minta maaf, harusnya FPI gak usah mempersoalkan lagi dong. coba deh kalo FPI mau ngedengerin lirik2 lagu lo, pasti mereka bisa ngerti kalo maksud lo tuh baek dan bukannya bermaksud menghina Allah tapi justru mengagungkan allah dan mengajak mencintai Allah, tapi FPI ngedenger lagu laskar cintanya harus pake hati, bukan pake emosi dan juga bukan dengan keyakinan syariat yang dibuat menjadi harga mati. Ingat FPI..!!! syariat Islam itu fleksibel…, jangan liat sesuatu dari sampulnya doang, liat isinya juga dong. lagian napa emang kalo kaligrafi Allah itu tetap dipake, emangnya cuman grup2 nasyid dan qosidahan aja yang boleh make nama Allah di kaset mereka, dakwah itu banyak caranya lho, apakah kalo dakwah itu harus make lagu2 bernada arab dan make jubah gede dan sorban tiap kali manggung?!sempit amat sih pikiran FPI. soal pemilik kaset itu mo bawa kaset yg bertuliskan nama Allah itu ke cafe atau diskotik kan tergantung masing2 org, emangnya ada jaminan juga kalo pemilik kaset2 nasyid yag ada tulisan Allah gak bakalan bawa tuh kaset ke tempat2 yang gk sepantasnya, baik sengaja atau gak sengaja?
    Dhani dengan besar hati rela memodif kaligafi Allah itu, dan itu membuktikan dhani sepertinya mengerti banget dengan pepatah “jangan menilai sesuatu dari sampulnya aja” biarin dhan..,walaupun sampulnya gak pake kaligrafi Allah lagi, yang penting kan isinya yang amat sangat merefleksikan isi hati lo sebagai hamba yang sangat mencintai Allah, biarin penampilan lo gak ada mirip2nya ama ulama secuil pun, tapi lirik lagu lo kayak ceramah ulama sufi tingkat tinggi(yah emang sih beberapa lirik2 itu lo ambil dari karya beberapa sufi besar kayak Jalaludin Ar-Rumi)tapi tetap aja lo yang bisa kepikir dan berani untuk membuat album ini aja udah hebat banget, padahal album2 lo yang dulu kan gak setotal ini dalam menyampaikan cinta sufi kepada Allah.Hebat banget Dhan..gue salut banget ama lo, four thumbs up deh buat lo..!!!Keep on goin’. Be youself luar maupun dalem..!!

    Comment by Teguh — 29 April 2005 @ 18:33

  28. Logo setan, logo malaikat, logo tuhan tuh sama-sama logo dan ada pengikut dan penghayatnya atau kebalikannya ada pembencinya. Kalau Dani tuh ngerti (pasti ngerti) makna logo itu tentu cocok dengan penempatannya kukira tak masalah di publik.
    Semua orang ngerti logo bajak laut, itu lo gambar tengkorak diatas tulang bersilang. Nah kita hidup di negeri pembajak (cd, kaset, teknologi, karya seni dll) harus kita kibarkan logo itu tinggi tinggi. Jangan malah di jadikan karpet dan diinjak-injak. Bahaya pengikut-pengikutnya….
    Yah jadi pelajaran saja buat semua…toh cuma logo.

    Comment by haidier — 30 April 2005 @ 16:47

  29. memang setiap logo apapun bentuknya pasti ada mengandung arti dan makna yg sangat mendalam, dan itu adalah hasil dari seni dan karya anak bangsa, ketika seni dan logo itu terkesan menyinggung tidak ada salahnya kita menerima, seni tanpa adanya aturan agama akan bobrok..seni yang ada nilai agama aja ada kadang bobrok apalagi yg tidak ada.
    Sekilas saya melihat logo dewa tersebut bertuliskan lilah yang artinya ALLAH, ditulis dalam kaligarfi kufi (kubisme) tadi dengan Allah yang gaya khas kufi adalah kesan kaku dan kotak-kotak dan letak permasalahannya dari bentuk bintang.
    jika logo tersebut dijadikan lambang selama tidak dinjak-injak itu tidak jadi masalah tapi jika pengagumnya dewa sudah kelewatan cinta apa tidak bisa menutup kemungkinan logo tersebut dijadikan karpet dan kemudian diinjak2.., dan lagi pula tidak mungkin ustadz Wahfiuddin menegur satu persatu, dari itu beliau lgsg menegur pucuk pimpinannya..agar kelak logo tersebut tidak disalah gunakan oleh pengagum dewa..,
    Saran saya perbaiki logo dan tersebut dan terus tanamkan cinta anda kepada Allah dan jangan merajuk gara2 ditegur..teruslah berkarya buat bangsa..

    Comment by bobo — 1 May 2005 @ 06:16

  30. Allah lebih sekedar LOGO dan SIMBOL!
    Ustad wahfiuddin sudah menyebar fitnah dengan menyajarkan dhani dengan zionis israel. Kesalahan dan kehilafan bukan hanya milik orang awam, tapi ulama juga. Godaan Syaetan bikin hanya ke orang awam tapi lebih ke ulama juga. Ada ulama yang terlalu emosional dan judgemental menghadapi persoalan sehingga tanpa disadari telah menyebarkan gosip dan fitnah. Maukah ulama seperti itu minta maaf? Atau hanya bisa meminta orang untuk minta maaf?
    Kasus ini membuat kita sadar bahwa kita umat selalu mencari-mencari ulama yang kita anggap patut dicontoh dari perkataan dan tingkah laku. Bukan hal baru memang, Umat Islam indonesia bingung mana ulama panutannya. Dari kasus Dewa ini, beberapa ulama bagi saya sangat diragukan integritasnya. Dari perkataan dan tindakannya ada jarak yang sangat lebar.

    Comment by jamal — 2 May 2005 @ 13:01

  31. Wahai manusia,
    dewa aja yang goblok tuh lambang Allah kok
    dinjak-injak.

    Makanya, Dhan kamu kalau kagak tau
    jangan sok hebat dan pinter
    tanya dulu pada ahlinya
    ( ini jadi pelajaran bagi anak muda )
    yang sok dan gemagus
    Kacian dech lu …

    Comment by Gue Oke — 6 May 2005 @ 17:12

  32. Memang hebat tuh FPI
    saat orang (yang ngajunya Islam )
    bisu kagak mau berantas kemaksiatan
    ternyata FPI tampil ke depan
    membela Islam
    Hidup Islam !
    Hidup FPI !
    Maju terus pantang surut …
    hancurkan musik-musik syetan itu
    seperti :
    Slank
    Jamrud
    Sheila on 7
    dan lainnya …

    Comment by Gue Oke — 6 May 2005 @ 17:15

  33. anjing lo, dhani!!
    jangan ngeyel kalo jadi orang tuh!
    gw suka lagu dewa tapi gw tambah ga demen ma dhani, makin songong aja!!
    gw bukan yg fanatik banget ma agama, gw akuin kadang shalat pun belum tentu lima waktu, tapi kalo udah cobain nyenggol masalah yg mendasar kaya gitu, gw bacok juga lo kalo ketemu!!
    hati2 aja lo dhan…

    Comment by agung — 9 May 2005 @ 00:07

  34. dani sebagai plagiat terbesar……… lol

    Comment by ernesto — 9 May 2005 @ 09:47

  35. untuk Gue Oke,

    Mungkin kamu itu bukan manusia kali ya. Soalnya yang bisa manggil manusia itu “Wahai manusia” biasanya cuma Allah, malaikat atau setan. Tetapi kalau kamu malaikat, kayaknya enggak mungkin, apalagi Tuhan, pasti lebih tidak mungkin (peluangnya 0). Kesimpulannya, berarti kamu itu: “s”. Ihh serem!!! Ada setan!!!!!

    Untuk Agung,

    Koq nafsu banget sih? Semua pembaca blog tidak bodoh atuh Gung. Kenapa kamu begitu penuh kebencian sih. Saran saya sebaiknya kamu shalat Tahajud agar Dhani berubah seperti yang kamu harapkan, tidak usah penuh kebencian seperti itu. Itu tidak baik mas, dan bisa menghancurkan dirimu sendiri. Marilah kita ber-do’a untuk perubahan yang baik.

    Semoga umat Islam bisa membawa “Salam”.

