<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Puncak Abadi Para Dewa Comments</title>
	<link>http://fendra.blogsome.com</link>
	<description>The Sweetest Place For Barring My Feeling</description>
	<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 02:28:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: iskandar zulkarnain</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/07/31/selamat-ulang-tahun/#comment-2147</link>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 09:23:01 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/07/31/selamat-ulang-tahun/#comment-2147</guid>
					<description>Bagus juga pesen yg disampaikan,pinjem kata2nya ya..thx</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Bagus juga pesen yg disampaikan,pinjem kata2nya ya..thx
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: dick</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/03/27/antara-soe-hok-gie-dan-puncak-mahameru/#comment-2146</link>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 13:52:44 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/03/27/antara-soe-hok-gie-dan-puncak-mahameru/#comment-2146</guid>
					<description>tak bisa berkata apa, gie ..................</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>tak bisa berkata apa, gie &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: ipoeng_redevil@yahoo.com</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2145</link>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 13:04:52 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2145</guid>
					<description>salam rimba.....
alo teman teman kapan mau kesemeru aku ikut....aku pengen skali ni....sebagai sesama pecinta alam psti ngak keberatan kan kl aku ikt...he3x...krm email aj kabari kpn mau berangkat tapi jangan mendadak buat persiapanku nanti.ato sms aj 081649222255...tak tunggu kbar dari teman2 ya....
semeruuuu tunggu akuuuuuu...he3x</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>salam rimba&#8230;..<br />
alo teman teman kapan mau kesemeru aku ikut&#8230;.aku pengen skali ni&#8230;.sebagai sesama pecinta alam psti ngak keberatan kan kl aku ikt&#8230;he3x&#8230;krm email aj kabari kpn mau berangkat tapi jangan mendadak buat persiapanku nanti.ato sms aj 081649222255&#8230;tak tunggu kbar dari teman2 ya&#8230;.<br />
semeruuuu tunggu akuuuuuu&#8230;he3x
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Chaterina Saveline-Semarang, Jateng.</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2144</link>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 17:18:44 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2144</guid>
					<description>Hey, anyone that wanna be my friends, please send me a SMS to : 0817291249. thx...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Hey, anyone that wanna be my friends, please send me a SMS to : 0817291249. thx&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: CHATERINA SAVELINE ANASTASIA KUSUMA W.</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2143</link>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 17:15:49 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2143</guid>
					<description>Mahameru, i love u. I never let u go with anything 4 me. Really, I love u. I like u, love. I want 2 kiss u. forever... I love u, Mahameru...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Mahameru, i love u. I never let u go with anything 4 me. Really, I love u. I like u, love. I want 2 kiss u. forever&#8230; I love u, Mahameru&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: TITISARI WARDANI</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2142</link>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 17:12:11 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2142</guid>
					<description>Mahameru, wait me in ur songs...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Mahameru, wait me in ur songs&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: aris</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2006/07/30/ari-lasso-selalu-ada/#comment-2141</link>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 12:33:31 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2006/07/30/ari-lasso-selalu-ada/#comment-2141</guid>
					<description>aku suka</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>aku suka
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: jujuk</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/07/16/kota-batu-de-kleine-switzerland/#comment-2140</link>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 11:18:17 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/07/16/kota-batu-de-kleine-switzerland/#comment-2140</guid>
					<description>saya bangga menjadi warga mbatu,krna aq ank songgoriti. biar kcil tpi mbatu kaya wisata men.......!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>saya bangga menjadi warga mbatu,krna aq ank songgoriti. biar kcil tpi mbatu kaya wisata men&#8230;&#8230;.!!!
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: ari</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2139</link>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 13:17:49 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/03/18/mahameru-sebuah-legenda-tersisa-puncak-abadi-para-dewa/#comment-2139</guid>
					<description>dan bila matahari terbenam di ufuk tmur,,,itu tnda ku tiada...
