Kota Batu - “De Kleine Switzerland”

16 July 2005

Kota batu Kota Batu sudah terkenal sejak abad ke IX akhir Masehi, sebagai Kota Wisata karena keindahan pemandangan alamnya. Kota yang terletak sekitar 19 km sebelah barat Kota Malang dan memakan waktu kurang lebih 2 jam dari Kota Surabaya ini memiliki ketinggian antara 680 m sampai 1700 m diatas permukaan air laut serta suhu udara berkisar antara 15 sampai dengan 19o Celcius. Udara segar nan sejuk dan dikelilingi bukit-bukit indah menjadi daya tarik tersendiri jika dibanding kota-kota lain di Indonesia. Kota Batu yang pernah dijuluki ” De Kleine Switzerland ” atau Swiss Kecil di Pulau Jawa mempunyai banyak potensi wisata menawan, antara lain seperti Lembah Songgoriti, Pasar Malam, Wisata Wana, Selecta, Wisata Desa, Jawa Timur Park, Wisata Bangunan Kuno, Wisata Agro dan masih banyak lagi.

Legenda Asal Usul Nama Batu

Candi Supo Sejak abad ke-X, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan, karena wilayah adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan. Pada waktu pemerintahan Raja Sindok (Mpu Sendok), seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, guna menemukan tempat peristirahatan seperti yang diinginkan oleh Raja, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan di wilayah Songgoriti yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti. Atas persetujuan Raja, Mpu Supo yang konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan serta dibangunnya sebuah candi yang diberi nama Candi Supo. Sebagaimana keinginan Raja bahwa ditempat peristirahatan dimaksud harus terdapat sumber atau dekat dengan mata air, maka ditempat peristirahatan itupun terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari Kerajaan Sendok. Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural (Magic) yang maha dasyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk akhirnya berubah menjadi sumber air panas. Dan sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Gunung Panderman Wilayah Kota Batu yang terletak di dataran tinggi di kaki Gunung Panderman dengan ketinggian 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut, berdasarkan kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak keberadaannya, sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama “BATU” mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut. Dari beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu. Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat bila memanggil seseorang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau Batu sebagai sebutan yang digunakan untuk Kota Dingin di Jawa Timur.

Sedikit menengok ke belakang tentang sejarah keberadaan Abu Ghonaim sebagai cikal bakal serta orang yang dikenal sebagai pemuka masyarakat yang memulai babat alas dan dipakai sebagai inspirasi dari sebutan wilayah Batu, sebenarnya Abu Ghonaim sendiri adalah berasal dari Jawa Tengah. Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah di kaki Gunung Panderman ini adalah untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda (Kompeni) terhadap semua pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah pihak Belanda dengan licik dan tipu muslihat berpura-pura mengajak berunding Pangeran Diponegoro. Tetapi ternyata bermaksud untuk menangkapnya dan membuangnya ke Makassar, sehingga Pangeran Diponegoro wafat, kejadian itu diperkirakan setelah terjadi Perang Diponegoro (825-1830).
Songgoriti Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan buruknya bersama dengan masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro, akhirnya banyak penduduk dan sekitarnya dan masyarakat yang lain berdatangan dan menetap untuk berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu. Bermula mereka hidup dalam kelompok (komunitas) di daerah Bumiaji, Sisir dan Temas akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu masyarakat yang ramai. Sebagai layaknya Wilayah Pegunungan yang wilayahnya subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki Panorama Alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad 19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda, sehingga orang-orang Belanda itupun membangun Villa bahkan bermukim di Batu. Situs dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa Pemerintahan Hindia Belanda itupun masih berbekas bahkan menjadi aset dan kunjungan Wisata hingga saat ini. Begitu kagumnya Bangsa Belanda atas keindahan dan keelokan Batu, sehingga bangsa Belanda mensejajarkan wilayah Batu dengan sebuah negara di Eropa yaitu Switzerland dan memberikan predikat sebagai De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa.

Tempat Peristirahatan Bung Karno di Selecta Peninggalan arsitektur dengan nuansa dan corak Eropa pada penjajahan Belanda dalam bentuk sebuah bangunan yang ada saat ini serta panorama alam yang indah di kawasan Batu sempat membuat Bapak Proklamator sebagai The Father Foundation of Indonesia yaitu Bung Karno dan Bung Hatta setelah Perang Kemerdekaan untuk mengunjungi dan beristirahat di kawasan Selecta Batu.

Obyek Wisata Kota Batu

  • Jatim Park Jatim Park :
    Obyek wisata yang paling populer saat ini di Kota Batu. Dengan konsep sebagai Taman Belajar dan Bermain, Jatim Park menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi sekaligus taman belajar.
  • Selecta Pemandian Selecta :
    Selecta dibangun tahun 1928 oleh Royter Dewvild berkembangsaan Belanda, Yang berada di lembah dengan ketinggian 1.100 m dpl. Dengan suhu rata-rata 17 C menempati areal seluas 20 ha. Fasilitas antara lain : Kolam renang, restauran, Bima Sakti Hotel, juga merupakan tempat peristirahatan Pesiden RI Soekarno dan Moh. Hatta. Juga digunakan untuk konsep-konsep kenegaraan.
  • Songgoriti Songgoriti:
    Terletak sekitar 3,5 km dari pusat kota Batu, Songgoriti terkenal dengan sumber air panasnya yang menyehatkan dan wilayahnya yang sejuk. Terdapat juga kolam renang, candi, dan lokasinya yang indah.

Dan masih banyak lagi yang lainnya seperti Wisata Agro, Wisata alam pegunungan, Pemandian air panas dan lain-lain.

Wah … bangganya aku menjadi Wong-mBatu Clink!!