    Comment by adi — 9 May 2005 @ 16:32

  36. Ini bukan masalah kecil bung,,! ini bersangkutan dengan kaligrafi Allah Swt!

    Comment by hamba allah — 10 May 2005 @ 23:54

  37. pokoknye orang-orang yang caci maki dhani/dewa cuma gara-gara sampul kasetnye… ORANG ITU KAGAK ADA OTAKNYE

    Comment by sitibrit lemahabang — 23 May 2005 @ 15:25

  38. pokoknye orang-orang yang caci maki dhani/dewa cuma gara-gara sampul kasetnye… ORANG ITU KAGAK ADA OTAKNYE

    Comment by sitibrit lemahabang — 23 May 2005 @ 15:26

  39. http://www.swaramuslim.net/more.php?id=1273_0_1_0_M

    Jejak Yahudi Dewa & Ahmad Dhani
    Kritik & Investigasi Oleh : Erros Jafar 22 May 2005 - 2:00 pm

    Kasus Dewa telah meninggalkan pertanyaan besar, sejak tanggal 2 Mei
    lalu seluruh pemberitaan mengenai kelanjutan kasusnya sepertinya
    masuk keranjang sampah tepatnya sejak budaya H. Ridwan Saidi
    melaporkan Dewa ke Kejaksaan Agung sehubungan temuan beliau bahwa
    album dewa menyesatkan dan memakai lambang lambang yang dilarang.
    Padahal masyarakat banyak yang menunggu kelanjutan dari hasil temuan
    temuan tersebut. Syukur alhamdulillah, pada edisi Mei 2005, majalah
    Saksi memuat artikel dan wawancara dengan budayawan H. Ridwan Saidi.

    Penjelasan ini tentu saja sangat penting khususnya bagi H. Ridwan
    Saidi untuk menghindari tuduhan “Fitnah” dari group band Dewa.

    Sangat menarik untuk kita telaah bersama, salah satu lagu
    berjudul “SATU” dalam album “Laskar Cinta” versi CD, di bawah lirik
    lagu ditulis Ahmad Dhani, “THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG”, sementara
    untuk versi Kasetnya bertuliskan “THANKS TO: AL-HALLAZ” yang tak
    lain adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar

    SATU

    Aku ini…adalah dirimu
    Cinta ini…adalah cintamu
    Aku ini…adalah dirimu
    Jiwa ini…adalah jiwamu

    Rindu ini adalah rindumu
    Darah ini adalah darahmu

    Reff :
    Tak…ada yang lain..selain dirimu
    Yang selalu ku puja…ouo…
    Ku…sebut namamu
    Disetiap hembusan nafasku
    Kusebut namamu…
    Kusebut namamu…

    Dengan tanganmu…aku menyentuh
    Dengan kakimu…aku berjalan
    Dengan matamu…ku memandang
    Dengan telingamu…ku mendengar
    Dengan lidahmu…aku bicara
    Dengan hatimu…aku merasa

    Reff…Reff…Reff…Reff
    “THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG”

    Album DEWA 19 (1992)

    Di cover depannya ada gambar piramid yang atasnya disamarkan, tapi
    jika diperbesar akan tampak ada sesuatu di puncaknya. Ini mirip
    dengan lambang gerakan rahasia Zionisme (Iluminati). Bandingkan
    dengan gambar piramid Yahudi yang terdapat dalam lembaran One Dollar
    AS

    Album TERBAIK-TERBAIK (1995)

    Terpampang simbol Dewa RA (Dewa Matahari Dalam Mitologi Mesir Kuno).
    Dewa Ra diklaim Yahudi sebagai salah satu dewa mereka. Di Sinagog
    lambang ini lazim dipajang.

    Selain itu, dalam album yang sama ada pula gambar satu halaman
    Protocol of Zions dalam bahasa Ibrani. Ridwan Saidi (pakar Zionisme)
    yang menguasai bahasa Ibrani menegaskan, “ini jelas diambil dari
    satu gambar Protocol of Zions, karena diatas lembaran itu ada judul
    dan logo. ini tidak ada dalam Taurat ataupun Talmud”.
    Lalu ada simbol lingkaran dengan titik di tengahnya, dimana personil
    Dewa berdiri dibawahnya. Simbol ini lazim dikenal sebagai simbol
    Mata Setan yang menguasai dunia (evil eye), sebuah simbol Yahudi. Di
    bagian lain dalam album yang sama, simbol mata setan juga dimuat.

    Album The Best of Dewa 19 (1999)

    Di pinggiran discnya terdapat simbol panah dan garis lurus yang
    saling memotong spt salib. Lambang garis tsb sbenarnya sinar yang
    aling memotong. Ini salah satu simbol dari gerakan Freemansonry
    Lambang sinar yang saling memotong ini secara “kreatif” juga
    terdapat dalam cover kaset bagian dalam dan depan secara keseluruhan.

    Album Bintang Lima (2000)

    Gambar sayap lazim dipakai sebagai salah satu simbol gerakan
    perkumpulan Theosofie Yahudi.

    Album Cintailah Cinta (2002)

    Cover depan album Dewa ini memuat secara mencolok simbol Eye of
    Horus. Horus adalah Dewa Burung dalam mitologi Mesir Kuno. sama spt
    Dewa Ra, Yahudi juga mengklaim Horus merupakan salah satu dewa
    mereka. Di cover dalam juga terdapat simbol yang sekilas mirip mata,
    tapi sebenarnya merupakan contekan habis salah satu simbol yang
    terdapat dalam buku The Secret Language of Symbol yang disarikan
    dari kitab Yahudi, Taurat. Simbol ini biasa disebut Femina Geni.

    Masih dalam album ini, masih terdapat beberapa simbol-simbol mata,
    yang merupakan salah satu simbol Gerakan Freemasonry

    Album Atas Nama Cinta I & II (2004)

    Lambang sayap yang merupakan lambang resmi Dewa dimuat dalam album
    live ini dengan latar belakang hitan kelam.

    Album Laskar Cinta (2005)

    Ininlah album ketujuh Dewa yang akhirnya menjadi batu sandungan dan
    membuka selubung semua album-album Dewa sebelumnya yang sarat dengan
    kampanye simbol & lambang Yahudi.

    Selain lambang Allah yang dimuat tidak sebagaimana mestinya,
    tipologi huruf “Laskar Cinta” pun mengambil dari pola huruf Ibrani

    “Pola huruf tulisan Laskar Cinta diambil dari pola huruf Ibrani,”
    ujar Ridwan Saidi seraya membuka kitab Taurat berbahasa Ibrani asli
    dari Israel.

    Dibawah lagu berjudul “Satu” (album Laskar Cinta), berisi ajaran
    sesat yang mengatakan ada kesatuan wujud antara Sang Khaliq dengan
    mahluk-Nya. Dalam bahasa Syeh Siti Jenar atau Al Hallaj, paham ini
    disebut “Manunggal ing kawulo Gusti”. Parahnya, ini seakan
    dibenarkan sendiri oleh Ahmad Dhani dengan menulis di bawah lirik
    lagu tsb dalam cover versi kaset, “THANKS TO: AL-HALLAZ”.

    Dalam album yang sama versi CD, di bawah lirik lagu “Satu”, ditulis
    Ahmad Dhani, “THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG”, yang tak lain adalah
    nama lain dari Syekh Siti Jenar

    Siapakah Ahmad Dhani?

    DHANI THANKS TO:…. JAN PIETER FREDERICH KoHLER (THANKS FOR THE
    GEN). Dhani berterima kasih kepada:….Jan Pieter Frederich Kohler
    (Terima kasih atas darah keturunannya)

    Merunut dari silsilah keluarga,
    Jan Pieter Frederich Kohler adalah kakek Dhani (dari pihak Ibu) yang
    berkebangsaan Jerman. “Kohler” adalah nama keluarga, sejenis marga.
    Jadi jelaslah, Dhani punya kebanggaan akan darah darah keturunannya
    itu,” ujar pengamat Zionisme H. Ridwan Saidi.

    Bisa jadi, sebab itulah dalam berbagai kesempatan show-termasuk
    ketika manggung di Trans TV yang menginjak-injak karpet dengan motif
    logo Allah yang kontroversial itu, Ahad (10/4)- Dhani Dewa
    mengenakan kalung Bintang David, simbol Zionis-Israel.

    Bermula dari kasus kontroversial logo Allah, terkuaklah misteri
    dibalik (Dhani) Dewa

    Dalam album-album Dewa, bertebaran gambar dan simbol-simbol Yahudi.
    “Ada apa ini? Dalam album-album selanjutnya Dewa juga banyak memuat
    logo dan simbol-simbol Zionis. Ini harus dilacak, ada apa di
    belakang Dewa?” papar Ridwan Saidi.