dan bila matahari terbenam di ufuk snja itu tnda ku tiada.....di jenjng desember ku datang pdamau kan ku binmbing ke lereng semeru...kubelai rmbut yang hitam kau tersapu malu...kan ku gapai mahameru...burung-burung kan bernyanyi mengiringiku  men</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>dan bila matahari terbenam di ufuk tmur,,,itu tnda ku tiada&#8230;<br />
dan bila matahari terbenam di ufuk snja itu tnda ku tiada&#8230;..di jenjng desember ku datang pdamau kan ku binmbing ke lereng semeru&#8230;kubelai rmbut yang hitam kau tersapu malu&#8230;kan ku gapai mahameru&#8230;burung-burung kan bernyanyi mengiringiku  men
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Yasir Isnan-Purworejo</title>
		<link>http://fendra.blogsome.com/2005/04/13/imam-al-ghozali-abdul-qodir-al-jaelani/#comment-2138</link>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 11:17:51 +0100</pubDate>
		<guid>http://fendra.blogsome.com/2005/04/13/imam-al-ghozali-abdul-qodir-al-jaelani/#comment-2138</guid>
					<description>Di akhir zaman ini, ummat islam terpecah menjadi 73 golongan dan masing-masing merasa paling benar.&quot;  Seperti buih di lautan terombang ambing tiupan angin bertebaran (isu-isu yang bersifat kedajjalan, propaganda, laksana angin barat yang berhembus kencang).  Biarlah pendapat berbeda-beda selama masih bersifat khilafiyyah, asal jangan meributkan tentang prinsip akidah, hukum, dan ketuhanan dengan penafsiran tanpa ilmu.  Janganlah menafsirkan Al Qur’an dan Hadits dengan nafsu. Seperti kejadian di madura yang beberapa waktu lalu ada pendatang yang melakukan sholat tanpa bersedekap lalu dianggap sesat dan dihakimi massa. Karena masyarakat terbelenggu oleh ajaran masing-masing gurunya yang si murid harus taklid dan menganggap ajaran guru tak boleh dikritisi, takut untuk bertanya, sehingga ilmu dari guru tidak bisa turun 100% kepada si murid.  Ini doktrin kebanyakan pesantren-pesantren di tanah air kita yang mana si guru adalah sumber ilmu yang tak mungkin salah.  Dan kebanyakan di pesantren-pesantren tradisional, para murid tak berani bertanya karena takut dianggap tidak loyal terhadap ajaran guru, atau dianggap ‘nranyak’ (tidak etis).  Sehingga banyak terjadi salah paham antara  yang wajib dan yang sunnah.  Yang sunnah seolah banyak terkesan menjadi wajib. Yang tidak melakukan lalu dianggap sesat dan menyimpang.

Kekurang-pahaman mengenai prinsip dasar keislaman inilah yang banyak dimanfaatkan oleh pihak tertentu dan juga berakibat semakin maraknya ajaran sesat, terutama di kalangan civitas akademika yang notabene lebih berpikiran logis tetapi rapuh prinsip sehingga mudah di mind-set dengan doktrin-doktrin baru yang mengemukakan keilmiahan dan kelogisan yang pada hakikatnya adalah rekayasa penafsiran yang tidak jernih dan terkontaminasi nafsu human-feel keiblisan.

Faktor-faktor perpecahan pun dikarenakan pemahaman-pemahaman sempit si pencari ilmu.  Bila sudah belajar pada kyai ANU, tidak mau ilmu dari kyai INI yang lain faham atau madzhab sehingga pikirannya pun menjadi picik dan tidak objective.  Akal ini adalah karunia Allah untuk kita menimbang ilmu, informasi dari berbagai sudut yang kita conform-kan dengan Al Qur’an dan Sunnah.  Kalau hanya mengambil dari satu sudut saja, tentu sangat subjective sifatnya dan egois.  Dalam menafsirkan suatu hadits pun tidak boleh dengan picik.  Misalnya, “Peliharalah jenggotmu”.  Arti kata pelihara itu apa sih? Kalau kita pelihara sapi apa hanya kita biarkan sapi itu tumbuh sendiri, ngeluyur ke sana kemari cari makan sendiri, kita biarkan saja? Pelihara itu, RAWAT, RAPIKAN, yang amburadul dipotong, biar cakep, ganteng, gagah.  Kalau jenggotnya cuma lima helai ya jangan dipanjangkan lah, malah tidak bagus.  Lalu hadits tentang kain sebatas mata kaki, lalu orang-orang pada memotong celananya cungklang-cungklang (jauhdi atas mata kaki), tetapi tetap memakai kaus kaki hingga ke ujung jempol.  Percuma kan? Sudah tidak pantas, percuma pula.  Padahal maksud dari hadits itu adalah ketika itu Baginda Rasul melihat ada ummatnya yang kayaraya, pergi ke masjid, kainnya diangkat oleh para pembantunya karena terlalu panjang sehingga menimbulkan kesan pamer dan kebanggaan duniawi, kesombongan yang timbul.  Oleh karena itu, turun hadits demikian dengan maksud supaya kita itu sepantasnya saja, jangan berlebihan, kain jangan menyentuh tanah (bagi laki-laki) supaya tidak kotor, kena najis, apalagi di gurun pasir.

