Film Gie by Miles Film

13 July 2005

Film yang mengisahkan sekelumit perjalanan tokoh “pemberontak ketertindasan” tempoe doeloe akan segera rilis besok 14 Juli 2005. Film garapan rumah produksi Miles Film yang di sutradarai oleh Riri Riza ini diperankan oleh Nicholas Sahputra (yang dikenal sebagai pemeran Rangga dalam film AADC) sebagai tokoh utama Soe Hok Gie.
Film yang dikabarkan menelan dana sekitar 7 miliar ini di produseri oleh Mira Lesmana yang juga menjadi produser film-film laris seperti Petualangan Sherina dan AADC.
Siapa tokoh ini? Mengapa begitu penting hingga difilmkan? Memang sosok Gie begitu fenomenal dan menjadi salah tokoh pemuda yang sarat dengan kritik sosial akan perubahan di era ‘66. (Lihat sedikit tentang Gie di salah satu artikel yang pernah saya posting atau Blog Jay).

Untuk lebih memberi greget pada film ini, Miles Films meluncurkan album “soundtrack” film “Gie” dengan lagu unggulan “Gie” dan “Cahaya Bulan” yang digarap oleh Eross Sheila On 7. Dipilhnya Eross untuk mengisi soundtrack pada film ini karena lagu-lagu ciptaannya yang jujur sesuai dengan karakter Soe Hok Gie, menurut Mira. Lirik-lirik lagu Gie bercerita tentang sosok Gie yang semangat juangnya selalu menjadi sumber inspirasi. (Lagu Gie bisa di download disini). Lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang teman bernama Octa.

Saat meriset Soe Hok Gie, Mira dan Riri mewawancara begitu banyak teman sang tokoh. Selama dua tahun, mereka mencoba untuk mencari gambaran utuh tentang Soe Hok Gie. Namun, yang didapat tidak selamanya mendukung apa yang mereka cari. Riri sebagai sutradara dan penulis skenario awalnya memasukkan semua hal yang menarik. Alhasil, draf skenario pertama baru habis dibaca dalam waktu 4 jam. Pelan-pelan, Riri mencari fokus dan mencopot satu per satu karakter sambil terus mengembangkan yang memang diperlukan.
Setelah memutuskan berhenti untuk mencari tahu Gie lewat orang-orang yang dikenalnya, Mira dan Riri kembali membuka Catatan Seorang Demonstran, menjadikannya sebagai basic untuk penulisan cerita dan kemudian mengintrepretasinya.

Film Gie

Gie boleh dibilang film paling berat yang diproduksi Mira. Namun, menurut Mira, berat tidak diartikan sebagai terbebani, tetapi berat yang menantang. Mira juga sanagt optimis sekali kalau film ini akan meraih sukses melebihi film AADC.
Optimisme Mira barangkali patut digarisbawahi. Saat layar lebar didominasi film-film remaja yang “tidak berisi”, Mira dan timnya berani mengajukan sebuah alternatif, sebuah tontonan yang bisa jadi dipandang berat bagi banyak orang muda—yang menjadi target utamanya. Alternatif yang diberikan Mira, Riri, dan rekan-rekannya ini mungkin bisa menggeser paradigma soal peristiwa kelam 1965 yang dulu hanya diketahui lewat film G30S/PKI yang diputar setiap tahun.
Atau, yang tadinya tidak mengenal Soe Hok Gie bisa mengetahui bahwa ada sosok pemuda yang tidak cuma memikirkan kesenangan duniawi dan diri sendiri. Ada sosok pemuda yang sejak kecil telah tertantang untuk berpikir tentang orang banyak, mencari sebab dari permasalahan, menganalisisnya, dan kemudian bersikap.

Mudah-mudahan, kita semua jadi tahu siapa Soe Hok Gie, dan bukan cuma memburu kebintangan seorang Nicholas Saputra.

Nonton bareng yukk !!! ;)

Download lagu “Gie”

20 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://fendra.blogsome.com/2005/07/13/film-gie-by-miles-film/trackback/

  1. abis baca profil Gie yg pernah elo tulis, gue jadi tertarik pengen liat filmnya. sptnya filmnya bakal bagus, smart, ‘berat’, tapi ga meninggalkan sisi romantis & puitis. krn yg bisa gue bayangin ttg sosok Gie ya kek begitu… bener gag yaa? jadi pengen nontooon.. ahak ^_^ *bosen sama film2 remaja yg ceritanya gitu2 ajah mirip sinetron*

    Comment by its — 14 July 2005 @ 15:01

  2. ah.. ita tertarik sama tulisannya atau tertarik sama orangnyaaaaa (yg punya blog maxudnya :p) ?