    Saya sebagai orang yang telah lama mempelajari Zionisme berani
    menyatakan jika ini merupakan usaha penyebaran simbol2 Yahudi
    terbesar sepanjang sejarah Indonesia!” tandas Ridwan.

    taken by Majalah Saksi Edisi Mei 2005
    wallahu’alam

    Comment by Irwan — 26 May 2005 @ 20:43

  40. aku sangat bimbang atas kasus yg menimpa dewa dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana dia tahu bahwa itu kaligrafi lafadz allah tapi kenapa dia merubahnya dan di injak injak lagi terlintas dalam benaku bahwa dia seakan akan duduk diatas singasana agung di sekelilingmu berdiri pemuja yang memuja muji penampilanmu kreatif sih boleh tapi jgn gegabah ingat dhan negara kita mayoritas muslim

    Comment by ghozali — 4 June 2005 @ 15:08

  41. Assalamualikum
    sebagian comment sanagt menarik juga. Menurut saya mengkritik sih boleh2 saja tapi harus bijak sana lah dikit, FPI jgn munafik lah. Saya rasa tidak ada niatan sedikitpun Dhani melecehkan ALLAH. Saya tau itu.
    mengenai ‘lambang sampul laskar cinta’ apa memang itu bertuliskan ALLAH??
    wah klo gitu jangan-jangan daun-daun yg berserakan di pinggir jalan, klo diamat-amati/diotak-atik juga bisa berlambangkan ALLAH, kayu-kayu,kerikil-kerikil yg berserakan di pinggir jalan pun klo di otak-atik bisa berlambangkan ALLAH. Sementara kartu undangan yg bertuliskan Bismillahirrohmanirrohim banyak yg tergeletak di tong-tong sampah.
    Sesungguh nya DEWA itu musik islami,liat aja lirik2 nya yg memuja ALLAH. Banyak musik yg bernafaskan islami tapi apa??
    sekali lagi jangan lah munafik.

    Wassalamualikum

    Comment by MALIK — 14 June 2005 @ 08:00

  42. menurut gue si dhani tuh kreative juga ya orangnya. walau terkadang hasil karyanya musti di pertanggung jawabkan. tapi two thumbs up deh buat dhani ahmad but jangan lupa hati-hati coy entar di gebukin warga lho. ;)

    Comment by jakfar shodiq — 16 June 2005 @ 01:35

  43. Man, what is all the fuss about?

    Pertama - that image looks NOTHING like the Arabic for Allah. Zoom in and you can see that the text at the top is Arabic-looking, but it spells (phonetically) “Laskar Cinta” (Soldier of Love).

    Kedua - Aren’t there issues like corruption, drug use and tsunami reconstruction that these guys (FPI) should be worrying about? FPI do lots of good work - their expertise, resources, and considerable influence should be directed at things that really have a negative impact on Muslim youth in Indonesia (like drugs). Basically - pick and choose your battles…

    Ketiga - Dewa are Muslim - at least nominally. They won’t win most religious brothers of the year, that’s for sure. But AFAIK only the vocalist, Once, is not Muslim. So if Dewa are Muslim, why would they be stupid enough to do what the Front for the Defence of Islam are alleging?

    People listen to music because of its aesthetics or because they like the way it sounds - not for spiritual guidance. No teenager in Indonesia will suddenly become atheist just because Dewa’s lyrics supposedly question the existence of God - unless that person has underlying psychological issues.

    FPI are a dedicated organisation that has pure niyat/intentions and resources that would be better spent elsewhere. Seriously, they should just leave Dewa alone…

    Comment by CR — 24 June 2005 @ 08:50

  44. Allah tidak akan menjadi hina karena “dihinakan”.
    KAYA’ GITU AJA KO’ REPOT. KAGA’ ADA KERJAAN LAEN APA.
    Sekarang pada nanya diri masing-masing aje deh, apa kita sudah menjadi orang beragama seperti disuruh-NYA.
    Yang ada adalah kita sangat korup, manipulator, mengambil kesempatan dalam kesulitan orang lain, selalu mencari shortcut, lebih bangga pergi haji daripada membantu tetangga yang kesusahan, yang ngaku ulama lebih bangga duduk dzikir sepanjang hari daripada ikut mikir mencari jalan keluar agar tetangganya bisa hidup tenang, yang lain berbangga diri sambil membusungkan dada kalau besalaman tangannya dicium orang - dsb…dsb-nya. Memang masyarakat feodal…..

    Comment by Nurhidayat — 25 June 2005 @ 17:19

  45. klo menurutku si dani tuh emang puny amisi kusus dalam setiap albumnya.kalian pernah baca belum tentang simbol2 yahudi yang selalu ada dalam setiap cover album dewa.yahh…bukannya saya gmn…tapi klo menurutku dhani tuh kasian bgt lhoo

    Comment by me — 29 June 2005 @ 10:31

  46. Ya Alloh, tunjukkanlah hamba jalan yang benar, yaitu jalan dari orang-orang yang Kau ridhoi, bukan jalan orang-orang yang kau sesatkan. Sungguh memprihatinkan, masalah aqidah kok buat main-main hanya karena saking cintanya sama Dhani Dewa, malah orang yang berusaha memberikan kajian dll ikut-ikutan dihujat. Saya sungguh tidak rela, logo Alloh diinjak-injak!

    Comment by inas — 6 July 2005 @ 22:10

  47. Gue heran orang kaya dani kok bisa jadi duta lingkungan hidup, rambutnya aja di cat udah ketahuan nggak ramah lingkungan, emang yang milih si Mulyana Koruptor he..he.., kalo Dani jadi Duta Tempik Indonesia gue setuju!!

    Comment by kursiun — 14 July 2005 @ 13:08

  48. Saya melihat lirik “SATU by dewa” dengan cara pandang yang berbeda,karena pada dasarnya lirik sebuah lagu adalah perumpamaan atau sebuah puisi.Coba deh MELIHAT BUKAN APA YANG TERTULIS TAPI APA YANG TERSIRAT!

    AKU INI ADALAH DIRIMU artinya Allah menciptakan manusia seturut rupa&gambarNYA. Didalam diri manusia ada jiwa,roh,dan raga&semua itu sesuai dgn “sketsa Tuhan” saat menciptakan manusia.So aku(manusia) ini adalah diriMu(sketsa?karyaMU)

    CINTA INI ADALAH CINTAMU,artinya:
    Manusia bisa memiliki rasa cinta&kasih karena Tuhan yang terlebih dahulu memberi cinta pada manusia.Jika ada yang menganggap kita duluan yang mencintai Tuhan,aduh sombong rohani banget!Emang kita manusia ini siapa?Manusia pada hakekatnya dapat memiliki cinta jika menerima kemampuan mencintai dari Allah karena itu liriknya “bukanlah” :cinta ini adalah karena hebatku manusia tapi CINTA INI ADALAH CINTAMU(pemberian/ “gift” dariMU)

    JIWA INI ADALAH JIWAMU,artinya:
    yang membri jiwa manusia adalah dari jiwa(kerinduan) Tuhan,MAKANYA KITA MANUSIA PUNYA SUARA HATI dimana jiwa kita dipimpin oleh SUARA HATI itu.Jangan pikir jiwa ini kosong sehingga bisa melakukan apapun yang baik karena hebatnya jiwa manusia,tapi jiwa ini adalah jiwa yang dikuasai secara otoritas oleh Jiwa(Suara) Tuhan.Saat anda atau saya mau melakukan kejahatan seperti korupsi,sombong,marah,mencontek ada SUARA HATI yang mengajak untuk menjauhi perbuatan dosa itu,itulah “SUARA TUHAN-JIWA TUHAN”.Jika anda tidak setuju ya gak ada yang memaksa untuk setuju dengan opini ini,mungkin karena selama ini anda menganggap manusia atau diri anda hanya dipimpin oleh kehebatan jiwa anda,makanya orang yang bisa kerasukan setan karena jiwanya kosong tidak ada FIRMAN TUHAN yang adalah juga JIWA TUHAN(baca berulangkali kalo gak ngerti)