Memang kemampuan analisis seseorang itu akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang orang tersebut.  Tapi, Allah sudah karuniakan kita akal dan hati, nurani dan ruh illahi.  Tidak cukupkah? Singkirkanlah emosi kebencian, merasa diri paling benar, ngerti kulit tak paham inti dan esensi, apalagi hakikat.  Arif lah dan bijak lah memandang.  Jangan mengkultuskan satu tokoh saja, lalu menganggap tidak betul paham yang lain.  Hanafi, Syafi’I, Hambali, Maliki pun mereka bersahabat, kenapa yang di bawah pada perang dingin? Padahal tak mengenal siapa itu Hanafi, Syafi’i, Hambali dan Maliki.  Jangan bersikap bodoh.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Di akhir zaman ini, ummat islam terpecah menjadi 73 golongan dan masing-masing merasa paling benar.&#8221;  Seperti buih di lautan terombang ambing tiupan angin bertebaran (isu-isu yang bersifat kedajjalan, propaganda, laksana angin barat yang berhembus kencang).  Biarlah pendapat berbeda-beda selama masih bersifat khilafiyyah, asal jangan meributkan tentang prinsip akidah, hukum, dan ketuhanan dengan penafsiran tanpa ilmu.  Janganlah menafsirkan Al Qur’an dan Hadits dengan nafsu. Seperti kejadian di madura yang beberapa waktu lalu ada pendatang yang melakukan sholat tanpa bersedekap lalu dianggap sesat dan dihakimi massa. Karena masyarakat terbelenggu oleh ajaran masing-masing gurunya yang si murid harus taklid dan menganggap ajaran guru tak boleh dikritisi, takut untuk bertanya, sehingga ilmu dari guru tidak bisa turun 100% kepada si murid.  Ini doktrin kebanyakan pesantren-pesantren di tanah air kita yang mana si guru adalah sumber ilmu yang tak mungkin salah.  Dan kebanyakan di pesantren-pesantren tradisional, para murid tak berani bertanya karena takut dianggap tidak loyal terhadap ajaran guru, atau dianggap ‘nranyak’ (tidak etis).  Sehingga banyak terjadi salah paham antara  yang wajib dan yang sunnah.  Yang sunnah seolah banyak terkesan menjadi wajib. Yang tidak melakukan lalu dianggap sesat dan menyimpang.</p>
	<p>Kekurang-pahaman mengenai prinsip dasar keislaman inilah yang banyak dimanfaatkan oleh pihak tertentu dan juga berakibat semakin maraknya ajaran sesat, terutama di kalangan civitas akademika yang notabene lebih berpikiran logis tetapi rapuh prinsip sehingga mudah di mind-set dengan doktrin-doktrin baru yang mengemukakan keilmiahan dan kelogisan yang pada hakikatnya adalah rekayasa penafsiran yang tidak jernih dan terkontaminasi nafsu human-feel keiblisan.</p>
	<p>Faktor-faktor perpecahan pun dikarenakan pemahaman-pemahaman sempit si pencari ilmu.  Bila sudah belajar pada kyai ANU, tidak mau ilmu dari kyai INI yang lain faham atau madzhab sehingga pikirannya pun menjadi picik dan tidak objective.  Akal ini adalah karunia Allah untuk kita menimbang ilmu, informasi dari berbagai sudut yang kita conform-kan dengan Al Qur’an dan Sunnah.  Kalau hanya mengambil dari satu sudut saja, tentu sangat subjective sifatnya dan egois.  Dalam menafsirkan suatu hadits pun tidak boleh dengan picik.  Misalnya, “Peliharalah jenggotmu”.  Arti kata pelihara itu apa sih? Kalau kita pelihara sapi apa hanya kita biarkan sapi itu tumbuh sendiri, ngeluyur ke sana kemari cari makan sendiri, kita biarkan saja? Pelihara itu, RAWAT, RAPIKAN, yang amburadul dipotong, biar cakep, ganteng, gagah.  Kalau jenggotnya cuma lima helai ya jangan dipanjangkan lah, malah tidak bagus.  Lalu hadits tentang kain sebatas mata kaki, lalu orang-orang pada memotong celananya cungklang-cungklang (jauhdi atas mata kaki), tetapi tetap memakai kaus kaki hingga ke ujung jempol.  Percuma kan? Sudah tidak pantas, percuma pula.  Padahal maksud dari hadits itu adalah ketika itu Baginda Rasul melihat ada ummatnya yang kayaraya, pergi ke masjid, kainnya diangkat oleh para pembantunya karena terlalu panjang sehingga menimbulkan kesan pamer dan kebanggaan duniawi, kesombongan yang timbul.  Oleh karena itu, turun hadits demikian dengan maksud supaya kita itu sepantasnya saja, jangan berlebihan, kain jangan menyentuh tanah (bagi laki-laki) supaya tidak kotor, kena najis, apalagi di gurun pasir.</p>
	<p>Memang kemampuan analisis seseorang itu akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang orang tersebut.  Tapi, Allah sudah karuniakan kita akal dan hati, nurani dan ruh illahi.  Tidak cukupkah? Singkirkanlah emosi kebencian, merasa diri paling benar, ngerti kulit tak paham inti dan esensi, apalagi hakikat.  Arif lah dan bijak lah memandang.  Jangan mengkultuskan satu tokoh saja, lalu menganggap tidak betul paham yang lain.  Hanafi, Syafi’I, Hambali, Maliki pun mereka bersahabat, kenapa yang di bawah pada perang dingin? Padahal tak mengenal siapa itu Hanafi, Syafi’i, Hambali dan Maliki.  Jangan bersikap bodoh.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
