Perdamaian itu datang, laksana embun pagi yang menyirami Bumi Aceh. Perang berkepanjangan yang terjadi selama 30 tahun akhirnya usai sudah. Kini rakyat Aceh pun kembali tersenyum, menyambut mentari dengan penuh harapan. Bagai sebuah titik nadir kepedihan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat Aceh. Sebuah perdamaian yang selama ini diimpikan, didambakan bahkan mungkin menjadi bagian dari do’a seluruh rakyat Aceh akhirnya terwujud. “Mutiara” itu akhirnya dilahirkan, sebuah Nota Kesepahaman atau MoU Damai Aceh ditanda tangani oleh pihak RI dan GAM seakan telah membasuh air mata yang selama ini mengucur di Bumi Rencong.

Penandatanganan MoU Damai Aceh tersebut berlangsung di Helsinki, Finlandia pada hari Senin, 15 Agustus 2005, dua hari menjelang perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-60. Ketua Delegasi Indonesia diwakili oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin sedangkan Ketua Delegasi GAM yaitu Malik Machmud. Sedangkan sebagai fasilisator adalah Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia yang kini menjadi Chairman CMI Finlandia. Peristiwa bersejarah untuk rakyat Aceh tersebut juga disaksikan secara langsung oleh Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta.

Beberapa inti MoU Damai Aceh tersebut adalah:

  1. Pemerintah Indonesia menarik pasukan TNI dan Polri non organik dari NAD paling lambat akhir tahun 2005.
  2. GAM menyerahkan dan memusnahkan senjatanya.
  3. Pemerintah Indonesia memfasilitasi pembentukan partai politik lokal di Aceh setahun setelah penandatanganan nota kesepahaman.
  4. Amnesti akan diberikan kepada anggota GAM dan tahanan politik lainnya dua minggu setelah penandatanganan MoU Damai Aceh.
  5. Pembentukan Pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh.
  6. Tim pemantau MoU Damai Aceh berasal dari Uni Eropa dan ASEAN.

Sebelumnya, telah ada beberapa perjanjian damai seperti Jeda Kemanusiaan I dan II, atau COHA, namun tidak mampu menghentikan konflik di Aceh. Semoga dahaga yang selama ini dirasakan oleh rakyat Aceh dapat tersejukkan. Masih terngiang ditelinga jeritan-jeritan di bumi Aceh tatkala bencana Tsunami telah membumi hanguskan Bumi Rencong. Sudah saatnya Aceh tersenyum, menata kembali kehidupannya. Antusiasme rakyat Aceh terhadap penandatanganan kesepakatan damai begitu penuh harap. Sehari menjelang hari bersejarah tersebut, masyarakat menyambutnya dengan gembira, baik melakukan kegiatan doa bersama sebagai tanda kesyukuran kepada Allah SWT, maupun melakukan aksi damai, dan kegiatan kesenian. Doa bersama yang dihadiri ratusan masyarakat tersebut sudah digelar di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Damai Aceh … semoga tetes air matamu kini adalah tetes air mata kebahagiaan. Bangunlah Aceh … wujudkan mimpi-mimpi indahmu.

Air mata yang telah jatuh membasahi bumi
takkan sanggup menghapus penyesalan
Penyesalan yang kini ada jadi tak berarti
karena waktu yang bengis terus pergi

Menangislah bila harus menangis
karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka manusia pasti menangis
dan manusiapun bisa mengambil hikmah

Dibalik segala duka tersimpan hikmah
yang bisa kita petik pelajaran
Dibalik segala suka tersimpan hikmah
yang mungkin bisa jadi cobaan

song by Dewa

Selamat bertugas di Aceh kawanku
semoga pengabdianmu mampu menghilhami Damainya Boemi Atjeh