    DENGAN TANGANMU AKU MENYENTUH
    DENGAN KAMKIMU AKU MELANGKAH
    DENGAN MATAMU KUMEMANDANG
    DENGAN TELINGAMU KUMENDENGAR
    DENGAN LIDAHMU AKU BICARA
    DENGAN HATIMU AKU MERASA,artinya:
    “pada syair diatas adalah kerinduan manusia untuk hidup hanya dengan meneladani Tuhan yang adalah Maha Sempurna sehingga pada saat menyentuh tidak menyentuh dosa karena tangan yang meneladani dan mengikuti maunya Tuhan itu adalah tangan yang berusaha kudus,jauh dari maksiat,demikian juga saat melangkah,,memandang,mendengar,bicara,bahkan merasa semuanya memakai empati&berbuat apa yang Tuhan kehendaki.
    Coba bayangakan jika kalimatnya
    DENGAN TANGANKU AKU MENYENTUH,
    DENGAN KAKIKU AKU BERJALAN
    DENGAN MATAKU KUMEMANDANG
    DENGAN TELINGAKU KUMENDENGAR
    DENGAN LIDAHKU AKU BICARA
    DENGAN HATIKU AKU MERASA??
    Naif sekali bukan jika manusia menyatakan&memberitakan BAHWA SEMUA YANG DILAKUKAN KARENA HEBATNYA MANUSIA ITU SENDIRI.Ini baru aliran sesat namanya “NEW AGE”.Apa itu NEW AGE,anda mungkin sebagian sudah tau.Jika belum tau,tunggu saja berita selanjutnya.Lagipula dengan kalimat itu orang juga pada ngerti kalau manusia punya tangan,kaki,mata,telinga,lidah&hati.Tapi semua itu dari Tuhan dan difungsikan oleh Tuhan bukan oleh otoritas manusia itu.Pada dasarnya manusia just “dust and back to dust”

    Sehingganya pada reff liriknya:
    TAK ADA YANG LAIN SELAIN DIRIMU YANG SELALU KUPUJA
    KUSEBUT NAMAMU DISETIAP HEMBUSAN NAFASKU
    KUSEBUT NAMAMU
    KUSEBUT NAMAMU

    Comment by debu_bumi — 18 July 2005 @ 00:09

  49. Apa2 pun yg kita buat kita akan menanggungnya di akhirat nanti. Apa yg kita dapat sebenarnya dengan mempertahankan DEWA ini tidak bersalah… Sedangkan muzik seperti mereka bawa pun bisa melalaikan kenapa kita nak perjuangkan lagi. Kenapa kita tak perjuangkan Islam yg makin tertindas. Runtuhnya sebuah masyarakat kerana runtuhnya keluarga. Kenapa ingin menjadikan mereka ini idola sedangkan ada yg lebih baik dari mereka ini. Hiburan ada hadnya… Yang nyata… Kalau betul ataupun tidak.. Nama ALLAH seperti dipermainkan… Ada benda yg kita tidak jelas dan anggap remeh tapi kita memerlukan yg berILMU dalam bahagian itu untuk menegurnya. Lebih terimalah…ALLAH Itu Maha Mengetahui. Seksa api neraka…Astaghfirullahulazim…

    Comment by hamba Allah — 20 July 2005 @ 09:13

  50. ok

    Comment by nukjenbang — 25 July 2005 @ 13:52

  51. kepada hamba allah:

    1

    “Apa yg kita dapat sebenarnya dengan mempertahankan DEWA ini tidak bersalah… Sedangkan muzik seperti mereka bawa pun bisa melalaikan kenapa kita nak perjuangkan lagi. ”

    saya mendengar muziknya lantas teringat pada tuhan. adakah itu lalai? saya sembahyang teringatkan awek atau teringatkan kerja teringatkan itu ini, maka jgn kerana sembahyang tapi kita labelkan tidak lalai. ini pun lalai juga. kalau kita pandang negatif, hanya negatif yang kita nampak.

    - ke sebut nama mu dalam setiap nafasmu

    ini adalah zikir mengingat tuhan. orang sufi (saya bukan maka saya tak tahu, tapi yang saya tahu..) mengingati tuhan setiap saat. bukannya mengingat tuhan cuma 5 kali sehari. setiap saat. sebb tu arak syariatnya diharamkan sebb kalau mati dalam mabuk??? masya allah.

    2

    “Kenapa kita tak perjuangkan Islam yg makin tertindas. ”

    Dewa pun orang islam maka dan tidakkah isu ini menindasnya? Adakah islam yang anda lihat hanya yang berserban berjubah arab berjanggut sahaja? Adakah islam yang ditindas hanya di iraq sahaja? Berseluar jeans ketat hitam ke hapa bukan islam? Islam kita pada pakaian sahaja ke?

    3

    “Kenapa ingin menjadikan mereka ini idola sedangkan ada yg lebih baik dari mereka ini.”

    Terpulang kepada anda untuk memilih siapa yang anda suka. Jangan betulkan orang lain sebelum kita betulkan diri sendiri. Anda seolah melabel mereka ini teruk sangat dan tak payah dihormati dsb. Biarlah mereka dan biarlah siapa yang nak ikut mereka kerana kubur kita lain - lain. Sekurang - kurangnya DEWA menulis lirik2 yang penuh makna dan tersirat, walaupun unsur dakwahnya secara muzik dan tidak pula genre nasyid, jgnlah kita menjadi hakim sedangkan kita sememangnya tak tahu apa yang kita tak tahu.

    kalau nak jadikan orang2 yang kemasjid, atau orang2 usrah, atau orang2 alim sahaja sebagai idola atau orang yang menyanyi NASYID , maka takkanlah semua orang2 yang kemasjid tu memang alim, memang Allah terima. Dalam pada ramai2 tu pun ada yahudi, ada nasrani. Features islam hati kafir. Hina sungguh orang yang bermain muzik sampai tak layak kita jadikan idola. Apa hina dan masuk neraka ke orang main muzik? Anda boleh jamin ini?

    Jangan sebab kita bersolat sejuta tahun, berpuasa sampai mati maka kita ingat tuhan beri rahmat kepada kita. Tuhan beri rahmat kepada sesiapa yang dia mahu. Siapa kita hendak meletakkan persoalan rahmat dan hidayah?

    4

    “Nama ALLAH seperti dipermainkan…”

    Adakah tuhan kita berbentuk kaligrafi? Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang, tuhan tidak berbentuk. Semoga kita tidak memandang kaligrafi sebagai sesuatu yang lebih kita agungkan dari tuhan kita sendiri, kerana sedar atau tidak, kita mungkin syirik kecil. syirik tanpa kita ketahui.

    Jika kaset DEWA ini pergi ke tempat maksiat sekalipun, club disko semua maka biarlah. Entah2 ada yang di disko sana bila lihat kaset ini insaf, bolehkah kita jamin yang ini takkan berlaku? Masalah bila kita hormat dan agungkan sangat kaligrafi ini sampai begitu sekali. Kalau kita ingat kaligrafi kalimah suci, maka ALLAH tak pergi ke tandas? ALLAH tak pergi ke tempat maksiat? Nauzubillah, jgn syirik kawan.

    5

    “Ada benda yg kita tidak jelas dan anggap remeh tapi kita memerlukan yg berILMU dalam bahagian itu untuk menegurnya. Lebih terimalah”

    Saya ini bodoh langsung malah ilmunya sedikit. Apa yang saya tulis ini cuma pandangan saya yang sikit sahaja. Tapi saya percaya dalam blog ini ada yang berilmu lebih dari kita dan kadang kadang mereka terpanggil untuk menulis kerana tidak mahu kita tersesat dalam beragama. Kita ingat kita dah tempat tiket ke syurga, rupa - rupanya syurga pun kita tak tahu di mana.

    Semoga Allah ampunkan kita semua dan beri hidayah.
    Jika hidayah hanya turun ke masjid dan tempat2 suci (?) maka susahlah orang tempang/kudung yang duduk tepi jalan nak masuk syurga.

    Mengulas tentang lambang2 yahudi, freemason dan lain2 itu, saya yang bodoh dan tidak berilmu ini melihat ini: album dewa ini sebagai satu dokumentasi historic tentang agama2 yang turun ke bumi, dan akhir sekali adalah islam. itu saja.

    Pandang satu dalam banyak, pandang banyak dalam satu. Jgn pandang negatif saja jangan mencaci dsb. Semua ini adalah kerja tuhan dan dia lebih tahu segalanya. Kita ini takde apa2. Jangan perasan.

    Comment by ahmad — 26 July 2005 @ 17:21

  52. hey F.P.I jangan caRI muka di tv, kalo kmu brani hancurkan lokalisasi doli si sby, jangan cari muka melulu, kritik juga band jamrud yang liriknya kurang mendidik (KENAPA DI DUNIA INI SEKARANG SANGAT SULIT MEMBEDAKAN ANTARA MANUSIA DAN SETAN)

    Comment by A. SInggih Jaelani — 24 August 2005 @ 10:39

  53. assalamualaikum.

