Perseteruan antara Dewa dengan FPI (Front Pembela Islam) semakin hari kian panas dan masalah ini sudah sampai ke pihak kepolisian. Menurut pendapat saya sih sebenarnya masalahnya kan sudah selesai. Sikap arogansi FPI dengan tindakan yang kurang mengesankan sebagai ormas Islam sungguh sangat disayangkan. Betapa tidak, pengerahan massa dan berbagai ancaman yang ditujukan kepada Dewa (khususnya Dhani) seharusnya tidak perlu terjadi. Ancaman akan memboikot serta melakukan sweeping Album Laskar Cinta, konser-konser Dewa, dan yang lebih parah ancaman terhadap keselamatan para personel dan menejemen Dewa.

MUI mengeluarkan pernyataan sikap, terkait dengan perseteruan antara grup musik Dewa dan FPI pimpinan Habib Rizieq. Pimpinan FPI belum puas.
Sebab, logo pada sampul album Dewa terakhir bertajuk Laskar Cinta berupa kaligrafi bintang segi delapan bisa diterima oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI justru mempersoalkan foto awak Dewa yang bertato.

tatto

MUI mengeluarkan sikap setelah Dewa dan Front Pembela Islam (FPI) bertemu di kantor MUI di Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (26/4). Kru Dewa datang lebih dulu pukul 11.55. Mereka adalah Ahmad Dhani, Once, Tyo Nugros, Andra, dan Yuke. Mereka didampingi pengacara Habib Umar Husein.

Rombongan FPI menyusul tak lama kemudian. Rombongan FPI pimpinan Habib Rizieq ini datang dengan belasan sepeda motor dan empat mobil, dua di antaranya Mikrolet.

Entah khawatir bertemu rombongan FPI, Dhani tidak bersedia memberikan keterangan kepada wartawan. Hanya pengacaranya memberikan keterangan, itu pun sangat singkat. Tapi Dhani meminta wartawan memawancarai di studio Dewa di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Sikap atau keputusan MUI dibacakan oleh Umar Shihab (ketua), didampingi Asmuni Abdul Rahman (ketua) dan Din Syamsudin (sekretaris). Poin pertama terkait dengan penampilan Dewa di Trans TV pada Minggu 10 April 2005. Lewat konser ekskslusif di Trans TV, Dewa dituding FPI telah menginjak-injak kaligrafi Allah. Sebab, Dewa tampil di atas karpet merah bertuliskan kaligrafi yang mirip dengan sampul cover album terbarunya.

“Berdasarkan informasi dari Dewa, mereka sudah meminta maaf kepada umat Islam. Kami menilai sebagai muslim dan tata cara dalam agama Islam, seseorang yang meminta maaf itu seharusnya dimaafkan. Sebab, dalam ajaran agama, yang lebih utama memberi maaf, bukan meminta maaf,” kata Umar Shihab.

Poin kedua menyangkut logo bintang segi delapan yang menjadi logo album Laskar Cinta. Menurut penilaian MUI , tidak ada larangan untuk menempatkan logo Allah pada suatu cover atau suatu kegiatan. Artinya, itu tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. “Karena itu kami melihat bahwa isi dari kaset ini tidak ada yang bertentangan dan logo ini bisa jalan terus,” katanya.

Logo tidak menjadi masalah. Tapi, kata Umar Shihab, MUI meminta Dewa segera mencabut gambar yang ada di cover. Gambar itu menunjukkan para personil Dewa memakai tato. “Gambar ini bisa disalahpahami orang, karena menempatkan lafadz Allah di dada orang-orang yang bertato. Walaupun mungkin orang-orangnya tidak bertato, tapi gambar ini memperlihatkan tato. Karena itu MUI minta gambar ini dicabut,” tegas Umar Shihab.

Pada poin ketiga, MUI meminta masalah ini diselesaikan secara islah. Karena itu MUI akan menjadi mediator dengan mempertemukan Habib Rizieq (pimpinan FPI) dan Ahmad Dhani (pimpinan Dewa). “Hal ini dilakukan untuk mencari jalan keluar sebaik-baiknya, demi kemaslahatan bersama dan ini telah disepakati bersama,” tandas Umar yang mengatakan rencananya akan dilakukan dalam waktu dekat.

Sementara Habib Rizieq yang dihubungi semalam menegaskan bahwa FPI dan ormas Islam mendukung keputusan MUI. Tapi ia juga mengatakan bahwa keputusan MUI itu belum menuntaskan masalah. Sebab, yang diinginkan oleh FPI justru logo bintang segi delapan itu dicabut atau dimodifikasi sebagaimana sudah disarankan kepada Ahmad Dhani.