    Comment by nuniek tirta — 15 July 2005 @ 14:43

  3. its : Profil Gie yang pernah saya posting hanya sekitaran saat-saat hari kematiannya datang, yaitu di G. Mahameru. Mungkin untuk Film-nya pasti lebih lengkap tentang perjalanan hidupnya. Wah … pasti seru. Aku juga menunggu-nunggu film ini loh.

    nuniek irta : Ah … nuniek bisa aja. :)

    Comment by Indra Wahyudi — 16 July 2005 @ 00:17

  4. udah nonton dooooong…. ^_^
    spt yg udah diduga, filmnya bagus :) baca review-nya di blogku yah *promosi* :P

    nuniek: halah! :P

    Comment by its — 18 July 2005 @ 10:00

  5. Hello .. ternyata penggemar berat Soe juga… ya gw sich terus terang lebih tertarik karakter Soe sendiri yg banyak dapat kulihat persamaan di antara kaum muda jaman skrg.. sekedar sharing aja.. omong2 sinopsis-nya bagus lo!

    Comment by Norman — 20 July 2005 @ 23:00

  6. waaa… lagu GIE ngga bisa di donlod :(

    Comment by indigowine — 26 July 2005 @ 17:10

  7. GIE gue banget!!!

    Comment by diana — 27 July 2005 @ 15:43

  8. wew, meskipun belum pernah nonton dan kelihatannya begitu antusis mulai dari cerita plus heboh bgt dag …

    lebih nunjukin gmana sisi mahasiswa yang sebenarnya, dan membuat semua orang ingat kalo keadilan harus terus diperjuangkan dan sejarah harus terus ditegakkan.

    Comment by nando — 2 August 2005 @ 18:36

  9. ini film keren banget.bikin gue jatuh cinta sama Gie.coba ada titisannya ya…mungkin banyak yang bilang kalo Gie ini film berat.tp gue sama skali gak akan keberatan kalo diajak nonton film ini lagi,lagi dan lagi..
    two thumbs up!

    Comment by dewi — 2 August 2005 @ 20:02

  10. Film Gie, menurutku bagus, tapi karena durasinya yang lumayan lama, yaitu 2 jam 27 menit jadi agak bikin orang ngantuk. Untuk nonton film ini dibutuhkan konsentrasi yang lebih kalau dibandingkan sedang nonton film lain, karena untuk mengenal karakter lebih jauh tentang sosok Gie itu yang sebenarnya. Tapi untuk keseluruhan TOP BGT….!!!!! Salutau aja buat all crew dari film ini, karena untuk membuat film yang sebagus ini juga dibutuhkan suatu kerja keras.

    Comment by Atiek WH — 4 August 2005 @ 12:07

  11. Like this film so much…
    Pertama kali muncul di sebuah koran dengan berita pencarian pemain untuk proses film So Hoe Gie, terus terang aq langsung tertarik karena aq tau ada nilai historis di dalamnya..
    Aq tunggu sampai waktu kemunculannya dan akhirnya bisa juga aq menyaksikan sejarah tersebut dalam kemasan sebuah film yang menjadi lebih menarik dan tentu saja menjadi lebih mudah dicerna.. Selain itu entah keajaiban darimana yang setelah menontonnya semangat patriotisme dan rasa cinta akan Indonesia seakan menjalar merayap menuju pikiran kita sendiri, benar - benar film wajib nonton bagi semua kalangan agar mata kita lebih terbuka dalam menghadapi INDONESIA..
    SALUTE FOR THE FILM MAKER!!!!

    Baik dari segi manajemen produksi, casting, dialog, aktor, artistik dan cinematograghy, everything is great.. 5 Star for that & Two Thumbs Up..

    Comment by eLsYe_boNdoL — 6 August 2005 @ 00:42

  12. koq nggak bisa di download ya lagunya?
    thx.

    Comment by lollita — 8 August 2005 @ 18:35

  13. kerennnnnnnnnnn abuissssss!!!!
    TOP banget salut buat riri!!
    nicholas finnally u got me…

    Comment by nana — 10 August 2005 @ 14:26

  14. iya awalnya gw denger lagunya pas lagi mo muter di rdio gw,…truus gw tanya gie apaan? ga tau nya film ini,..jujur gw blom nonton filmnya,..tapi lirik lagu gie gue suka banget,….ntar pasti gw tonton de!!

    Comment by jenny — 14 August 2005 @ 13:34

  15. Film Gie,,
    menurut gue filmnya memperlihatkan sosok gie yang pendiem ya,,,

    terus kurangnya lagi, sejarah dy di MAPALA UI kurang begitu dibahas.