    Ini perkara biasa yang menimpa individu yang mendukung sufisme. Bukan sufisme sebenarnya,lebih kepada ketauhidan. Bagi aku,tidak semua yang memahami apa yang ahmad dhani dan rakan cuba untuk sampaikan. Bagi aku juga, Allah itu dimana mana. Bagaimana pabila aku memijak tanah? Kerna padaku, itu zat Nya. Kamu (yang berkenaan) cuma melihat yang nyata, yang terlihat pada mata, tulisannya. tidak fana’ di dalam Nya. maka ini bukan salah sesiapa, atas kehendak Nya jualah. Mudah mudahan.amin.

    Comment by Biasa biasa — 25 August 2005 @ 21:56

  54. Namun, ingin aku berpesan pada saudara saudara dewa, berhati hati. Jaga sentimen islam. Hal2 dari dalam kerohanian, sebenarnya perlu ditapis tapis sebelum diluah. Telah Allah kemukakan contoh pada kekasihNya sebebelum ini, berhati hatilah membuat pengakuan dari jiwa atau kamu yang kan binasa, tapi itu sekadar di dunia. “di mana saja kamu memandang, di situlah wajah Allah” Wallahualam bissawab.

    Comment by Biasa biasa — 25 August 2005 @ 22:02

  55. Orang Indonesia makin lama makin kotor2 otaknya. Biasalah..ujung2nya biar mereka dianggap pahlawan Allah.Coba kita lihat mereka yang menentang….pernah nggak mereka berani menghancurkan Doli di surabaya …tapi nggak usah jauh2,tempat bisnis esek2 yang ada di pusat kota Jakarta aja nggak berani mereka demo atau mereka tutup.
    intropeksi dirilah…
    Maju terus untuk DEWA..Saya pikir DEWA sudah semakin dewasa,yang sudah berani memasukkan sedikit ajaran Islam dalam lirik2nya.
    Seukses dan tetap jaya untuk DEWA

    Ana Al-Haqq, Al-Hallaj
    Antara Drama Ilahi dan Tragedi Penyingkapan Rahasia

    Abad ketiga hijriyah merupakan abad yang paling monumental dalam sejarah teologi dan tasawuf. Karena pada abad itu cahaya Sufi benar-benar bersinar terang. Para Sufi seperti Sari as-Saqathy, Al-Harits al-Muhasiby, Ma’ruf al-Karkhy, Abul Qasim al-Junaid al-Baghdady, Sahl bin Abdullah at-Tustary, Ibrahim al-Khawwash, Al-Husain bin Manshur al-Hallaj, Abu Bakr asy-Syibly dan ratusan Sufi lainya.

    Di tengah pergolakan intelektual, filsafat, politik dan peradaban Islam ketika itu, tiba-tiba muncul sosok agung yang dinilai sangat kontroversial oleh kalangan fuqaha’, politisi dan kalangan Islam formal ketika itu. Bahkan sebagian kaum Sufi pun ada yang kontra. Yaitu sosok Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj. Sosok yang kelak berpengaruh dalam peradaban teosofia Islam, sekaligus menjadi watak misterius dalam sejarah Tasawuf Islam.

    Nama lengkapnya adalah al-Husain bin Mansur, populer dipanggil dengan Abul Mughits, berasal dari penduduk Baidha’ Persia, lalu berkembang dewasa di Wasith dan Irak. Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Al-Junaid al-Baghdady, Abul Husain an-Nury, Amr al-Makky, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya. Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy.

    Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.” Pada akhir hayatnya yang dramatis, Al-Hallaj dibunuh oleh penguasa dzalim ketika itu, di dekat gerbang Ath-Thaq, pada hari Selasa di bulan Dzul Qa’dah tahun 309 H.

    Kelak pada perkembangannya, teori-teori Tasawuf yang diungkapkan oleh Al-Hallaj, berkembang lebih jauh, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby, Al-Jiily, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan gurunya sendiri Al-Junaid punya Risalah (semacam Surat-surat Sufi) yang pandangan utuhnya sangat mirip dengan Al-Hallaj Sayang Risalah tersebut tidak terpublikasi luas, sehingga, misalnya mazhab Sufi Al-Junaid tidak difahami secara komprehensif pula. Menurut Prof Dr. KH Said Aqiel Sirraj, “Kalau orang membaca Rasailul Junaid, pasti orang akan faham tentang pandangan Al-Hallaj.”

    Pandangan Al-Hallaj banyak dikafirkan oleh para Fuqaha’ yang biasanya hanya bicara soal halal dan haram. Sementara beberapa kalangan juga menilai, kesalahan Al-Hallaj, karena ia telah membuka rahasia Tuhan, yang seharusnya ditutupi. Kalimatnya yang sangat terkenal hingga saat ini, adalah “Ana al-Haq”, yang berarti, “Akulah Allah”.

    Tentu, pandangan demikian menjadi heboh.Apalagi jika ungkapan tersebut dipahami secara sepintas belaka, atau bahkan tidak dipahami sama sekali. Para teolog, khususnya Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan AlHallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.

    Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.

    Sebagaimana Al-Ghazali melihat sebuah bangunan dari dalam dan dari luar, lalu menjelaskan isi dan bentuk bangunan itu kepada publik, sementara Ibnu Rusydi melihat bangunan hanya bentuk luarnya saja, dan menjelaskannya kepada publik pula. Tentu jauh berbeda kesimpulan Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi.

    Setidak-tidaknya ada tiga keleompk besar dari kalangan Ulama, baik fuqaha’ maupun Sufi terhadap pandangan-pandangan Al-Hallaj ini. Mereka ada yang langsung kontra dan mengkafirkan; ada pula yang secara moderat tidak berkomentar; dan ada yang langsung menerima dan mendukungnya. Menurut penelitian Dr. Abdul Qadir Mahmud, dalam bukunya Al-Falsafatush Shufiyah fil Islam, mengatakan:

    1. Mereka yang mngkafirkannya, antara lain adalah para Fuqaha’ formalis, dan kalangan mazhab Dzahiriyah, seperti Ibnu dawud dan Ibnu Hazm. Sedangkan dari kalangan Syi’ah Imamiyah antara lain Ibnu Babaweih al-Qummy, ath-Thusy dan al-Hilly. Dari kalangan mazhab Maliki antara lain Ath-Tharthusy, Iyyadh, Ibnu Khaldun. Dari kalangan mazhab Hanbaly antara lain Inu Taymiyah. Dan kalangan Syafi’iyah antara lain Al-Juwainy dan ad-Dzahaby.

    Sementara itu dari kalangan Mutakallimin yang mengkafirkan: Al-Jubba’i dan al-Qazwiny(Mu’tazilah); Nashiruddin ath-Thusy dan pengukutnya (Imamiyah); Al-Baqillany (Asy’ariyah); Ibnu Kamal dan al-Qaaly (Maturidiyah).

    Dari kalangan Sufi antara lain, Amr al-Makky dan kalangan Salaf, diantaranya juga para Sufi mutakhir, selain Ahmad ar-Rifai’y dan Abdul Karim al-Jily, keduanya tidak berkomentar.

    2. Mereka yang mendukung pandangan Al-Hallaj, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: At-Tusytary dan Al-Amily (Imamiyah); Ad-Dilnajawy (Malikiyah); Ibnu Maqil dan an-Nabulisy (Hambaliyah),; Al-Maqdisy, Al-Yafi’y, Asy-Sya’rany dan Al-Bahtimy (Syafi’iyah). Dari kalangan Mutakallimin, Ibnu Khafif, Al-Ghazaly dan Ar-Razy (kalangan Asy’ary) serta kalangan Mutakallim Salaf.

    Dari kalangan Filosuf pendukungnya adalah Ibnu Thufail. Sedangkan dari kalangan Sufi antara lain as-Suhrawardy al-Maqtul, Ibnu Atha’ as=Sulamy dan Al-Kalabadzy.

    3.Kelompok yang tidak berkomentar, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: Ibnu Bahlul (Hambaliyah), Ibnu Suraij, Ibnu Hajar dan As-Suyuthy (Syafi’iyah). Dari kalangan Sufi antara lain, Al-Hushry, Al-Hujwiry, Abu Sa’id al-Harawy, Al-Jilany, Al-Baqly, AlAththar, Ibnu Araby, Jalaluddin ar-Ruumy, Ahmad Ar-Rifa’y, dan Al-Jiily.

