Solidaritas Untuk Dewa

HADAPI DENGAN SENYUMAN SEMUA YANG TERJADI BIAR TERJADI….
HADAPI DENGAN TENANG JIWA SEMUA… KAN BAIK BAIK SAJA
BILA KETETAPAN TUHAN SUDAH DITETAPKAN TETAPLAH SUDAH….
TAK ADA YANG BISA MERUBAH DAN TAKKAN BISA BERUBAH
RELAKANLAH SAJA INI BAHWA SEMUA YANG TERBAIK
TERBAIK UNTUK KITA SEMUA MENYERAHLAH UNTUK MENANG
Solidaritas Dewa
The URI to TrackBack this entry is: http://fendra.blogsome.com/2005/04/22/solidaritas-untuk-dewa/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Saya mendukung agar maslah logo album terbaru Dewa tidak usah diperbesar dan dipermasalahkan secara negatif. Kita mesti dewas dan arif dalam hal ini. Allah tidak perlu dibela oleh kita. Kita jalankan saja keimanan kita semua dgn baik dalam kehidupan pribadi dan sosial kita sehari-hari.
Comment by Men — 23 April 2005 @ 13:39
Gue baca tulisan Ahmad Dhani ini di Republika. Gue rasa cukup jelas dan gamblang bahwa DEWA TIDAK MENGHINA ALLAH DAN TIDAK BERNIAT UNTUK MENGHINA ALLAH.
OASE BERNAMA LASKAR CINTA
Ahmad Dhani
Pimpinan Band Dewa
Penulis merasa kaget dan terhenyak saat membaca segmen Horison harian Republika, edisi 17 April 2005, khususnya pada tulisan berjudul besar Laskar Cinta Sensasi Keblabasan Dewa. Tulisan tersebut berupaya mengupas pentas Band Dewa yang ditayangkan secara langsung melalui Trans TV, Ahad (10/4). Sebagai pihak yang terkait, dalam kapasitas pimpinan Band Dewa, penulis menganggap tulisan tersebut bersifat sepihak. Penulis tidak pernah dimintai konfirmasi tentang hal tersebut, meskipun ada pernyataan dari pihak manajemen Dewa.
Terdorong oleh faktor itulah, penulis membuat tulisan jawaban dalam kerangka memberi informasi dan pemahaman yang sebanding sehingga para pembaca, dan masyarakat Indonesia pada umumnya dapat mencernanya secara proporsional dan fair.
Dengan segenap kerendah-hatian, penulis ingin menyampaikan bahwa peristiwa tersebut, demi Allah, benar-benar murni sebuah musibah tanpa kesengajaan, terutama akibat ketidaktahuan team setting panggung Trans TV. Sebagai pribadi yang berupaya terus menerus untuk tawadlu’ dan tunduk kepada Allah SWT, penulis dan anggota Band Dewa pada umumnya, tidak mungkin memiliki niat melakukan tindakan penghinaan kepada Allah yang Maha Agung, sebuah tindakan yang keji dan kotor. Meskipun barangkali penulis bukan seorang Muslim yang telah sempurna dalam menjalankan semua syariat, penulis berupaya untuk tetap takzim.
Penulis memahami sepenuhnya akibat terlukanya hati saudara-saudara seiman, terutama jika penulis sampai hati melecehkan atau berbuat tidak terhormat. Dalam hal ini, penulis sangat berharap adanya masukan-masukan dari saudara-saudara seiman. Sekeras apapun masukan tersebut, asal tetap dilakukan dalam koridor persaudaraan seiman, yakni dipenuhi nasihat serta pertimbangan kebijaksanaan yang luhur, akan penulis terima dengan lapang dada. Tetapi penulis merasa tidak habis pikir jika kemudian muncul hujatan-hujatan yang serba menyudutkan, memfitnah, dan memprovokasi.
Berkali-kali dunia ekspresi seni di Tanah Air diguncang oleh hal yang serupa, yakni ketika seni dibuldozer dengan penafsiran atas keyakinan-keyakinan tertentu. Para penafsir berlaku seolah-olah Musa menghujat Firaun, meskipun ia belum tentu seperti Musa, dan yang dihujat juga belum tentu seperti Firaun. Tanpa harus menghakimi siapa yang benar dan siapa salah, cara-cara semacam itu tidak pernah menghasilkan solusi yang positif bagi kedua belah pihak. Bukankan Rasulullah sendiri menganjurkan agar dakwah dilakukan dengan cara-cara yang baik dan bijak.