13 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://fendra.blogsome.com/2005/07/16/kota-batu-de-kleine-switzerland/trackback/

  1. Matur nuwun sanget atas ceritanya, insyaAllah bermanfaat.

    Comment by Ema Yunita — 11 August 2005 @ 11:17

  2. dulu saya bangga jadi warga batu, but sekarang saya betul2 prihatin. Pengangguran cukup tinggi. Lapangan pekerjaan di kota batu sangat sempit kecuali tukan ojek ato jadi pegawai pemda dengan KKN puluhan juta. Trus terang kalo anda jalan2 ke kota batu anda akan menemukan kota yang sepi padahal salah satu indikator sebuah kota itu maju adalah adanya keramaian aktivitas ekonomi… tapi batu sekarang sudah sepi kotor lagi… walikotanya enggak mutu walopun S3. Coba dibandingkan dengan kota kudus, pekalongan, purwokerto, tasikmalaya, garut, sukabumi dll wah… jauh… sudah bukan waktunya nostalgia masa lampau… keindahan alam tanpa diiringi kemakmuran hanya membuat kita gigit jari… orang lain yang menikmati keindahan alam kita sedangkan kita sendiri hanya menyaksikan ketidakmampuan diri kita untuk mengunjungi tempat lain yang mungkin memiliki keindahan seperti kota kita… Batu harus bangkit menjadi kota yang maju yg bisa menghasilkan produk berorientasi nasional bahkan internasional… mulai kapan… kalo bisa enggak pakai lama…

    Comment by Ilyas — 9 July 2007 @ 14:47

  3. Batu adalah Kota yang amat menyenangkan untuk dijadikan tempat tinggal. Banyak terdapat tempat Wisata, membuat saya kerasan ada di Batu. Setelah saya membaca berita di atas, saya merasa cukup mengerti dengan Mbatu tempo dulu (asal-usul Kota Mbatu)

    Comment by Peggy — 13 September 2007 @ 14:28

  4. Ass. seneng akhirnya bisa nemu cerita sejarah kota batu. Sbg wong asli mbatu, turut bangga kotaku dipersamakan dengan sebuah negara di eropa.
    Sekalian met kenal ama temen2 mbatu lainnya ya

    Comment by chanang — 24 October 2007 @ 20:24

  5. ak juga bangga jadi wong mbatu, smoga walikota sing anyar ngerti karo wargane
    cah ngisor gunung banyak

    Comment by ari — 8 November 2007 @ 13:25

  6. Kota Batu, kota yang adem biarpun ga seadem dulu… orang2 nya jg adem ayem, apalagi aparatnya…tp lain hal kalo sudah ngomongongin anggaran (APBD)… hawa politiknya jadi panasssssss….. So, rakyatlah yg jadi korban.. Btw, ini memang kota kecil, jadinya ya… mbulet dan ruwet gitu deh. yang “maen” orange itu-itu thok…. AYO, BATU MENGGELIAT AYO…. SEJAHTERAKAN DENGAN ADIL & MERATA WARGAMU….. PERHAPS….

    Comment by doank — 26 February 2008 @ 00:28

  7. 09 Maret 2008, KOMUNITAS PENGGIAT BUDAYA INDONESIA, yg diisi komunitas2 asli dari Kota Batu, dengan ke swadayaan kerja, dengan sedikit dukungan dari fasilitator warga (pemerintah-red), akan menyelenggarakan GEBYAK BANTENGAN NUSWANTARA 2008, sebuah Kolosal Budaya seni Budaya tradisional seni pencak Bantengan, diikuti 1000 banteng se- Malang Raya & sekitarnya. Berpadu bersama REOG, KUDA LUMPING, TEATER “ALIT”, KOMUNITAS MERAH PUTIH, KOMUNITAS NGAGLIK, jg Padepokan Ki Soleh Tumpang… Sebuah Karya fikir anak bangsa… Agus “tobron” sang pelaku budaya Bantengan, seniman… jadilah saksi budaya… Visit Indonesia Year 2008… Visit Bau 2008… welkom..

    Comment by doank — 26 February 2008 @ 00:38

  8. Batu terus kreatif,,,, mandiri,,,, jo tergantung dengan pemerintahhh

    Comment by doank — 26 February 2008 @ 00:41

  9. waduh batu batu… jangan sampek balik ke jaman batu!!!!!! batu kok susah maju2 yah??? cari kerja dikota dw kok susah!!!! longsor.. sampah berserakan.. jalan berlubang…. hutan gundul… tapi kenapa PemKot makin penuh aja???? apa kerja walikota???!! abis kepilih ngapain pak??? bobok yah?? maklum Batu dingin ya pak????…

    Comment by mahe — 13 April 2008 @ 21:12

  10. aku masih bangga menjadi bagian dari kota batu yang aku cintai, meskipun aku jauh dari kotaku. maju terus batu doa ku menyertai

    Comment by toto nggoriti — 17 April 2008 @ 15:50

  11. saya bangga menjadi warga mbatu,krna aq ank songgoriti. biar kcil tpi mbatu kaya wisata men…….!!!

    Comment by jujuk — 4 June 2008 @ 11:18

  12. Saya bkan orang asli kota Batu tapi saya sangat kagum dengan kasrianya blm lg udaranya yang sangat dindin,btw waktu brkunjung k sna saya gak prnah kringatan slma 7 hriiiiiiiii maklum saya asli dari Jambi n udara d sni puanas buaget gak kayak di Batu

    Comment by Andien — 16 July 2008 @ 11:33

  13. Wah jadi nemu ide nih stlh baca sejarah diatas. Saya orang asli Batu, jadi gimana kalo mulai sekarang kita Branding kota batu menjadi Litlle Swiss van Java. Rame-rame kita promosikan kota Batu.

    Comment by Anas — 16 August 2008 @ 19:33

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.