    Kontroversi Al-Hallaj, sebenarnya terletak dari sejumlah ungkapan-ungkapannya yang sangat rahasia dan dalam, yang tidak bisa ditangkap secara substansial oleh mereka, khususnya para Fuqaha’ (ahli syariat). Sehingga Al-Hallaj dituduh anti syari’at, lalu ia harus disalib. Padahal tujuan utama Al-Hallaj adalah bicara soal hakikat kehambaan dan Ketuhanan secara lebih transparan.

    Tudingan bahwa Al-Hallaj penganut Wahdatul Wujud semata juga karena tidak memahami wahana puncak-puncak ruhani Al-Hallaj sebagaimana dialami oleh para Sufi. Banyak sekali wacana Tasawuf yang mirip dengan Al-Hallaj. Dan Al-Hallaj tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Allah sebagaimana pengakuan Fir’aun dirinya adalah Tuhan. Dalam sejumlah wacananya, Al-Hallaj senantiasa menyatakan dirinya adalah seorang hamba yang hina dan fakir. Apa yang ditampakkan oleh Al-Hallaj adalah situasi dimana wahana ruhaninya menjadi dominan, sehingga kesadarannya hilang, sebagaimana mereka yang sedang jatuh cinta di puncaknya, atau mereka yang sedang terkejut dalam waktu yang lama.

    Toh Al-Hallaj tetap berpijak pada pandangan Al-Fana’, Fana’ul Fana’ dan al-Baqa’, sebagaimana dalam wacana-wacana Sufi lainnya. Al-Hallaj juga tidak pernah mengajak ummat untuk melakukan tindakan Hulul. Sebab apa yang dikatakan semuanya merupakan Penyaksian kepada Allah atau sebagai etiuk murni dari seorang Sufi yang sangat dalam.

    Sejarawan Al-Baghdady mengisahkan tragedi kematian dan peradilannya:

    “Ketika mereka hendak membunuh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj, para Fuqaha’ dan Ulama dihadirkan, sementara Al-Hallaj diseret di hadapan Sultan. Para dewan kepolisian juga dihadirkan di sisi barat, tepatnya di hari Selasa, bulan Dzul Qa’dah Minggu kedua, TAHUN 309. Ia dicambuk sekitar seribu kali cambukan, lalu kedua kakinya dipotong, menyusul kedua tangannya, lalu lehernya ditebas. Lalu tubuhnya dibakar dengan api.

    Kepalanya yang dipenggal itu diangkat, ditunjukkan kepada publik dalam kerangkeng besi, sementara kedua tangan dan kakinya diletakkan di sisi kepalanya. Ketika Al-Hallaj mendekati saat-saat penyaliban, ia membisikkan kata-kata, “Wahai yang menolong kefanaan padaku…tolonglah diriku dalam kefanaan….Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakitiMu, maka bagaimana engkau tidak mengasihi orang yang lara dalam DiriMu…Cukuplah yang satu menunggalkan yang satu bagiNya….”. Lalu ia membaca sebuah ayat, “

    Sebelum meninggal dengan hukuman tragis itu, Al-Hallaj mengalami hidup dari satu tahanan ke tahanan lainnya, akibat iri dan kedengkian para Fuqaha’ dan para Ulama yang merasa tersaingi oleh pengaruh Al-Hallaj yang mulai meluas. Bisa jadi penguasa sangat terpengaruh pula oleh bahaya massa Al-Hallaj. Kalau toh Al-Hallaj harus dihukum mati dengan disalib, sebagaimana pernah ia ramalkan sendiri, adalah karena ia harus menghadapi ketidakberdayaan kekuasaan.

    Tetapi sekali lagi, Al-Hallaj adalah penganut amaliyah Syariat yang sangat patuh, yang digambar kan, sebagai sosok yang hafidz Al-Qur’an, tekun sholat sepanjang malam, puasa sepanjang siang, dan melakukan ibadah haji berulang kali. Hukuman mati baginya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan legitimasi bahwa dirinya salah dan benar.

    Rasanya Tragedi Al-Hallaj menjadi hikmah yang luar biasa dalam perkembangan Tasawuf. Mereka akan mehamami substansi Al-Hallaj, manakala mereka juga menjalankan dan merasakan apa yang dialami oleh Al-Hallaj. Sekadar menvonis Al-Hallaj begini dan begitu, tanpa pernah menghayati substansi terdalam dalam praktek Sufistik, siapa pun akan selalu gagal memahaminya.

    Ada ungkapan Sufi yang sangat arif bisa jadi renungan kita bersama untuk sekadar merasakan sedikit dari rasa Al-Hallaj. “Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar, baru ia bicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai amaliyah tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam.

    Bedakan antara amal dan ilmu. Sebab banyak kesalah pahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya. Maka muncullah kesalahpahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri.”

    Diantara Ucapan-ucapan Al-Hallaj :

    1.Allah menghijab mereka dengan Nama, lantas mereka pun menjadi hidup. Seandainya Dia menampakkan Ilmu Qudrat pada mereka, mereka akan hangus. Seandainya hijab hakikat itu disingkapkan niscaya mereka mati semua.

    2.Tuhanku, Engkau tahu kelemahanku jauh dari rasa bersyukur kepadaMu, karena itu bersykurlah pada DiriMu bukan dariku, karena itulah sesungguhnya Sukur, bukan yang lain.

    3.Siapa yang mengandalkan amalnya ia akan tertutupi dari yang menerima amal. Siapa yang mengandalkan Allah yang menerima amal, maka ia akan tertutupi dari amal.

    4. Asma-asma Allah Ta’ala dari segi pemahaman adalah Nama ansich, tapi dari segi kebenaran adalah hakikat
    5. Bisikan Allah adalah bisikan yang sama sekali tidak mengandung kontra.

    6. Suatu ketika Al-Hallaj ditanya tentang al-Murid, Ia adalah orang yang dilemparkan menuju kepada Allah, dan tidak akan berhenti naik sampai ketika ia sampai.”

    7. Sama sekali tidak diperbolehkan orang yang mengenal Allah Yang Maha Tunggal atau mengingat Yang Maha Tunggal, lalu ia mengatakan, “Aku mengenal Al-Ahad” padahal ia masih melihat individu-individu lainnya.

    8. Siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cahaya Tauhid, ia akan tertupi dari ungkapan-ungkapan Tajrid (menyendiri bersama Allah). Bahkan, siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cayaha Tajrid, ia akan bicara dengan hakikat Tauhid, karenakemabukan itulah yang bicara dengan segala hal yang tersembunyi.

    9. Siapa yang menempuh kebenaran dengan cahaya Iman, maka ia seperti pencari matahari dengan cahaya bintang gemintang.

    10. Ketika Allah mewujudkan jasad tanpa sebab, demikian pula Allah mewujudkan sifat jasad itu tanpa sebab, sebagaimana hamba tidak memiliki asal usul pekerjaannya, maka, hamba itu pun tidak memiliki pekerjaannya.

    11. Sesungguhnya Allah Ta’ala, Maha Pemberi Berkah dan Maha Luhur, serta Maha Terpuji, adalah Dzat Yang Esa, Berdiri dengan DiriNya Sendiri, Sendiri dari yang lain dengan Sifat QidamNya, tersendiri dari yang lainNya dengan KetuhananNya, tidak dicampuri oleh apa pun dan tidak didampingi apa pun, tidak diliputi tempat, tidak pula di temukan waktu, tidak mampu difikirkan dan tidak bisa tercetus dalam imajinasi, tidak pula bisa dilihat pandangan, tidak bisa darusi kesenjangan.

    12. Akulah Al-Haq, dan Al-Haq (Allah) Benar, Mengenakan DzatNya, di sana tak ada lagi perbedaan.

    13.Ketika ditanya tentang Tauhid, ia menjawab, Memisahkan yang baru dengan Yang Maha Dahulu, lalu berpaling dari yang baru dan menghadap kepada Yang Maha Dahulu, dan itulah hamparan Tauhid. Sedangkan substansinya.

    “Aku adalah Dia yang kucinta, dan Dia yang kucinta adalah aku. Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia, dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku”.

    Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya, membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian kelihatan baginya mahluk-Nya, dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum.

    Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur disatukan dengan air murni. Jika sesuatu menyentuh Engkau, ia meyentuhku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.

    Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami.