“Kita mendukung langkah MUI. Artinya selangkah lebih maju. Tapi kalau membuat pernyataan jangan setengah-setengah seperti ini. Siapa yang berani menjamin tidak akan ada lagi penistaan asma Allah? Kalau logo kaligrafi Allah tidak dicabut atau dimodifikasi, apakah MUI berani menjamin tidak akan ada lagi penistaan. Sebab, bila logo ini tetap dibiarkan akan kembali terjadi penistaan,” katanya.

“Logo itu tetap akan muncul di diskotek, pub, kafe, atau nigth club. Hal itu akan terjadi bila Dewa tampil di tempat-tempat itu. Apalagi peralatan musik mereka ada yang pakai logo asma Allah, apa ini bukan penistaan. Apa pantas Asma Allah yang begitu mulia berada di tempat seperti itu. Tempat-tempat seperti itu dan dunia entertaiment itu merupakan kemaksiatan,” kata Habib.

Lebih lanjut Habib Rizieq mengatakan, tuntutan mereka hanya sederhana cabut logo itu. Bila hal itu dipenuhi, pihaknya juga bersedia mencabut laporan mereka ke polisi.

“Sederhana kan? Kalau mereka beralasan kaset sudah beredar, itu bisa dibicarakan. Yang sudah telanjur beredar tidak masalah, mungkin untuk kemudian hari tidak memakai logo itu lagi. Kita juga tidak ingin membuat rugi usaha orang. Sekarang kuncinya niat Dhani saja. Mau mencabut logo itu atau memodifikasi seperti yang kami tawarkan. Kalau ia bersedia, besok semuanya beres, kami langsung cabut tuntutan kami. Selesai!” ujar Habib Rizieq.

Rizieq kemarin sudah menyambangi kantor PT Aquarius Musikindo (produser) dan PT Djarum Super (produsen LA Light) selaku sponsor. Tapi, kata Rizieq, mereka meminta waktu untuk memberikan jawaban terkait tuduhan FPI ikut serta melakukan penistaan agama.

Habib Umar (pengacara Dewa) menegaskan bahwa Dewa mematuhi keputusan MUI. “Kami menyerahkan semua seperti yang dikatakan MUI. Kami juga bersedia melakukan pertemuan dengan FPI seperti yang telah diputuskan MUI,” katanya.

Sampai semalam, Dhani tidak memberikan komentar. Di studio, ternyata Dhani tak hadir, sebagaimana dijanjikan. Dewa hanya diwakili oleh Habib Umar Husein dan Dian Rahmaniar (staf manajemen Dewa). “Dhani belum bersedia memberikan komentar karena dia ingin cooling down dulu setelah MUI mengeluarkan pernyataan,” kata Habib Umar.

Sementara rumah Dhani di Jalan Pinang Mas, Pondok Indah, sejak Senin (25/4) dijaga superketat, baik oleh polisi maupun oleh marinir. Menurut Habib Umar, penjagaan ini merupakan antisipasi terhadap hal-hal yang tidak dinginkan. “Kami memang meminta bantuan keamanan dari polisi untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak dinginkan terkait dengan masalah ini,” tandas Habib.

Huh !!! Sungguh naif sekali dan sikap arogansi berlebihan yang ditunjukkan oleh FPI tidaklah pada tempatnya. Masih ingat berita dengan judul “Laskar Cinta Sensasi Kebablasan Dewa” yang dimuat di media-media beberapa hari yang lalu. Nah mungkin sekarang yang paling tepat adalah “FPI Fanatisme Kebablasan”. Mungkin juga patut dijadikan pegangan oleh semua manusia (khususnya umat Muslim) bahwa Allah Maha Pengampun dan Pemaaf. Masih ingat dengan beberapa lirik di bawah ini … !!

“…hadapi dengan senyuman semua yg terjadi biar terjadi. Hadapi dengan tenang jiwa semua ‘kan baik-baik saja…”

“…Tuhan anugerahi sebuah cinta kepada manusia untuk dapat saling menyayangi. Bila kebencian meracuni tak’kan ada jalan keluar, damai hanya jadi impian…”

“…Kita tak’kan bisa berlari dari kenyataan bahwa kita manusia tempatnya salah dan luka…”

“…Bila … kamu bisa ‘tuk memaafkan atas kesalahanan manusia yang mungkin tak bisa di maafkan. Tentu Tuhan pun akan memaafkan atas dosa yang pernah tercipta yang mungkin tak bisa diampuni”

Atas Nama Cinta

news was taken from Kompas