    Tapi,,,
    SUMPAH,,, filmnya keren banget. gue suka banget.

    setting/latarnya dibuat sedemikian rupa kayak asli jaman dulu.

    Comment by sari/inex — 14 March 2007 @ 12:20

  16. apa ya….aku juga gak tau c mo ngomong apa coz aku juga blom nton koq he.he KATROK y!!!!

    Comment by intan — 17 April 2007 @ 13:47

  17. Gie itu sebetulnya hasil salah tafsir sutradaranya.
    Bagaimana bisa sebuah film ‘berpihak’ kalau sutradaranya sendiri tidak berpihak. Akhirnya, jadilah Gie (dalam film) dan Nicholas Saputra kebingungan, seperti misalnya waktu ditanya, “Gie, kamu itu kiri atau kanan sih?”

    Apa jawabnya? Wajah Nico yang bengong dan Herman Lantang yang berlagak laksana preman menghentikan ‘diskusi’ itu.

    Gie adalah orang yang kecewa dengan pilihannya dan keyakinannya. Berusaha membalikkan apa yang dulu didukungnya, tapi ternyata dia sendiri bukanlah pencipta perubahan itu, ketika dia ingin membalik, dia tidak punya daya apa-apa.

    Nah, salah besarnya sebetulnya adalah penggambaran Indonesia periode sejarah itu. Ini udah salah kaprah. Seperti seolah-olah sejarah standar versi pemerintah itu sudah benar dan tak terbantahkan. Misalnya bahwa PKI lah yang melakukan pemberontakan.

    Di titik itu, sebuah peran krusial sebuah film ‘pop’ sebetulnya penting. Ia harus menjelaskan dirinya, di mana posisinya dalam memandang peristiwa sejarah yang digambarkannya. Iya, betul, ada pemberontakan berdarah, ada jenderal diculik dan dibunuh. Tapi film ini mau bilang, ini peristiwa apa? Pemberontakan komunis? Kudeta merangkak Jenderal Soeharto? Jebakan bagi PKI untuk dihancurkan? Perangkap CIA dan MI-6 untuk merubuhkan Soekarno dan gerakan dunia ketiganya?

    Di mana posisi Gie yang saat itu dekat sekali dengan orang-orang PSI, para perancang Orde Baru?

    Bagaimana posisi sutradaranya?

    Yang patut disyukuri dari film ini adalah pengungkapan bahwa terjadi pembantaian besar-besaran, tanpa pengadilan, oleh tentara terhadap orang yang dituduh sebagai komunis. Dan ini disadari salah.

    Tapi yang mengecewakan saya, dalam interview di film ‘The Making of Gie’ karya sutradara Malaysia, Riri, sutradara Gie mengatakan bahwa tidak mengherankan jika ada bahaya laten PKI, soalnya dulu mereka dikejami.

    Satu hal, bahaya laten PKI itu hanyalah omong kosong militer orde baru, sebuah alasan untuk terus merepresi pendapat atau kritik yang dianggap membahayakan kekuasaan.

    Dan bahaya laten PKI bukanlah sebuah upaya balas dendam kaum komunis Indonesia. Kaum komunis Indonesia praktis hancur pasca 65, berikut juga dengan kekuatan organisasi rakyat, buruh, dan tani.

    Nah, lumayannya dia berbicara soal pelanggaran HAM berat oleh negara (tentara dan orde baru) yang jarang diungkap dalam film Indonesia. Parahnya, dan dosa ini jauh lebih besar, film ini sama sekali tidak berusaha menerangkan kaitan penculikan dan pembunuhan jenderal, G30S dalam sejarah kolonialisme dan neo-kolonialisme.

    Film ini tidak memposisikan ‘proyek’ yang dilakukan Gie dan kawan-kawannya, dalam sejarah Indonesia sampai hari ini.

    Kalau menurut Anda, sampai hari ini negara kita masih saja belum ‘merdeka’, kira-kira kenapa?

    Comment by Johny Prabowo — 12 June 2007 @ 12:38

  18. gimana cara downloadn nya nich?

    Comment by rusman — 14 September 2007 @ 17:09

  19. teruskan perjuang GIE, jangan nOdai perjuangannya…
    PRESIDEN BUKAN DEWA YANG SELALU BENAR,DAN RAKYAT BUKAN KERBAU YANG SELALU MENURUT APA KATA PENGEMBALANYA,,,

    Comment by fajar — 16 September 2007 @ 21:22

  20. pemimpin adalah dari rakyat untuk rakyat..berbuat untuk rakyat bukan meraib keuntungan dengan menjalankan metode-metode syetan di belakang layar…mari melanjutkan perjuangan GIE…Allahu akbar…”’

    Comment by p-man — 2 November 2007 @ 08:45

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.