    Sebelumnya tidak mendahului-Nya, setelah tidak menyela-Nya, daripada tidak bersaing dengan Dia dalam hal keterdahuluan, dari tidak sesuai dengan Dia, ketidak menyatu dengan dia, Dia tidak mendiami Dia, kala tidak menghentikan Dia, jika tidak berunding dengan Dia, atas tidak membayangi Dia, dibawah tidak menyangga Dia, sebaliknya tidak menghadapi-Nya, dengan tidak menekan Dia, dibalik tidak mengikat Dia, didepan tidak membatasi Dia,

    Terdahulu tidak memameri Dia, dibelakang tidak membuat Dia luruh, semua tidak menyatukan Dia,
    ada tidak memunculkan Dia, tidak ada tidak membuat Dia lenyap, penyembunyian tidak menyelubungi Dia, pra-eksistensi-Nya mendahului waktu, adanya Dia
    mendahului yang belum ada, kekalahan-Nya mendahului adanya batas

    Di dalam kemuliaan tiada aku, atau Engkau atau kita,
    Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu.

    (Sufi Agung Al-Hallaj)
    posted by mevlanasufi at 11:07 PM

    Ana Al-Haqq, Al-Hallaj
    Antara Drama Ilahi dan Tragedi Penyingkapan Rahasia

    Abad ketiga hijriyah merupakan abad yang paling monumental dalam sejarah teologi dan tasawuf. Karena pada abad itu cahaya Sufi benar-benar bersinar terang. Para Sufi seperti Sari as-Saqathy, Al-Harits al-Muhasiby, Ma’ruf al-Karkhy, Abul Qasim al-Junaid al-Baghdady, Sahl bin Abdullah at-Tustary, Ibrahim al-Khawwash, Al-Husain bin Manshur al-Hallaj, Abu Bakr asy-Syibly dan ratusan Sufi lainya.

    Di tengah pergolakan intelektual, filsafat, politik dan peradaban Islam ketika itu, tiba-tiba muncul sosok agung yang dinilai sangat kontroversial oleh kalangan fuqaha’, politisi dan kalangan Islam formal ketika itu. Bahkan sebagian kaum Sufi pun ada yang kontra. Yaitu sosok Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj. Sosok yang kelak berpengaruh dalam peradaban teosofia Islam, sekaligus menjadi watak misterius dalam sejarah Tasawuf Islam.

    Nama lengkapnya adalah al-Husain bin Mansur, populer dipanggil dengan Abul Mughits, berasal dari penduduk Baidha’ Persia, lalu berkembang dewasa di Wasith dan Irak. Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Al-Junaid al-Baghdady, Abul Husain an-Nury, Amr al-Makky, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya. Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy.

    Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.” Pada akhir hayatnya yang dramatis, Al-Hallaj dibunuh oleh penguasa dzalim ketika itu, di dekat gerbang Ath-Thaq, pada hari Selasa di bulan Dzul Qa’dah tahun 309 H.

    Kelak pada perkembangannya, teori-teori Tasawuf yang diungkapkan oleh Al-Hallaj, berkembang lebih jauh, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby, Al-Jiily, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan gurunya sendiri Al-Junaid punya Risalah (semacam Surat-surat Sufi) yang pandangan utuhnya sangat mirip dengan Al-Hallaj Sayang Risalah tersebut tidak terpublikasi luas, sehingga, misalnya mazhab Sufi Al-Junaid tidak difahami secara komprehensif pula. Menurut Prof Dr. KH Said Aqiel Sirraj, “Kalau orang membaca Rasailul Junaid, pasti orang akan faham tentang pandangan Al-Hallaj.”

    Pandangan Al-Hallaj banyak dikafirkan oleh para Fuqaha’ yang biasanya hanya bicara soal halal dan haram. Sementara beberapa kalangan juga menilai, kesalahan Al-Hallaj, karena ia telah membuka rahasia Tuhan, yang seharusnya ditutupi. Kalimatnya yang sangat terkenal hingga saat ini, adalah “Ana al-Haq”, yang berarti, “Akulah Allah”.

    Tentu, pandangan demikian menjadi heboh.Apalagi jika ungkapan tersebut dipahami secara sepintas belaka, atau bahkan tidak dipahami sama sekali. Para teolog, khususnya Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan AlHallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.

    Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.

    Sebagaimana Al-Ghazali melihat sebuah bangunan dari dalam dan dari luar, lalu menjelaskan isi dan bentuk bangunan itu kepada publik, sementara Ibnu Rusydi melihat bangunan hanya bentuk luarnya saja, dan menjelaskannya kepada publik pula. Tentu jauh berbeda kesimpulan Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi.

    Setidak-tidaknya ada tiga keleompk besar dari kalangan Ulama, baik fuqaha’ maupun Sufi terhadap pandangan-pandangan Al-Hallaj ini. Mereka ada yang langsung kontra dan mengkafirkan; ada pula yang secara moderat tidak berkomentar; dan ada yang langsung menerima dan mendukungnya. Menurut penelitian Dr. Abdul Qadir Mahmud, dalam bukunya Al-Falsafatush Shufiyah fil Islam, mengatakan:

    1. Mereka yang mngkafirkannya, antara lain adalah para Fuqaha’ formalis, dan kalangan mazhab Dzahiriyah, seperti Ibnu dawud dan Ibnu Hazm. Sedangkan dari kalangan Syi’ah Imamiyah antara lain Ibnu Babaweih al-Qummy, ath-Thusy dan al-Hilly. Dari kalangan mazhab Maliki antara lain Ath-Tharthusy, Iyyadh, Ibnu Khaldun. Dari kalangan mazhab Hanbaly antara lain Inu Taymiyah. Dan kalangan Syafi’iyah antara lain Al-Juwainy dan ad-Dzahaby.

    Sementara itu dari kalangan Mutakallimin yang mengkafirkan: Al-Jubba’i dan al-Qazwiny(Mu’tazilah); Nashiruddin ath-Thusy dan pengukutnya (Imamiyah); Al-Baqillany (Asy’ariyah); Ibnu Kamal dan al-Qaaly (Maturidiyah).

    Dari kalangan Sufi antara lain, Amr al-Makky dan kalangan Salaf, diantaranya juga para Sufi mutakhir, selain Ahmad ar-Rifai’y dan Abdul Karim al-Jily, keduanya tidak berkomentar.

    2. Mereka yang mendukung pandangan Al-Hallaj, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: At-Tusytary dan Al-Amily (Imamiyah); Ad-Dilnajawy (Malikiyah); Ibnu Maqil dan an-Nabulisy (Hambaliyah),; Al-Maqdisy, Al-Yafi’y, Asy-Sya’rany dan Al-Bahtimy (Syafi’iyah). Dari kalangan Mutakallimin, Ibnu Khafif, Al-Ghazaly dan Ar-Razy (kalangan Asy’ary) serta kalangan Mutakallim Salaf.

    Dari kalangan Filosuf pendukungnya adalah Ibnu Thufail. Sedangkan dari kalangan Sufi antara lain as-Suhrawardy al-Maqtul, Ibnu Atha’ as=Sulamy dan Al-Kalabadzy.

    3.Kelompok yang tidak berkomentar, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: Ibnu Bahlul (Hambaliyah), Ibnu Suraij, Ibnu Hajar dan As-Suyuthy (Syafi’iyah). Dari kalangan Sufi antara lain, Al-Hushry, Al-Hujwiry, Abu Sa’id al-Harawy, Al-Jilany, Al-Baqly, AlAththar, Ibnu Araby, Jalaluddin ar-Ruumy, Ahmad Ar-Rifa’y, dan Al-Jiily.

    Kontroversi Al-Hallaj, sebenarnya terletak dari sejumlah ungkapan-ungkapannya yang sangat rahasia dan dalam, yang tidak bisa ditangkap secara substansial oleh mereka, khususnya para Fuqaha’ (ahli syariat). Sehingga Al-Hallaj dituduh anti syari’at, lalu ia harus disalib. Padahal tujuan utama Al-Hallaj adalah bicara soal hakikat kehambaan dan Ketuhanan secara lebih transparan.

    Tudingan bahwa Al-Hallaj penganut Wahdatul Wujud semata juga karena tidak memahami wahana puncak-puncak ruhani Al-Hallaj sebagaimana dialami oleh para Sufi. Banyak sekali wacana Tasawuf yang mirip dengan Al-Hallaj. Dan Al-Hallaj tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Allah sebagaimana pengakuan Fir’aun dirinya adalah Tuhan. Dalam sejumlah wacananya, Al-Hallaj senantiasa menyatakan dirinya adalah seorang hamba yang hina dan fakir. Apa yang ditampakkan oleh Al-Hallaj adalah situasi dimana wahana ruhaninya menjadi dominan, sehingga kesadarannya hilang, sebagaimana mereka yang sedang jatuh cinta di puncaknya, atau mereka yang sedang terkejut dalam waktu yang lama.