LIRIK LAGU DEWA
Di sisi lain, penulis juga sangat berharap para kritisi, yang juga saudara-saudara seiman, mau sedikit meluangkan waktu membaca sebagian lirik-lirik lagu dalam album Laskar Cinta, dengan penuh ketelitian dan sedikit perenungan. Lirik-lirik tersebut memuat dengan kental luapan cinta kepada Sang Khalik, juga usaha penulis untuk melakukan ‘’sedekah'’ bagi-Nya. Bukankah sedekah yang tulus dan tersembunyi lebih bermakna, meski perlu waktu untuk mengetahuinya dengan jelas.
Mungkin di telinga sebagian pendengar lagu-lagu Dewa, cinta yang temaktub adalah sangat rendah maknanya, sangat duniawi, tapi bagi mereka yang cermat tentu akan menemukan ‘’cinta'’ kepada-Nya. Ini dapat disimak dari lirik lagu Pangeran Cinta antara lain ‘’siapa yang masih tinggal dan eksis di saat semua ciptaan musnah'’, bukankah Dia Allah yang Hayyun Qayyum (QS. 55:27). Apresiasi akan sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Bukhari, juga telah mendorong penulis untuk menulis lirik lagu Satu. Demikian juga lagu Hadapilah dengan Senyuman adalah inspirasi dari sabda junjungan kita Muhammad SAW tentang mulianya sedekah dengan senyuman serta diilhami firman Allah tentang dosa putus asa (QS 12:87).
Kekaguman kepada Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyah, membawa penulis kepada perenungan tentang pengabdian kepada Allah tanpa pamrih, menginspirasi penulis mencipta lagu yang saat ini tengah populer dibawakan Chryse. Memang harus saya akui ada lirik-lirik komersil yang sengaja saya selipkan dalam beberapa lagu.
CONTRA EFFECT LASKAR
Dalam keadaan semacam itu, perilaku menginjak-injak kemuliaan Allah yang sangat penulis yakini sebagai pembimbing hidup satu-satunya, adalah suatu hal yang kontradiktif dengan keimanan penulis sendiri. Demi Allah Yang Maha Tahu, peristiwa di Trans TV itu murni akibat ketidak-mengertian kawan-kawan akan makna sesungguhnya simbol tersebut, bahkan para personel Dewa pun tidak. Semuanya saya simpan dalam-dalam di lubuk hati saya.
Adapun pemakaian simbol mulia, di samping karena memenuhi syarat estetika, adalah dalam rangka ingin memenuhi harapan besar akan tersebarnya kasih sayang Allah ke segenap hati umat manusia. Penulis meyakini akan firman Allah bahwa ‘’Dia adalah Tuhan alam semesta'’(QS. 1:2); ‘’Tidak hanya Tuhan kaum Muslimin semata, tetapi Tuhan semua manusia'’ (QS. 114:1). Lambang bintang delapan melambangkan delapan penjuru angin sebagai simbol ke mana saja kita berpaling di sana ada wajah-Nya (QS. 2:115).
Semua pemahaman di atas adalah murni penafsiran penulis dalam memahami ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah. Penulis tidak bermaksud menggurui, hanya merasa perlu menjelaskan semuanya karena penulis tidak menginginkan musibah ini berkembang menjadi luka membusuk yang tidak saja merugikan penulis sebagai Muslim namun juga mencoreng wajah kita sendiri, dan menanamkan kebencian terhadap sesama. Apapun kekurangan pada diri penulis, penulis adalah saudara seiman, dan menyembunyikan aib sesama kaum beriman itu suatu perbuatan mulia. Adapun judul album Laskar Cinta sama sekali bukan sebuah satire untuk Laskar Jihad yang sangat terkenal, namun murni idiom saya dan beberapa sahabat yang perduli dan tergugah tatkala sering mendengar, melihat, dan membaca betapa kata ‘’laskar'’ sering diartikan secara sepihak dengan konotasi negatif, oleh sebagian kalangan. Jihad sendiri terlalu sering diberi makna sempit sebagai perang, dan dikaitkan dengan tindakan-tindakan anarkhis oleh mereka yang tidak memahami maknanya yang hakiki.
Maka penulis dan beberapa sahabat mencoba menawarkan sebuah oase kesejukan dengan menggabungkan kata ‘’cinta'’ dan ‘’laskar'’, tentunya juga bukan cinta dalam artian sempit seperti yang selama ini populer. Penulis berharap dengan demikian ada contra-effect yang ditimbulkan (tentu dalam jangka panjang) hinga tidak selamanya kata ‘’laskar'’ harus bersanding dengan kata ‘’jihad'’ dalam artian sempit.