    Toh Al-Hallaj tetap berpijak pada pandangan Al-Fana’, Fana’ul Fana’ dan al-Baqa’, sebagaimana dalam wacana-wacana Sufi lainnya. Al-Hallaj juga tidak pernah mengajak ummat untuk melakukan tindakan Hulul. Sebab apa yang dikatakan semuanya merupakan Penyaksian kepada Allah atau sebagai etiuk murni dari seorang Sufi yang sangat dalam.

    Sejarawan Al-Baghdady mengisahkan tragedi kematian dan peradilannya:

    “Ketika mereka hendak membunuh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj, para Fuqaha’ dan Ulama dihadirkan, sementara Al-Hallaj diseret di hadapan Sultan. Para dewan kepolisian juga dihadirkan di sisi barat, tepatnya di hari Selasa, bulan Dzul Qa’dah Minggu kedua, TAHUN 309. Ia dicambuk sekitar seribu kali cambukan, lalu kedua kakinya dipotong, menyusul kedua tangannya, lalu lehernya ditebas. Lalu tubuhnya dibakar dengan api.

    Kepalanya yang dipenggal itu diangkat, ditunjukkan kepada publik dalam kerangkeng besi, sementara kedua tangan dan kakinya diletakkan di sisi kepalanya. Ketika Al-Hallaj mendekati saat-saat penyaliban, ia membisikkan kata-kata, “Wahai yang menolong kefanaan padaku…tolonglah diriku dalam kefanaan….Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakitiMu, maka bagaimana engkau tidak mengasihi orang yang lara dalam DiriMu…Cukuplah yang satu menunggalkan yang satu bagiNya….”. Lalu ia membaca sebuah ayat, “

    Sebelum meninggal dengan hukuman tragis itu, Al-Hallaj mengalami hidup dari satu tahanan ke tahanan lainnya, akibat iri dan kedengkian para Fuqaha’ dan para Ulama yang merasa tersaingi oleh pengaruh Al-Hallaj yang mulai meluas. Bisa jadi penguasa sangat terpengaruh pula oleh bahaya massa Al-Hallaj. Kalau toh Al-Hallaj harus dihukum mati dengan disalib, sebagaimana pernah ia ramalkan sendiri, adalah karena ia harus menghadapi ketidakberdayaan kekuasaan.

    Tetapi sekali lagi, Al-Hallaj adalah penganut amaliyah Syariat yang sangat patuh, yang digambar kan, sebagai sosok yang hafidz Al-Qur’an, tekun sholat sepanjang malam, puasa sepanjang siang, dan melakukan ibadah haji berulang kali. Hukuman mati baginya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan legitimasi bahwa dirinya salah dan benar.

    Rasanya Tragedi Al-Hallaj menjadi hikmah yang luar biasa dalam perkembangan Tasawuf. Mereka akan mehamami substansi Al-Hallaj, manakala mereka juga menjalankan dan merasakan apa yang dialami oleh Al-Hallaj. Sekadar menvonis Al-Hallaj begini dan begitu, tanpa pernah menghayati substansi terdalam dalam praktek Sufistik, siapa pun akan selalu gagal memahaminya.

    Ada ungkapan Sufi yang sangat arif bisa jadi renungan kita bersama untuk sekadar merasakan sedikit dari rasa Al-Hallaj. “Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar, baru ia bicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai amaliyah tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam.

    Bedakan antara amal dan ilmu. Sebab banyak kesalah pahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya. Maka muncullah kesalahpahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri.”

    Diantara Ucapan-ucapan Al-Hallaj :

    1.Allah menghijab mereka dengan Nama, lantas mereka pun menjadi hidup. Seandainya Dia menampakkan Ilmu Qudrat pada mereka, mereka akan hangus. Seandainya hijab hakikat itu disingkapkan niscaya mereka mati semua.

    2.Tuhanku, Engkau tahu kelemahanku jauh dari rasa bersyukur kepadaMu, karena itu bersykurlah pada DiriMu bukan dariku, karena itulah sesungguhnya Sukur, bukan yang lain.

    3.Siapa yang mengandalkan amalnya ia akan tertutupi dari yang menerima amal. Siapa yang mengandalkan Allah yang menerima amal, maka ia akan tertutupi dari amal.

    4. Asma-asma Allah Ta’ala dari segi pemahaman adalah Nama ansich, tapi dari segi kebenaran adalah hakikat
    5. Bisikan Allah adalah bisikan yang sama sekali tidak mengandung kontra.

    6. Suatu ketika Al-Hallaj ditanya tentang al-Murid, Ia adalah orang yang dilemparkan menuju kepada Allah, dan tidak akan berhenti naik sampai ketika ia sampai.”

    7. Sama sekali tidak diperbolehkan orang yang mengenal Allah Yang Maha Tunggal atau mengingat Yang Maha Tunggal, lalu ia mengatakan, “Aku mengenal Al-Ahad” padahal ia masih melihat individu-individu lainnya.

    8. Siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cahaya Tauhid, ia akan tertupi dari ungkapan-ungkapan Tajrid (menyendiri bersama Allah). Bahkan, siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cayaha Tajrid, ia akan bicara dengan hakikat Tauhid, karenakemabukan itulah yang bicara dengan segala hal yang tersembunyi.

    9. Siapa yang menempuh kebenaran dengan cahaya Iman, maka ia seperti pencari matahari dengan cahaya bintang gemintang.

    10. Ketika Allah mewujudkan jasad tanpa sebab, demikian pula Allah mewujudkan sifat jasad itu tanpa sebab, sebagaimana hamba tidak memiliki asal usul pekerjaannya, maka, hamba itu pun tidak memiliki pekerjaannya.

    11. Sesungguhnya Allah Ta’ala, Maha Pemberi Berkah dan Maha Luhur, serta Maha Terpuji, adalah Dzat Yang Esa, Berdiri dengan DiriNya Sendiri, Sendiri dari yang lain dengan Sifat QidamNya, tersendiri dari yang lainNya dengan KetuhananNya, tidak dicampuri oleh apa pun dan tidak didampingi apa pun, tidak diliputi tempat, tidak pula di temukan waktu, tidak mampu difikirkan dan tidak bisa tercetus dalam imajinasi, tidak pula bisa dilihat pandangan, tidak bisa darusi kesenjangan.

    12. Akulah Al-Haq, dan Al-Haq (Allah) Benar, Mengenakan DzatNya, di sana tak ada lagi perbedaan.

    13.Ketika ditanya tentang Tauhid, ia menjawab, Memisahkan yang baru dengan Yang Maha Dahulu, lalu berpaling dari yang baru dan menghadap kepada Yang Maha Dahulu, dan itulah hamparan Tauhid. Sedangkan substansinya.

    “Aku adalah Dia yang kucinta, dan Dia yang kucinta adalah aku. Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia, dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku”.

    Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya, membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian kelihatan baginya mahluk-Nya, dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum.

    Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur disatukan dengan air murni. Jika sesuatu menyentuh Engkau, ia meyentuhku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.

    Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami.

    Sebelumnya tidak mendahului-Nya, setelah tidak menyela-Nya, daripada tidak bersaing dengan Dia dalam hal keterdahuluan, dari tidak sesuai dengan Dia, ketidak menyatu dengan dia, Dia tidak mendiami Dia, kala tidak menghentikan Dia, jika tidak berunding dengan Dia, atas tidak membayangi Dia, dibawah tidak menyangga Dia, sebaliknya tidak menghadapi-Nya, dengan tidak menekan Dia, dibalik tidak mengikat Dia, didepan tidak membatasi Dia,

    Terdahulu tidak memameri Dia, dibelakang tidak membuat Dia luruh, semua tidak menyatukan Dia,
    ada tidak memunculkan Dia, tidak ada tidak membuat Dia lenyap, penyembunyian tidak menyelubungi Dia, pra-eksistensi-Nya mendahului waktu, adanya Dia
    mendahului yang belum ada, kekalahan-Nya mendahului adanya batas

    Di dalam kemuliaan tiada aku, atau Engkau atau kita,
    Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu.

    (Sufi Agung Al-Hallaj)
    posted by mevlanasufi at 11:07 PM

    Comment by Adhitya — 26 September 2005 @ 18:28

  56. ISLAM IS THE BEST, persetan dengan semua fitnahan orang mengenai ISLAM

    …… uphu …….

    Comment by saudi ashari — 12 September 2006 @ 07:54

  57. hey km apa suka ma group band dewa ya…. saya leh minta buatkan saya music dari dewa dong

    Comment by dany — 21 June 2007 @ 12:10

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.