Penulis sungguh sangat menyesalkan tulisan yang mebenturkan penulis dengan saudara-saudara sesama Muslim, juga terhadap Laskar Jihad yang secara pribadi penulis tidak pernah menaruh kebencian kepada mereka sedikit pun. Apalagi secara jujur harus penulis akui bahwa saudara-saudara yang tergabung dalam Laskar Jihad telah banyak berbuat untuk umat ini dibandingkan sumbangsih penulis pribadi.
Penulis juga bertekad untuk selalu mencoba berdiri di atas dan untuk semua golongan. Namun sebagai individu Muslim, penulis berkeinginan untuk bebas mengutarakan cita-cita mulia tersebut tanpa harus mengorbankan saudara-saudara yang sangat penulis sayangi. Terlepas dari itu semua penulis secara pribadi menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun atau pihak manapun yang merasa tersinggung akan ucapan atau tindakan penulis selama ini. Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih atas tegur sapa, juga kritik membangun yang ditujukan kepada penulis dan Dewa. Insya Allah, penulis akan berusaha berbuat lebih baik lagi bagi agama, bangsa, dan negara tercinta.
Khusus kepada Bapak D Sirajuddin AR, penulis sampaikan syukran atas husnuddzon-nya. Allah merahmati kita semua dan sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha pengasih. Penulis akan nukil beberapa bait puisi Rumi untuk kita renungkan:
Ketahuilah, bahwa segala yang kasatmata adalah fana,
Tapi dunia makna tak akan pernah sirna.
Sampai kapankah engkau akan terpikat oleh bentuk bejana?
Tinggalkanlah ia:
Pergi, airlah yang harus engkau cari!
Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan.
Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang.
@@@@@@
Comment by DianR — 24 April 2005 @ 03:28
MAJU TERUS DEWA!!
Comment by hazairin — 24 April 2005 @ 04:18
tanggapan Dani bagus, menurut saya semua masalah akan lebih cepat selesai dengan baik jika kita lebih bijaksana menyikapinya, bagi pihak FPI dan yang lainnya sampaikanlah teguran anda ke pihak DEWA dengan sebaik-baik menyampaikannya dan kepada pihak DEWA lebih berterimakasih sudah di tegur dan di ingatkan bahwa sesama muslim adalah saudara, semoga semuanya bisa diselesaikan dengan baik
Comment by saudara seiman — 28 April 2005 @ 10:47
Hey F.P.I. nggak punya kerjaan yach? palingan lo klo dikasih cd originalnya dewa lo nggak bakalan nolak kan? F.P.I , cemen lo man………!!!!!! MAJU TERUS DEWA,ANGGAP SAJA ITU HANYA ANJING YANG JEALOUS AMA SUKSESNYA KALIAN…….
Comment by d19 — 22 June 2005 @ 10:49
DEWAAAAAAA…..Banget githo loh..!!!!
Keep smile…
kepada siapapun..haruslah bersikab bijak…kita punya akal dan hati..bukan karena merasa benar.. kita tidak boleh menJUSTICE sesuatu tanpa harus mendengar dan mengerti dahulu apa dan bagaimana alasanya…ketika jiwa sudah merasa paling benar benar maka yang ada adalah kebodohan… Saya mengingatkan bukankah islam itu untuk semua orang..bukan untuk organisasi atau group.. Nggak usah ngurus masalah sepele, urus saja kebobrokan umut
Comment by Sofyan Arif — 25 June 2005 @ 10:16
wahh finally i found blog baut dewa.. do write more dude..
Comment by dcharmed — 11 July 2005 @ 13:58
wah FPI tu arti sebenarnya bukan FRONT PEMBELA ISLAM tapi FRONT PERUSAK ISLAM!!!! MENGUCAPKAN NAMA TUHAN DISELINGI NAFSU AMARAH SETAN DAN MEMBUAT KERUSAKAN DI DUNIA MANGATASKAN KEBENARAN NAFSU…tapi maklumlah anak kecil yg krg paham kan slalu protes klo ada yg g sama pd pemikiran mereka!!!!bener g ??????
Comment by Si kecil dyaz — 17 May 2006 @ 15:15
Lain kali kalo bikin lagu jangan lupa disisipin lirik ” Ahmad Dhani Babi si jenggot kambing, perasaan master, sok suci, sok berwibawa, adalah si dewa Cabul.”
(sori ya bila liriknya kurang keras)
Comment by Edu Medan — 5 October 2008 @ 11:28